Sabtu, 17 Januari 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Pemanfaatan Bahan Alami Kurangi Risiko Bahaya Pemakaian Kosmetik Palsu

Meski jelas-jelas berdampak buruk bagi kulit, namun masih saja banyak perusahaan kecantikan menggunakan bahan-bahan berbahaya untuk mengeruk keuntungan.

Selasa, 18 November 2025
A A
Ilustrsi lidah buaya untuk bahan kosmetika. Foto endriqstudio/pixabay.com.

Ilustrsi lidah buaya untuk bahan kosmetika. Foto endriqstudio/pixabay.com.

Share on FacebookShare on Twitter

“Glukomanan hasil pemurnian dengan kavitasi hidrodinamik inilah yang menjadi rahasia utama di balik lima efek perlindungan kulit tersebut,” imbuh Prayoga.

Lantaran mampu menjadi bahan pengental atau pembentuk gel dan pelembap, serta tetap stabil walaupun ditambahkan berbagai macam bahan aktif alami di dalamnya, sehingga mampu memberikan hasil kulit yang sehat, halus, dan bercahaya tanpa perlu tambahan bahan kimia sintetis.

Baca juga: Tuntut Air Bersih dan Listrik, Warga Kawasi Boikot Jalur Produksi Perusahaan Nikel

Dari sisi formulasi kecantikan, bahan kosmetik berbasis glukomanan bisa dikembangkan menjadi beragam produk perawatan kulit. Selain menjaga kelembapan, kandungan alaminya juga membantu memperbaiki serta mempertahankan kesehatan kulit.

Dengan kandungan alami yang stabil, bahan ini tetap aman digunakan dalam berbagai kondisi formulasi produk seperti lotion, masker, serum, hingga tabir surya. Formulanya menjanjikan hasil glowing alami dengan bahan yang sepenuhnya berasal dari riset lokal.

“Kami ingin menunjukkan bahwa bahan lokal seperti porang bisa menjadi dasar pengembangan kosmetik dan klinik yang tidak kalah dengan produk impor. Semuanya berangkat dari riset lokal yang aman bagi kulit tropis dan berpotensi menggantikan bahan impor yang mahal,” jelas Prayoga.

Sementara dari sisi klinik, riset lanjutan tengah dikembangkan untuk memanfaatkan glukomanan menjadi bahan dasar perbaikan jaringan kulit. Selama ini, material berbasis glukomanan untuk luka bakar, bekas operasi, atau perawatan pascaprosedur medis masih harus diimpor dengan harga yang sangat tinggi.

Baca juga: Tanah Longsor di Cilacap, 3 Tewas dan 20 Orang Belum Ditemukan

“Jika pengembangan ini berhasil, bahan lokal hasil riset ini dapat menjadi alternatif pengganti bahan impor dengan kualitas setara. Bahkan lebih ramah bagi kulit,” harap dia.

Inovasi ini menjadi langkah nyata menuju kemandirian bahan kosmetik dan klinik berbasis sumber daya lokal. Dari porang yang tumbuh di tanah Indonesia, lahirlah potensi besar bagi dunia kecantikan dan kesehatan kulit yang alami, aman, serta bernilai tinggi bagi masyarakat.

Tips hindari produk kosmetik berbahaya

Setiap tahun, BPOM mengamankan puluhan produk kosmetik dan skincare yang terbukti mengandung bahan berbahaya dan dilarang. Tahun 2025, BPOM berhasil mengungkap 23 produk yang mengandung merkuri, asam retinoat, hidroquinon, pewarna merah K3 dan K10, serta pewarna acid orange 7. Bahan-bahan berbahaya yang terkandung dalam produk kosmetik dan skincare tentunya akan menimbulkan dampak berbahaya bagi para pengguna.

Menurut Guru Besar dan Pakar Kesehatan Kulit FKKMK UGM, Prof. Hardyanto Soebono, peredaran kosmetik harus melalui perizinan. Jika telah memiliki basis bukti perizinan baru diperbolehkan untuk diedarkan.

Baca juga: Warga Pulubala Dikriminalisasi, Mendesak Izin Perusahaan Sawit Dicabut

“Salah satu tugas BPOM adalah mengawasi obat dan kosmetik yang beredar. Jika menemukan atau ditemukan kosmetik mengandung bahan-bahan yang berbahaya, mereka harus melarang,” terang dia di FKKMK UGM, Selasa, 18 November 2025.

