Selain itu, penulis buku Reset Indonesia, Dandhy Laksono hadir mewakili Koperasi Indonesia Baru serta Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Semarang, juga Pengurus Masjid Nurul Asri turut hadir untuk memberikan dukungan.
Upacara ini digelar sebagai simbol penting gerakan rakyat yang mengharapkan perubahan dan perbaikan bagi Indonesia setelah 81 tahun merdeka.
“Upacara ini ada untuk mewujudkan Pancasila tidak sekedar teks,” jelas Gunretno dari JMPPK
“Perlu untuk mengilhami bagaimana cara rakyat melihat kemerdekaan, bukan hanya cara negara melihat kemerdekaan,” imbuh Zainal Arifin Mochtar.
Hari ini, masyarakat desa kian terhimpit oleh kondisi ekonomi Indonesia yang buruk dan program yang tidak berpihak pada kepentingan rakyat. KDMP yang dipaksakan merenggut dana desa hingga 70%, anak-anak keracunan karena MBG, ASN yang dihimpit dalam bekerja dan upah yang tidak penuh dibayar, hingga penanganan bencana alam dan kerusakan lingkungan yang tidak dimitigasi dengan baik akibat alokasi anggaran yang kacau dari pengelola negara.
Pati adalah salah satu titik di mana warga bersatu mengupayakan kedaulatan rakyat yang sebenar-benarnya, karena pemerintah sesungguhnya adalah pengelola, penerima mandat rakyat, bukan penguasa yang bisa bertindak tanpa kehendak rakyat. Merdeka! [WLC02]






Discussion about this post