“Indonesia berada di kawasan dengan aktivitas geologi yang dinamis, termasuk di zona subduksi. Jadi perlu terus waspada dalam menghadapi segala kemungkinan,” kata Dwikorita.
Baca Juga: Pri Utami, Pemanfaatan Energi Geothermal Masih 11 Persen dari Total Potensi 40 Persen di Indonesia
Ia menjelaskan, tugas utama BMKG sesuai dengan UUD adalah mewujudkan tujuan negara yang pertama, yakni melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia. Berupa penguatan pemantauan dan kesiapsiagaan di wilayah-wilayah yang teridentifikasi memiliki potensi megathrust, seperti Selat Sunda dan Kepulauan Mentawai.
“Meskipun kami membicarakan megathrust, patahan, InaTEWS, sebenarnya itu konteksnya adalah untuk melindungi segenap bangsa Indonesia juga melindungi kesejahteraan umum” ujar Dwikorita.
Ia menekankan upaya mitigasi bencana bukan berarti menimbulkan kekhawatiran, melainkan memberikan kesiapan lebih baik. Dengan pengetahuan yang mendalam dan dukungan teknologi, ancaman seperti ini dapat dihadapi secara lebih tenang dan terukur.
Baca Juga: Walhi Menduga Penggeledahan KLHK Terkait Dugaan Korupsi Pemutihan Sawit di Kawasan Hutan
“Pemahaman yang baik terhadap fenomena alam ini akan membantu kita mengambil langkah-langkah tepat dalam memitigasi risiko dan melindungi masyarakat,” tambah dia.
Selain megathrust, diskusi juga membahas potensi sesar aktif yang tersebar di Indonesia. Beberapa peristiwa gempa bumi di Jawa Barat dalam beberapa tahun terakhir, seperti di Cianjur pada 2022 dan di selatan Bandung pada 2024. Nelly menjelaskan hal itu menjadi pengingat pentingnya pemetaan dan pemahaman lebih lanjut terhadap sesar-sesar tersebut.
“Dengan kajian yang lebih mendalam, kita dapat memperkecil ketidakpastian dan meningkatkan ketahanan wilayah terhadap risiko seismik,” jelas Nelly. [WLC02]
Sumber; BMKG
Discussion about this post