Pelarangan harus dilakukan, sebab pemakaian yang berlanjut dapat merusak kesehatan tubuh. Ia mencontohkan, pemakaian merkuri yang kerap digunakan dalam produk pemutih kulit memiliki efek merusak ginjal.

Begitu pula penggunaan hydroquinon sebagai produk pemutih juga berdampak buruk bagi pengguna. Awalnya akan memberi efek putih secara instan. Jika penggunaan dilakukan secara berlebihan akan mengakibatkan kulit rusak dan terbakar.

“Jika pemakaian terlalu lama membuat kulit menghitam. Timbul flek-flek hitam dari timbunan hydroquinon yang ada di bawah kulit,” jelas dia.

Meski jelas-jelas berdampak buruk bagi kulit, namun masih saja banyak perusahaan kecantikan menggunakan bahan-bahan berbahaya untuk mengeruk keuntungan. Ia pun membagikan sejumlah tips guna menghindari produk-produk kosmetika yang mengandung bahan berbahaya.

Baca juga: KKP Klaim Sertifikasi Udang Bebas Cs-137, Petambak Lampung Lapor Harga Masih Anjlok

Pertama, konsumen melakukan pengamatan atau melihat tanda izin dari BPOM pada kemasan produk. Kedua, berkonsultasi dengan dokter kulit terkait permasalahan kondisi kulit. Ketiga, membuka wawasan atau memperluas edukasi terkait penggunaan kosmetik.

“Edukasi ini penting untuk menghindari efek samping jangka panjang dari pemakaian kosmetik. Karena jumlah produk kosmetik sekarang ribuan,” jelas dia.

Hardyanto berharap masyarakat paham betul terkait penggunaan kosmetik. Tidak sedikit dari anak muda saat ini mudah terpengaruh iklan produk kecantikan di sosial media tanpa mendalami isi kandungan produk kecantikan.

Produk kecantikan yang tepat adalah produk yang sesuai dengan jenis kulitnya. Dan yang terpenting, orang mau memperhatikan atau mengetahui jenis kulitnya sendiri. Masyarakat harus paham soal ini, apakah kulitnya tergolong kering, berminyak, atau kombinasi.

“Jika berminyak, tentunya menghindari kosmetik yang mengandung minyak. Kulit kering menggunakan pelembab, dan perlu juga memakai sunscreen secukupnya di siang hari. Tidak perlu berlebih-lebihan, secukupnya tergantung dari jenis kulit kita apa,” imbuh dia. [WLC02]

Sumber: UGM, IPB University

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: bahan alamiDepartemen Teknologi Industri Pertanian IPB UniversityFKKMK UGMkosmetik berbahayakosmetik palsuperawatan kulit

Editor

Next Post
Palka pendingin bertenaga surya. Foto Dok. IPB University.

Palka Pendingin Tenaga Surya, Ramah Lingkungan dan Tak Perlu Beli Es Batu

Discussion about this post

TERKINI

  • WHO Goodwill Ambassador for Leprosy Elimination, Yohei Sasakawa dan Menkes Budi Gunadi Sadikin berkunjung ke Sampang, Madura dalam program eliminasi kusta, 8 Juli 2025. Foto Dok. Kemenkes.Jangan Takut Periksa Kusta, Sepekan Usai Diobati Tak Menular Lagi
    In Rehat
    Kamis, 15 Januari 2026
  • Penampakan huntara dari kayu hanyutan di Aceh. Foto Dok. Rumah Zakat.Kayu Hanyutan Jadi Huntara, Biar Penyintas Aceh Tak Terlalu Lama Hidup di Tenda
    In Rehat
    Kamis, 15 Januari 2026
  • Ilustrasi penyakit kulit. Foto Miller_Eszter/pixabay.comPrevalensi Penderita Kusta di DIY Terendah, Tapi Tiap Bulan Ada Pasien Baru
    In Rehat
    Rabu, 14 Januari 2026
  • KKP mempersiapkan pengiriman 159 ton bantuan ke lokasi bencana Sumatra, 13 Januari 2026. Foto KKP.Legislator Kritik Seremonial Bantuan Menteri di Aceh, Puluhan Kampung Masih Terisolasi
    In News
    Rabu, 14 Januari 2026
  • Ilustrasi makanan kaleng. Foto MabelAmber/pixabay.com.Jangan Sepelekan Kemasan Kaleng Makanan yang Penyok, Gembung dan Berkarat
    In IPTEK
    Selasa, 13 Januari 2026
wanaloka.com

©2025 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2025 Wanaloka Media