Inovasi serupa dilakukan terhadap kulit buah naga yang mampu menekan kerusakan korosi hingga 87,73 persen.
Tak hanya dari buah, potensi zat alami juga datang dari daun tembakau. Melalui riset kolaboratif yang dilakukan bersama timnya, ekstrak tembakau terbukti dapat menurunkan kerusakan korosi hingga 80 persen pada injeksi optimal 60 ppm dalam media simulasi production water flowline crude oil.
Bahan alami lain seperti daun talas dan daun teh putih juga menunjukkan hasil signifikan. Ekstrak daun talas mampu menekan laju korosi hingga 72 persen dalam aplikasi industri, serta hampir 80 persen pada penyimpanan larutan asam sulfat. Sementara ekstrak daun teh putih terbukti efektif mengurangi kerusakan korosi hingga 96 persen pada konsentrasi rendah, yakni 80 ppm.
Baca juga: Penumpukan Sampah Menjadi Sumber Peningkatan Kasus Leptospirosis
Fakta riset ini menunjukkan Indonesia memiliki kekayaan hayati yang luar biasa untuk dikembangkan menjadi solusi antikorosi ramah lingkungan. Pendekatan ini tidak hanya mendukung ketahanan industri, tetapi juga menjaga keberlanjutan lingkungan.
Doktor Bidang Teknik dari Graduate School of Engineering, Osaka Prefecture University, Jepang ini berharap agar riset ini dapat berkontribusi nyata pada kebijakan pemerintah.
“Melalui pemanfaatan bahan ramah lingkungan dalam metode mitigasi korosi, baik inhibitor maupun coating, kami dapat menghasilkan strategi mitigasi yang akurat. Ini akan mendorong praktik teknologi hijau (green technology), mengurangi jejak karbon, serta mempromosikan penggunaan sumber daya yang lebih berkelanjutan,” imbuh dia. [WLC02]
Sumber: BRIN







Discussion about this post