Sabtu, 28 Maret 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Tren Pertanian Organik Meningkat, Dorong Pemanfaatan Pestisida dan Pupuk Nabati

Inovasi ini tidak hanya menekan penggunaan bahan kimia, tetapi juga menjaga keanekaragaman hayati serta keberlanjutan ekosistem pertanian.

Sabtu, 27 September 2025
A A
Kompos dari sisa dapur untuk pupuk tanaman. Foto melGreenFR/pixabay.com.

Kompos dari sisa dapur untuk pupuk tanaman. Foto melGreenFR/pixabay.com.

Share on FacebookShare on Twitter

Ia juga mendorong peneliti muda untuk tidak berhenti pada publikasi akademik.

“Jadilah peneliti sekaligus pengusaha. Ilmu harus berlanjut ke hilirisasi dan komersialisasi agar benar-benar bermanfaat,” pesan dia.

Sementara Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Tanaman Perkebunan, Samsudin menegaskan bahwa pengendalian hama dan penyakit dalam sistem organik memiliki tantangan tersendiri karena tidak menggunakan pestisida sintetis. Kecepatan kerja pengendali hayati relatif lambat, sementara potensi serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) tetap tinggi.

Baca juga: Kepemimpinan Baru Walhi Janjikan Garda Terdepan Keadilan Ekologis

“Jadi strategi pencegahan dengan teknologi ramah lingkungan sangat dibutuhkan,” jelas dia.

Samsudin mencontohkan beragam inovasi, mulai dari biopestisida berbasis patogen serangga, atraktan alami, asap cair, hingga minyak nabati seperti mimba dan serai wangi. Selain itu, teknik budidaya seperti rotasi tanaman, tumpangsari, dan sanitasi kebun terbukti mampu menekan populasi hama secara signifikan.

Lebih jauh, biopestisida dan agen hayati seperti jamur patogen serangga, nematoda, hingga jamur antagonis merupakan bagian integral dari Pengendalian Hama Terpadu (PHT).

Baca juga: Ancaman Lahan Sawah di Indonesia, Tidak Dilindungi dan Alih Fungsi Kian Mengkhawatirkan

“Inovasi ini tidak hanya menekan penggunaan bahan kimia, tetapi juga menjaga keanekaragaman hayati serta keberlanjutan ekosistem pertanian,” kata dia.

Dengan penerapan inovasi tersebut, pertanian organik dapat menjadi lebih produktif sekaligus ramah lingkungan.

“Ke depan, teknologi pengendalian hayati harus menjadi arus utama, bukan sekadar alternatif,” tegas Samsudin.

Baca juga: BMKG Ingatkan Lagi Potensi Gempa Bumi Megathrust M8,8 di Pesisir Selatan DIY

Selain pengendalian hama, kualitas tanah juga menjadi pondasi penting dalam pertanian organik. Achmad Rachman dari Lembaga Sertifikasi Organik INOFICE menekankan bahwa tanah sehat adalah titik awal keberhasilan sistem organik.

Pupuk organik yang berkualitas dapat memperbaiki struktur tanah, meningkatkan aktivitas mikroba, serta memperkuat daya tahan tanaman terhadap penyakit. Hal ini memberi peluang besar bagi Indonesia untuk mengembangkan produk organik berdaya saing tinggi di pasar global.

“Kesuburan tanah menentukan produktivitas dan kualitas hasil. Sehingga pupuk organik dan pengelolaan tanah terpadu menjadi krusial,” imbuh dia. [WLC02]

Sumber: BRIN

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: BRINpertanian organikpestisida kimiapestisida nabatipupuk nabati

Editor

Next Post
PLTP Kamojang di Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Foto pln.co.id.

Klaim Ramah Lingkungan, Anggota Komisi XII DPR dan Pakar Ingatkan Risiko Energi Panas Bumi

Discussion about this post

TERKINI

  • Westa, aplikasi pengelolaan sampah berbasis AI. Foto Dok. FEB UGM.Aplikasi Westa, Identifikasi Jenis dan Berat Sampah untuk Menghitung Emisi Karbon
    In IPTEK
    Sabtu, 14 Maret 2026
  • Seorang mahout memandikan gajah di aliran sungai kawasan Konservasi Gajah Tangkahan, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Foto Soetana Hasby/Wanaloka.com.Instruksi Presiden untuk Selamatkan 21 Kantong Gajah yang Tersisa
    In News
    Sabtu, 14 Maret 2026
  • Dua perempuan menanam padi di sawah. Foto Wanaloka.com.Terdampak Perjanjian Dagang Timbal Balik Indonesia-USA, Perempuan Adat Melawan
    In Lingkungan
    Jumat, 13 Maret 2026
  • Desakan pengesahan RUU Masyarakat Adat dalam Aksi Kamisan, 5 September 2024. Foto AMAN.Hari Masyarakat Adat Nasional, Tak Ada Alasan RUU Masyarakat Adat Tak Disahkan
    In Rehat
    Jumat, 13 Maret 2026
  • Pengolahan sampah di PIAT UGM. Foto Dok. Humas UGM.Tragedi Bantargebang Akibat Pengelolaan Sampah Berorientasi pada Pembuangan
    In Lingkungan
    Kamis, 12 Maret 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media