Lebih lanjut Hefni menjelaskan, metode yang diaplikasikan dalam monitoring dan evaluasi adalah sensus, verifikasi ulang dengan sampling dan dokumentasi. Berdasarkan hasil verifikasi lapang, jumlah keberhasilan tumbuh mangrove sebanyak 48.505 individu atau 92,5 persen dari jumlah total mangrove yang ditanam di ketiga pulau (Untung Jawa, Rambut dan Bokor), yakni sebanyak 52.428 individu.
“Tinggi tumbuhan mangrove yang semula berkisar antara 20 sampai 40 cm. Ketika verifikasi lapang, tinggi mangrove mencapai 60 sampai dengan lebih dari 100 cm,” ujar Advisory Board Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) IPB University ini.
Penanaman mangrove tersebut merupakan komitmen dari PHE ONWJ dalam menjaga keanekaragaman tumbuhan mangrove. Juga untuk memenuhi kewajiban kompensasi pengganti dari tumbuhan mangrove yang terpapar insiden kebocoran sumur eksplorasi di offshore Karawang pada 2019.
Baca Juga: Ini Bahaya Jerat Babi di Pasaman
“Mangrove yang terpapar dimaknai sebagai mangrove yang ditempeli oleh tarball. Keterpaparan mangrove pada tingkatan pancang dan tiang tidak sampai menyebabkan kematian. Walaupun hanya setetes tarball yang menempel, ada pertumbuhan bibit yang terganggu,” papar Hefni.
Atas arahan Direktorat Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (Ditjen PPKL), PHE ONWJ diharuskan menanam sebanyak tiga kali jumlah individu mangrove yang terpapar. Sekaligus merupakan kompensasi dan memelihara serta memantau pertumbuhannya selama empat semester. Berita acara yang ditandatangani oleh semua peserta verifikasi lapang menyatakan penanaman mangrove dikategorikan berhasil. [WLC02]
Sumber: IPB University







Discussion about this post