Selasa, 10 Februari 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Nafiatul Umami Kembangkan Mutasi Rumput Gajah Lokal Berbiomassa Tinggi

Varietas rumput gajah lokal yang menjadi pakan ternak sehari-hari terbatas. Perlu pemuliaan dengan mutasi sinar gamma.

Rabu, 9 Agustus 2023
A A
Guru Besar Fakultas Peternakan UGM, Prof. Nafiatul Umami. Foto Facebook UGM

Guru Besar Fakultas Peternakan UGM, Prof. Nafiatul Umami. Foto Facebook UGM

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Peneliti Fakultas Peternakan UGM, Prof. Nafiatul Umami bersama tim telah berhasil mengembangkan rumput Gama Umami (Pennisetum purpureum) yang merupakan hasil mutasi dari rumput gajah (Pennisetum purpureum) yang diradiasi dengan sinar gamma. Selain cocok untuk ternak, rumput jenis ini juga memiliki keunggulan produksi yang lebih tinggi dibanding rumput gajah lokal. Masa panen pun mencapai enam kali dalam setahun.

“Rumput Gama Umami memiliki produksi biomassa lebih tinggi, kandungan gula mereduksi lebih tinggi,” jelas Nafiatul saat menyampaikan pidato pengukuhan Guru Besar berjudul Inovasi Bioteknologi Dalam Pengembangan Hijauan Pakan Ternak di Indonesia, di Balai Senat UGM, Selasa, 8 Agustus 2023.

Nafiatul menjelaskan pengembangan hijauan pakan ternak melalui inovasi berbasis teknologi itu dilatarbelakagi ada sejumlah kekurangan yang dimiliki rumput tropik. Seperti perbanyakan sebagian rumput hanya dapat dilakukan secara vegetatif karena tidak ada biji, sifat reproduksi melalui apomiksis (reproduksi nonseksual pada tumbuhan yang menghasilkan biji), dan level ploidi (himpunan kromosom) yang bervariasi dalam spesies.

Baca Juga: 68 Ribu Hektare Hutan di Gunung Mas Kalteng Ditetapkan Kawasan Hutan Adat

Kurangnya variasi genetik rumput tropik memerlukan perbanyakan rumput tropis secara vegetatif. Keterbatasan dalam produksi massal bisa terjadi karena perbanyakan secara vegetatif membutuhkan waktu lebih lama untuk menghasilkan tanaman dalam jumlah banyak.

“Sulit menggunakan teknik pemuliaan konvensional dengan metode crossing (persilangan). Perlu strategi khusus dan kombinasi beberapa metode pemuliaan,” papar Nafiatul.

Mutasi dengan sinar gamma dapat menyebabkan perubahan karakteristik fenotipe tanaman, seperti bentuk, warna, ukuran, atau sifat lainnya. Beberapa mutasi yang dihasilkan dapat meningkatkan produktivitas, ketahanan terhadap penyakit, atau adaptasi terhadap kondisi lingkungan tertentu.

Baca Juga: Dewi Sukma: Persilangan Solusi Pemenuhan Pasar Anggrek Indonesia

“Rumput ini adalah hasil dari radiasi sinar gamma yang dilakukan dengan penyinaran 100 Gy,” ungkap Nafiatul.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: biomassaFakultas Peternakan UGMpakan ternakProf. Nafiatul Umamirumput gajah lokalrumput Gama Umamiteknik pemuliaan konvensional

Editor

Next Post
Ilustrasi masyarakat adat. Foto Quangbaophoto/pixabay.com.

Baru 3,7 Juta dari 26,9 Juta Ha Wilayah Adat Dapat Pengakuan Pemda

Discussion about this post

TERKINI

  • Ilustrasi rumah adat Sumatra Barat. Foto IndrabinYusuf/pixabay.com.Program Gentengisasi, Pakar Ingatkan Rumah Tradisional di Indonesia Tak Seragam 
    In Rehat
    Minggu, 8 Februari 2026
  • Ilustrasi makanan daging. Foto johnstocker/freepik.com.Diet Karnivora Tidak Aman, Ini Risikonya
    In Rehat
    Minggu, 8 Februari 2026
  • Ilustrasi kelelawar di pepohonan. Foto ignartonosbg/pixabay.com.Pakar Ingatkan, Virus Nipah Berpotensi Menular Antarmanusia
    In Rehat
    Sabtu, 7 Februari 2026
  • Bencana tanah bergerak di Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, 6 Februari 2026. Foto BPBD Tegal.Bencana Tanah Bergerak di Tegal, Dua Ribu Lebih Warga Mengungsi
    In Bencana
    Sabtu, 7 Februari 2026
  • Ilustrasi manusia terdampak cuaca panas ekstrem. Foto Franz26/pixabay.com.Dampak Cuaca Ekstrem, Suhu, Banjir dan Longsor Meningkat 16 Tahun Terakhir
    In News
    Jumat, 6 Februari 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media