Sabtu, 28 Maret 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Pemanfataan Kawasan Bentang Alam Karst antara Konservasi dan Eksploitasi

Pakar mengingatkan kawasan karst merupakan sumber air andal bagi kehidupan manusia. Terutama di pulau-pulau padat penduduk seperti Jawa, yang kini mengalami kekeringan di beberapa daerah.

Sabtu, 5 Oktober 2024
A A
Citra satelit salah satu kawasan bentang alam karst (KBAK). Foto Dok. BRIN.

Citra satelit salah satu kawasan bentang alam karst (KBAK). Foto Dok. BRIN.

Share on FacebookShare on Twitter

“Namun, di balik potensi besar tersebut ada dilema dalam pengelolaan kawasan karst, yaitu pertentangan antara konservasi dan eksploitasi,” ungkap dia.

Ia mencontohkan, air di kawasan karst secara perlahan membentuk bentangan karst yang bernilai tinggi, indah, dan patut dinikmati oleh umat manusia. Kawasan karst menyimpan potensi luar biasa. Selain sumber daya air, mineral, dan keindahan goa serta bentang alamnya, kawasan ini juga memiliki flora dan fauna yang unik.

“Peninggalan arkeologis dan paleontologis yang berharga, seperti lukisan dinding, memberikan daya tarik tersendiri. Terutama dalam memahami sejarah bumi dan awal kehidupan, ini menjadi semangat bagi kehidupan kita,” tutur Farid.

Baca Juga: Tolak Proyek Geothermal di Poco Leok, Warga dan Jurnalis Floresa Ditangkap

Namun dalam konteks pembangunan, eksploitasi sering menjadi pilihan utama, ketika berbicara mengenai keuntungan langsung. Seperti dalam industri semen, sekitar 70-80 persen mengandalkan batu gamping sebagai bahan bakunya.

“Kesadaran akan pentingnya lingkungan dan pembangunan berkelanjutan telah menggeser paradigma tersebut,” kata Farid.

Masyarakat dan pemerintah memiliki peran penting dalam meregulasi hal ini. Eksploitasi sumber daya alam di kawasan geopark harus mempertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan dan masa depan.

Baca Juga: AMAN Desak DPR Baru Segera Sahkan RUU Masyarakat Adat

“Pemerintah membuka ruang diskusi tentang bagaimana konservasi dan eksploitasi dapat berjalan beriringan. Ke depan, penting bagi kami semua untuk menemukan keseimbangan yang tepat agar pemanfaatan karst dapat mendukung kebutuhan pembangunan, tanpa merusak warisan alam yang tak ternilai ini,” jelas Farid.

Farid juga menyampaikan, kawasan karst dikenal sebagai kawasan yang kering di permukaan, terutama saat musim kemarau. Namun, terdapat sungai bawah tanah yang mengalir dan menjadi sumber air bagi masyarakat sekitar.

“Penting bagi kita untuk memahami dan mengelola sumber daya air secara berkelanjutan. Apakah sumber daya air cukup untuk memenuhi kebutuhan jangka panjang, bagaimana fluktuasi ketersediaan air antara musim hujan dan kemarau. Inilah pertanyaan-pertanyaan yang dapat dijawab melalui penelitian lebih lanjut,” kata dia.

Baca Juga: KLHK Klaim Taman Nasional Mutis Timau Bukan Penurunan Status Kawasan Hutan

Ia berpesan, kawasan karst merupakan sumber daya andal bagi kehidupan manusia. Terutama di pulau-pulau padat penduduk seperti Jawa, yang kini mengalami kekeringan di beberapa daerah.

Sementara Kepala Pusat Riset Sumber Daya Geologi BRIN Iwan Setiawan mengatakan, kawasan ini menyimpan potensi luar biasa, dengan sumber daya karst meliputi air, mineral seperti batu gamping, keindahan goa, bentang alam, serta flora dan fauna unik yang hidup di dalamnya. Menurut dia, mengenal lebih dalam kawasan ini sangat penting dan memberikan perspektif baru terkait pengelolaannya.

“Semoga kegiatan ini memberi manfaat dan perspektif baru terkait pengelolaan geopark dan lainnya. Bagaimana kita mengenal kawasan ini yang sangat penting, yang sangat indah, yaitu kawasan karst,” imbuh dia. [WLC02]

Sumber: BRIN

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: batu gampingdolomitflora dan faunaGunung Sewu UNESCO Global GeoparkKBAKsungai bawah tanah

Editor

Next Post
Padang Pariaman, Sumatera Barat kembali dilanda banjir dan tanah longsor, 5 Oktober 2024. Foto BPBD Padang Pariaman.

Banjir dan Longsor Kembali Terjang Padang Pariaman

Discussion about this post

TERKINI

  • Westa, aplikasi pengelolaan sampah berbasis AI. Foto Dok. FEB UGM.Aplikasi Westa, Identifikasi Jenis dan Berat Sampah untuk Menghitung Emisi Karbon
    In IPTEK
    Sabtu, 14 Maret 2026
  • Seorang mahout memandikan gajah di aliran sungai kawasan Konservasi Gajah Tangkahan, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Foto Soetana Hasby/Wanaloka.com.Instruksi Presiden untuk Selamatkan 21 Kantong Gajah yang Tersisa
    In News
    Sabtu, 14 Maret 2026
  • Dua perempuan menanam padi di sawah. Foto Wanaloka.com.Terdampak Perjanjian Dagang Timbal Balik Indonesia-USA, Perempuan Adat Melawan
    In Lingkungan
    Jumat, 13 Maret 2026
  • Desakan pengesahan RUU Masyarakat Adat dalam Aksi Kamisan, 5 September 2024. Foto AMAN.Hari Masyarakat Adat Nasional, Tak Ada Alasan RUU Masyarakat Adat Tak Disahkan
    In Rehat
    Jumat, 13 Maret 2026
  • Pengolahan sampah di PIAT UGM. Foto Dok. Humas UGM.Tragedi Bantargebang Akibat Pengelolaan Sampah Berorientasi pada Pembuangan
    In Lingkungan
    Kamis, 12 Maret 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media