Rabu, 30 September 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Misteri Gunung Api

Tak hanya penampakan kasat mata yang tinggi, besar, dan gagah. Gunung api yang biasa meletus pun masih menyimpan banyak misteri. Ingin tahu?

Jumat, 28 Oktober 2022
A A
Ilustrasi gunung api. Foto Julius_Silver/pixabay.com

Ilustrasi gunung api. Foto Julius_Silver/pixabay.com

Share on FacebookShare on Twitter

Batas konvergen yang berkaitan dengan subduksi (palung) menjadi penyebab dominan terbentuknya hampir gunung api di Indonesia (Jawa, Sumatera, Bali, Timor-Timur, Halmahera, Maluku). Gunung api yang intraplate / tengah lempeng (hotspot) dapat dijumpai di Krakatau, Muria, dan Kangean.

Bagaimana Gunung Api Meletus?
Ada dua faktor gunung api dapat meletus, yakni faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah terganggunya proses dapur magma gunung api. Proses di dapur magma terbagi menjadi tiga lokasi, yakni di bawah, di dalam, dan di atas dapur magma.

Baca Juga: Ini Pesan untuk Tim Relawan Penyelamatan Pendaki Gunung

Ketika proses di bawah dapur magma, kelebihan produksi magma yang ditambah dengan produksi magma lain menyebabkan erupsi. Sedangkan proses di dalam dapur magma, ketika magma mendingin, kemudian mengkristal. Bagian yang berat akan tenggelam dan gas yang ringan akan menekan ke atas. Apabila tidak mampu menahan akan meletus.

Proses di atas dapur magma adalah ketika es yang meleleh menyebabkan gunung api kehilangan tekanan dan meletus. Dampak kondisi alam lainnya berupa typhoon di sekitar gunung api. Pasang surut di mana air yang naik saat bulan purnama akan memberi beban ketika gunung api dalam keadaan kritis dan menekan gunung api bumi. Juga gempa bumi.

Baca Juga: Masyarakat Sipil: Perusahaan Karet di Jambi Diduga Lakukan Greenwashing

Sedangkan faktor eksternal gunung api meletus disebabkan oleh longsor, hujan lebat, dan erosi.

Apa Bahaya Gunung Api?
Berdasarkan sifatnya, bahaya gunung api terbagi menjadi dua, yakni bahaya primer dan sekunder. Bahaya primer (syn eruption) adalah bahaya yang terjadi bersamaan ketika gunung api meletus. Misalnya aliran lava, lahar, piroklastik, abu volkanaik, gas beracun, ejecta ballistic (bom and block).

Bahaya sekunder (post eruption) adalah bahaya yang timbul setelah gunung api meletus. Seperti banjir bandang, tsunami, hujan asam, gas beracun, lahar.

Dari 127 gunung api di Indonesia, Mirzam mengungkapkan, yang terdahsyat meletus adalah gunung api Toba. Bahkan merupakan letusan terbesar kedua di dunia. Biasanya disebut dengan istilah Toba Supervolcano. [WLC02]

Sumber: Institut Teknologi Bandung

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: gunung apigunung api meletusmisteri gunung apipakar vulkanologi ITBpancake domeToba Supervolcano

Editor

Next Post
Banjir landa Kabupaten Lampung Selatan (Lamsel), Provinsi Lampung, dan Kabupaten Majene, Sulawesi Barat. Foto Dok BNPB.

Banjir Landa Lamsel dan Majene, BNPB Laporkan Dua Orang Meninggal Dunia

Discussion about this post

TERKINI

  • Peoples’ Conservation Summit (PCS) 2026: Road to COP-17 CBD, Armenia, digelar sejak 1 hingga 3 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, UGM, Yogyakarta.PCS 2026 Hasilkan Deklarasi Konservasi Rakyat Indonesia
    In News
    Sabtu, 5 September 2026
  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Jaringan masyarkat sipil mendesak pemerintah menghentikan konflik agraria dan pelanggaran HAM di Desa Rakawuta, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, dan di wilayah Komunitas Adat Muara Tae, Kutai Barat, Kalimantan Timur.Hentikan Konflik Agraria dan Pelanggaran HAM di Rakawuta dan Muara Tae
    In News
    Kamis, 3 September 2026
  • Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Foto Geopix.Karhutla Borneo, 25 Juta Hektar Wilayah Habitat Orangutan Kalimantan Terbakar
    In Lingkungan
    Kamis, 3 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media