Kamis, 8 Oktober 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Kasus Gigitan Ular Meningkat, Pakar UGM Baru Teliti Karakterisasi Bisa Kobra Jawa

Terobosan antibodi llama dan alpaka mampu menjangkau 17 spesies ular, sehingga dinilai memberikan angin segar bagi dunia riset dan kesehatan.

Minggu, 16 November 2025
A A
Ilustrasi ular kobra. Foto AlexandraLysenko/pixabay.com.

Ilustrasi ular kobra. Foto AlexandraLysenko/pixabay.com.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Hingga Oktober 2025, tercatat ada 8.721 kasus gigitan ular yang menyebabkan 25 kematian. Sementara Indonesia tercatat sebagai negara dengan spesies ular terbanyak ketiga di dunia, yakni 376 spesies.

Di tengah krisis ketersediaan serum antibisa, sejumlah pakar melakukan riset dan membuat terobosan antibodi llama dan alpaka yang dinilai mampu membantu penanganan medis. Inovasi ini selaras dengan riset dalam negeri yang mulai mengembangkan serum antibisa modern serta karakterisasi bisa ular lokal untuk memperkuat kesiapan Indonesia menghadapi ancaman kasus gigitan ular.

Dosen Fakultas Biologi UGM, Donan Satria Yudha menjelaskan kemajuan riset tersebut menunjukkan kemampuan peneliti dalam memanfaatkan organisme, termasuk hewan, sebagai sumber solusi kesehatan. Ia menilai antibodi pada llama dan alpaka terbukti efektif membantu penyembuhan korban gigitan ular berbisa.

“Kecelakaan akibat gigitan ular bukan lagi neglected disease, karena semakin banyak peneliti peduli dan mengembangkan antibisa dengan efektivitas tinggi,” papar dia, Jumat, 14 November 2025.

Baca juga: Jalankan Lima Fungsi Utama, Kebun Raya Indrokilo dan Banua Dapat Penghargaan

Terobosan antibodi llama dan alpaka mampu menjangkau 17 spesies ular, sehingga dinilai memberikan angin segar bagi dunia riset dan kesehatan. Donan berharap inovasi tersebut dapat dikembangkan secara massal, khususnya di negara dengan tingkat kematian akibat gigitan ular yang tinggi seperti Indonesia.

“Inovasi ini saya harap dapat diproduksi massal dan menjangkau masyarakat kita, khususnya petani, peladang, dan orang-orang yang bekerja di hutan,” kata dia.

Riset bisa ular Kobra Jawa

Namun pengembangan serum antibisa di Indonesia masih belum signifikan. Perkembangan baru terlihat tiga tahun terakhir melalui inisiatif penelitian dari BRIN, Kementerian Kesehatan, dan berbagai perguruan tinggi.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: antibisa ularFakultas Biologi UGMgigitan ularIlama dan Alpakaular kobra Jawa

Editor

Next Post
Desakan pengesahan RUU Masyarakat Adat dalam Aksi Kamisan, 5 September 2024. Foto AMAN.

Walhi Desak Indonesia Suarakan Kembali ke Rakyat - Kembali ke Akar di COP 30

Discussion about this post

TERKINI

  • Aksi Hari Tani Nasional 2025 mengusung desakan reforma agraria, 24 September 2025. Foto KPA.Koalisi Masyarakat Sipil untuk Keadilan Agraria Kritik Penunjukan Kepala BRAN
    In News
    Jumat, 2 Oktober 2026
  • Pusat gempa dangkal 5,4 magnitudo di Pantai Timur Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan pada Kamis malam, 1 Oktober 2026. Foto tangkap layar BMKG.Gempa Dangkal di Laut Flores Kepulauan Selayar Dirasakan IV MMI
    In News
    Kamis, 1 Oktober 2026
  • Peoples’ Conservation Summit (PCS) 2026: Road to COP-17 CBD, Armenia, digelar sejak 1 hingga 3 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, UGM, Yogyakarta.PCS 2026 Hasilkan Deklarasi Konservasi Rakyat Indonesia
    In News
    Sabtu, 5 September 2026
  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media