Jumat, 13 Februari 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Rehabilitasi Mangrove dengan Alat Penahan Ombak dari Limbah Plastik

Selasa, 18 Juni 2024
A A
APO dari ban bekas dan bambu. Foto Dok. E-Journal Wilayah dan Lingkungan Undip.

APO dari ban bekas dan bambu. Foto Dok. E-Journal Wilayah dan Lingkungan Undip.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Di pantai utara Jawa, fenomena abrasi dan banjir rob menimbulkan banyak kerugian ekonomi dan sosial. Strategi pengendalian abrasi dan banjir rob perlu dilakukan untuk mengurangi kerusakan lingkungan yang terus meluas.

Berdasarkan penelitian dari Climate Central, wilayah Pantai Indah Kapuk, sebagian wilayah Tangerang, Citarum, dan Karawang akan terdampak abrasi dan banjir rob. Fenomena ini terjadi juga di wilayah Jawa Tengah, seperti Klampok, Brebes, Sigedang, lalu sebagian besar wilayah Demak, Wedung, hingga Pati.

Sementara Kabupaten Demak, Jawa Tengah merupakan salah satu daerah yang terkena dampak ekstrem atas fenomena abrasi dan banjir rob. Salah satu usaha yang sudah dilakukan adalah menanam mangrove. Namun upaya itu dinilai sia-sia apabila bibit yang ditanam terhempas energi gelombang air laut yang terlalu kuat.

Baca Juga: Proyek Tambak Lorok Semarang Diklaim Bisa Kendalikan Banjir Rob 30 Tahun

“Salah satu strategi bentuk pengendalian abrasi penahan gelombang dengan pemasangan APO. Itu juga dapat menangkap sedimentasi karena turbulensi yang terbentuk di sekitar APO,” kata Kepala PRBB BRIN Akbar Hanif Dawam Abdullah di Gedung iLaB, Kawasan Sains dan Teknologi Soekarno, Cibinong pada 22 Maret 2024 lalu.

Tim peneliti Pusat Riset Biomassa dan Bioproduk (PRBB) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Yayasan Bakau Manfaat Universal (BAKAU-MU) berupaya untuk membantu rehabilitasi mangrove di Demak. Kedua Lembaga itu mengembangkan dan menerapkan teknologi alat penahan ombak (APO) semipermeable hex brick berbasis pemanfaatan limbah plastik tidak bernilai jual.

Peneliti Pusat Riset Oseanografi BRIN Yaya Ihya Ulumuddin mengatakan, kegiatan ini diawali dengan kajian rehabilitasi mangrove di pesisir. Namun di beberapa tempat tidak mudah melakukan restorasi, karena mangrove di lahan itu sudah tidak ada sama sekali atau sangat jarang. Perlu semacam pelindung dari gelombang untuk mangrove yang ditanam.

Baca Juga: Bambang Hendroyono, Kebijakan Pengelolaan Hutan Berkelanjutan Harus Melindungi Hak Masyarakat Lokal

“Karena mangrove tidak akan tumbuh apabila terkendala gelombang air laut. Jadi kami mencoba membuat pelindung tersebut dari sampah plastik,” kata Yaya.

Pertimbangan adanya pelindung itu juga karena mangrove di beberapa lahan telah rusak sehingga mengubah kondisi lahan. Sementara mangrove tidak bisa pulih dengan sendirinya.

“Lokasi seperti ini memerlukan sedikit rekayasa agar kondisi yang tidak mendukung menjadi mendukung,” tambah Yaya.

Baca Juga: Perjuangan Masyarakat Adat Awyu dan Moi Selamatkan Hutan Papua, DPR Sebut Miskomunikasi?

APO dari Plastik Berbahayakah?

Di kalangan pegiat mangrove, alat pelindung tersebut dikenal dengan sebutan alat pemecah ombak. Munculah ide menggunakan limbah plastik untuk bahan pembuat APO. Mengingat sifat plastik tahan lama dan mudah didapat.

“Pertanyaannya, apakah plastik itu akan luruh lagi ke lingkungan dan menjadi mikroplastik yang akan mencemari laut?” tanya Yaya.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: alat penahan ombakbanjir robBRINRehabilitasi mangrove

Editor

Next Post
Surat desakan kepada NU dan Muhammadiyah untuk menolak tawaran pengelolaan bisnis tambang, 19 Juni 2024. Foto Istimewa.

Forum Cik Di Tiro Desak NU dan Muhammadiyah Tolak Tawaran Bisnis Tambang, Bisa Terjerumus Dosa Ekologis

Discussion about this post

TERKINI

  • Ilustrasi ikan mati massal. Foto akbarnemati/pixabay.com.Ikan Dewa Mati Massal di Kuningan, Apa Penyebabnya?
    In Rehat
    Kamis, 12 Februari 2026
  • Aksi Hari Tani Nasional 2025 serukan pelaksanaan reforma agraria, 24 September 2025. Foto KPA.KPA Kritik Peran Bank Tanah, Menghidupkan Lagi Kepemilikan Tanah Negara Masa Kolonial
    In Lingkungan
    Rabu, 11 Februari 2026
  • MMA dan PPLH LRI sepakat menguatkan peran adat dalam mengelola hutan di Aceh. Foto Dok. IPB University.Kuatkan Kembali Panglima Uteun untuk Jaga Kelestarian Hutan Aceh
    In News
    Rabu, 11 Februari 2026
  • Lokasi pertambangan dekat dengan sebuah danau (L) dan Teluk Weda (R) di Indonesia Timur pada 2023. Foto Climate Rights International.Jatam Tegaskan, Empat Perusahaan Tambang di Maluku Utara Harus Ditindak Tegas, Tak Sekadar Denda
    In Lingkungan
    Selasa, 10 Februari 2026
  • Ilustrasi sistem saraf pusat manusia yang meliputi otak dan sumsusm tulang belakang. Foto VSRao/pixabay.com.Virus Nipah Menyerang Sistem Saraf Pusat yang Percepat Perburukan Klinis
    In Rehat
    Selasa, 10 Februari 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media