Di Indonesia sendiri, Heru menilai seharusnya sudah tersedia sistem peringatan dini (early warning system) terhadap berbagai penyakit zoonosis, termasuk Nipah. Sistem ini penting agar setiap temuan gejala dapat segera dilaporkan dan ditindaklanjuti.
“Itulah mengapa Nipah menjadi perhatian pemerintah. Harapannya, siapa pun yang mengetahui gejalanya dapat segera melaporkan. Peringatan dini menjadi kunci utama,” tegas Heru.
Ia juga menekankan solusi bukan dengan menyalahkan atau memusnahkan kelelawar, melainkan menghindari kontak dan meningkatkan kewaspadaan sejak dini. Misalnya dengan segera melaporkan jika terdapat babi yang menunjukkan gejala klinis tidak biasa.
“Upaya ini diharapkan mampu mencegah penularan lebih lanjut, meskipun tetap bergantung pada pola penyebaran virus,” imbuh dia.
Baca juga: Gajah Mati Tanpa Kepala di Riau, Indikasi Kuat Tindak Pidana Perburuan Liar
Pemerintah telah melakukan langkah pengamanan melalui regulasi, salah satunya dengan melarang peternakan babi berada dekat dengan perkebunan nira. Kebijakan ini menjadi langkah awal dalam pencegahan.
“Penataan peternakan diharapkan dapat lebih mendukung pencegahan penularan dari kelelawar ke babi,” kata dia.
Khrisdiana juga menyoroti kebiasaan mengonsumsi nira segar yang diminum langsung tanpa proses pengolahan. Sebaiknya, nira dikonsumsi melalui perlakuan terlebih dahulu, seperti pasteurisasi atau pemanasan, dan tidak dikonsumsi secara langsung.
“Di sektor peternakan, kesadaran menjaga jarak kandang dari kebun nira serta penerapan desinfeksi kandang menjadi hal penting,” ujar Khrisdiana.
Virus Nipah tergolong lemah atau mudah rusak di lingkungan. Virus ini tidak mampu bertahan lama di luar inang sehingga penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) menjadi langkah pencegahan yang efektif.
Menjaga kebersihan diri seperti mencuci tangan, mengganti pakaian setelah beraktivitas di luar, dan menjaga keseimbangan dengan alam adalah hal yang tidak bisa diabaikan. [WLC02]
Sumber: UGM






Discussion about this post