Sabtu, 28 Maret 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Testimoni Aktivis, KTT G20 Solusi Palsu Krisis Iklim dan Bungkam Demokrasi

Rabu, 16 November 2022
A A
Testimoni para aktivis Gerak Rakyat terkait gelaran KTT G20 di Bali, 16 November 2022. Foto dok. YLBHI

Testimoni para aktivis Gerak Rakyat terkait gelaran KTT G20 di Bali, 16 November 2022. Foto dok. YLBHI

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Hingga hari ke-2 Konferensi Tingkat Tinggi Group Twenty (KTT G20) para elit negara di Bali terus menuai protes. Aliansi masyarakat sipil Gerak Rakyat menengarai perhelatan bertajuk “Recover Together, Recover Stronger” dengan dalih merencanakan masa depan dunia hanya untuk memperkuat transaksi demi memperkaya oligarki dari negara penyumbang tiga per empat emisi global. Mereka diduga membahas berbagai “solusi palsu” pencegahan krisis iklim.

Terbukti, pembicaraan nasib masa depan manusia dan lingkungan tersebut tidak melibatkan masyarakat. Sebaliknya, pemerintah justru membungkam partisipasi publik demi mengamankan citra pemerintah di mata internasional.

Sejumlah aktivitas masyarakat sipil yang diselenggarakan di Bali mendapatkan intimidasi dan pembubaran dari aparat negara. Juga dialami masyarakat yang menjadi korban langsung dari kerusakan lingkungan. Situasi di Bali pun dibuat mencekam dengan jumlah personel keamanan berlebihan.

Baca Juga: Gempa Bolsel Magnitudo 5,1 Dipicu Aktivitas Lempeng Sangihe

Beberapa aktivis yang bergabung dalam Gerak Rakyat yang meliputi 350 Indonesia, XR Indonesia, Satya Bumi, Yayasan Pikul, Public Virtue Research Institute, WALHI, Greenpeace Indonesia, Solidaritas Perempuan, Lembaga Peradaban Luhur, Aksi! For Gender, Social, and Ecological Justice, Trend Asia, dan Yayasan LBH Indonesia menyampaikan testimoni atas tindakan otoriter pemerintah terhadap masyarakat sipil menjelang dan selama KTT G20 berlangsung.

“Kami mencoba bertanya kepada masyarakat selama di Bali dalam diskusi bersama mahasiswa di Universitas Udayana. Kami membahas soal energi bersih dan demokrasi, ternyata ruang hidup rakyat semakin sempit. Pemerintah selalu menyebut pembangunan yang dilakukan untuk menyejahterakan rakyat. Nyatanya justru banyak warga dimiskinkan dan dimarginalkan dari Proyek Strategis Nasional (PSN). Perampasan lahan disertai kriminalisasi dan pembungkaman terjadi. Alam dirusak oleh sumber energi yang tidak bersih,” ujar Pratiwi Febri dari Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) dalam konferensi pers, Rabu,16 November 2022.

Baca Juga: Sampah Plastik Kemasan Lima Produsen Besar Dominasi Perairan Sorong

Menurut Gerak Rakyat, pemerintah seharusnya tak perlu khawatir. Lebih baik membuka ruang demokrasi seluasnya bagi masyarakat sipil. Bukan membatasi Forum KTT G20 yang berlangsung di Bali hanya menjadi forum eksklusif dari oligarki dengan membajak ruang hidup masyarakat. Bahkan perlawanan masyarakat sipil atas gagasan elit dibungkam demi narasi tunggal milik pemerintah.

“Dua minggu terakhir, bahkan sebelumnya adalah periode represif. Greenpeace yang ingin berkampanye kreatif dengan kampanye bersepeda sepanjang pantura dan mengunjungi komunitas terdampak krisis iklim, seperti masyarakat terdampak kenaikan permukaan laut di Pekalongan, Demak, dan Semarang. Juga masyarakat yang mengalami pencemaran batu bara di Marunda, dan wilayah tragedi Lapindo. Namun, aksi kreatif dan damai itu dibenturkan dengan kekerasan lewat
organisasi massa yang dirancang untuk menghentikan kami di Probolinggo,” tutur Leonard Simanjuntak dari Greenpeace Indonesia.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: energi bersihKTT G20partisipasi publikproyek strategis nasionalruang demokrasisolusi palsuSolusi Palsu Krisis Iklimtindakan otoriter pemerintahYLBHI

Editor

Next Post
Aksi komunitas mural di Toraja, Sulawesi Selatan merespons KTT G20 di Bali. Foto 4ksi Bersama Komunitas Mural

4ksi Bersama Komunitas Mural, Elite Together Elite Stronger

Discussion about this post

TERKINI

  • Westa, aplikasi pengelolaan sampah berbasis AI. Foto Dok. FEB UGM.Aplikasi Westa, Identifikasi Jenis dan Berat Sampah untuk Menghitung Emisi Karbon
    In IPTEK
    Sabtu, 14 Maret 2026
  • Seorang mahout memandikan gajah di aliran sungai kawasan Konservasi Gajah Tangkahan, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Foto Soetana Hasby/Wanaloka.com.Instruksi Presiden untuk Selamatkan 21 Kantong Gajah yang Tersisa
    In News
    Sabtu, 14 Maret 2026
  • Dua perempuan menanam padi di sawah. Foto Wanaloka.com.Terdampak Perjanjian Dagang Timbal Balik Indonesia-USA, Perempuan Adat Melawan
    In Lingkungan
    Jumat, 13 Maret 2026
  • Desakan pengesahan RUU Masyarakat Adat dalam Aksi Kamisan, 5 September 2024. Foto AMAN.Hari Masyarakat Adat Nasional, Tak Ada Alasan RUU Masyarakat Adat Tak Disahkan
    In Rehat
    Jumat, 13 Maret 2026
  • Pengolahan sampah di PIAT UGM. Foto Dok. Humas UGM.Tragedi Bantargebang Akibat Pengelolaan Sampah Berorientasi pada Pembuangan
    In Lingkungan
    Kamis, 12 Maret 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media