Sabtu, 26 September 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Tanggul Laut Masih Jadi Solusi Pemerintah Atasi Rob di Pesisir Utara Jawa

Pemerintah perlu mengembangkan kebijakan inovatif, seperti sistem peringatan dini dan desain infrastruktur tahan rob, untuk mengurangi dampaknya.

Rabu, 11 Juni 2025
A A
Tanggul di Pantai Muara Baru. Foto Kementerian PU.

Tanggul di Pantai Muara Baru. Foto Kementerian PU.

Share on FacebookShare on Twitter

Ia menerangkan, banjir rob terjadi ketika air laut pasang menggenangi daratan di wilayah pesisir. Berbeda dengan banjir akibat hujan deras atau luapan sungai, banjir rob dipicu oleh gravitasi bulan, perubahan iklim, atau aktivitas manusia seperti pengambilan air tanah berlebihan yang menyebabkan penurunan muka tanah (land subsidence).

“Banjir rob seperti tsunami yang datang perlahan. Meski tidak sebesar tsunami, dampaknya bisa lebih luas jika terjadi berulang dalam waktu lama,” ujar Yonvitner yang juga Kepala Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan (PKSPL) IPB University.

Baca juga: Steven Solikin, Laut Semakin Gelap dan Risiko Kompetisi Predator Meningkat

Selain faktor alam, aktivitas manusia seperti reklamasi pantai dan eksploitasi air tanah memperburuk banjir rob. Reklamasi yang tidak memperhitungkan kenaikan muka air laut justru berisiko menciptakan genangan baru di sekitarnya.

“Reklamasi tanpa kajian yang matang bisa menurunkan muka tanah. Jika ini tidak disertai dengan perencanaan adaptif, maka dapat menyebabkan bencana,” kata dia mengingatkan.

Banjir rob mengakibatkan kerusakan ekosistem pesisir, termasuk hutan mangrove, serta merugikan sektor pertanian, perikanan, dan pariwisata. Infrastruktur jalan dan permukiman juga terendam, sementara akses air bersih terganggu, yang memicu masalah kesehatan.

Baca juga: Temuan Kementerian Kehutanan, Tiga Perusahaan Menambang di Kawasan Hutan Raja Ampat

“Jika terjadi terus-menerus, masyarakat kehilangan mata pencaharian, dan struktur sosial bisa berubah drastis,” imbuh dia.

Yonvitner menekankan pentingnya pendekatan berbasis alam dan teknologi untuk mengurangi risiko banjir rob, antara lain:

Pertama, memperkuat tanggul pantai dan memperluas penanaman mangrove untuk menahan gelombang.

Baca juga: Temuan KLH, Empat Perusahaan Tambang Merusak Lingkungan Lima Pulau di Raja Ampat

Kedua, mengendalikan pengambilan air tanah guna mencegah penurunan muka tanah lebih lanjut.

Ketiga, membangun permukiman adaptif, seperti rumah terapung, bagi masyarakat yang tetap tinggal di zona rawan.

Keempat, meningkatkan literasi masyarakat tentang langkah evakuasi dan pengelolaan lingkungan pesisir.

Baca juga: Temuan Kementerian ESDM, Lima Perusahaan Punya Izin Tambang di Raja Ampat

“Pemerintah perlu mengembangkan kebijakan inovatif, seperti sistem peringatan dini dan desain infrastruktur tahan rob, untuk mengurangi dampaknya,” tegas dia.

Banjir rob merupakan ancaman serius bagi wilayah pesisir yang membutuhkan penanganan terpadu dari pemerintah dan masyarakat. Dengan kombinasi mitigasi berbasis alam dan adaptasi teknologi, diharapkan risiko bencana ini dapat dikurangi. [WLC02]

Sumber: BPMI Setpres, Kementerian PU, IPB University

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: banjir robGuru Besar Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University YonvitnerKementerian PUland subsidencepesisir utara Jawatanggul laut

Editor

Next Post
Kementerian LHK menyegel dua pabrik peleburan logam di Banten karena terbukti mencemari udara, 10 Juni 2025. Foto KLH.

Dua Pabrik Peleburan Logam Disegel, Proses Hukum Satu Pabrik Diabaikan Sejak 2023

Discussion about this post

TERKINI

  • Peoples’ Conservation Summit (PCS) 2026: Road to COP-17 CBD, Armenia, digelar sejak 1 hingga 3 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, UGM, Yogyakarta.PCS 2026 Hasilkan Deklarasi Konservasi Rakyat Indonesia
    In News
    Sabtu, 5 September 2026
  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Jaringan masyarkat sipil mendesak pemerintah menghentikan konflik agraria dan pelanggaran HAM di Desa Rakawuta, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, dan di wilayah Komunitas Adat Muara Tae, Kutai Barat, Kalimantan Timur.Hentikan Konflik Agraria dan Pelanggaran HAM di Rakawuta dan Muara Tae
    In News
    Kamis, 3 September 2026
  • Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Foto Geopix.Karhutla Borneo, 25 Juta Hektar Wilayah Habitat Orangutan Kalimantan Terbakar
    In Lingkungan
    Kamis, 3 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media