Jumat, 25 September 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Penumpukan Sampah Menjadi Sumber Peningkatan Kasus Leptospirosis

Kasus leptospirosis bisa naik meski tidak ada hujan atau banjir, karena faktor lingkungan juga sangat berpengaruh.

Selasa, 19 Agustus 2025
A A
Ilustrasi tikus. Foto Alexas_Fotos/pixabay.com.

Ilustrasi tikus. Foto Alexas_Fotos/pixabay.com.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Kasus Leptospirosis di Kota Yogyakarta dilaporkan meningkat signifikan meski musim hujan telah berakhir. Kendati belum ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB), penanganannya perlu dilakukan setara dengan KLB.

Status KLB bukan hanya soal diumumkan atau tidak, yang penting Dinas Kesehatan sudah melakukan penanganan sebagaimana mestinya. Tren peningkatan kasus biasanya terjadi saat musim hujan atau setelah banjir akibat kontak dengan air tercemar bakteri Leptospira.

“Ada sesuatu yang berubah karena pada tahun ini lonjakan kasus justru muncul di musim kemarau,” ungkap Epidemiolog Universitas Gadjah Mada, Bayu Satria Wiratama dalam podcast TropmedTalk, Senin, 19 Agustus 2025.

Baca juga: Ancaman Krisis Air, 1 dari 4 Penduduk Dunia Sulit Mengakses Air Bersih

Leptospirosis sendiri merupakan penyakit zoonosis yang menular melalui kontak dengan air atau tanah terkontaminasi urin tikus. Bakteri ini dapat masuk melalui kulit yang terluka, bahkan luka kecil yang tidak terlihat. Gejala penyakit ini, ungkap Bayu, sering menyerupai demam berdarah atau chikungunya sehingga rawan terlambat terdiagnosis.

“Kalau demam tidak turun dalam 1-2 hari, apalagi ada riwayat aktivitas di lingkungan berisiko, segera periksa ke fasilitas kesehatan,” imbau Bayu.

Ia menduga bahwa kondisi tersebut berkaitan dengan  penanganan sampah yang belum sepenuhnya dilakukan dengan optimal di Kota Yogyakarta. Penumpukan sampah dapat menjadi sumber makanan dan tempat berkembang biak tikus sebagai hewan pembawa bakteri Leptospira.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: KLBleptospirosistikustumpukan sampah

Editor

Next Post
Rombongan KLH mengunjungi TPPAS Lulut-Nambo di Bogor, Jawa Barat. Foto Dok. KLH.

TPPAS Lulut-Nambo untuk Olah Sampah Empat Daerah Mangkrak 10 Tahun

Discussion about this post

TERKINI

  • Peoples’ Conservation Summit (PCS) 2026: Road to COP-17 CBD, Armenia, digelar sejak 1 hingga 3 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, UGM, Yogyakarta.PCS 2026 Hasilkan Deklarasi Konservasi Rakyat Indonesia
    In News
    Sabtu, 5 September 2026
  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Jaringan masyarkat sipil mendesak pemerintah menghentikan konflik agraria dan pelanggaran HAM di Desa Rakawuta, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, dan di wilayah Komunitas Adat Muara Tae, Kutai Barat, Kalimantan Timur.Hentikan Konflik Agraria dan Pelanggaran HAM di Rakawuta dan Muara Tae
    In News
    Kamis, 3 September 2026
  • Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Foto Geopix.Karhutla Borneo, 25 Juta Hektar Wilayah Habitat Orangutan Kalimantan Terbakar
    In Lingkungan
    Kamis, 3 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media