Senin, 14 September 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Co-firing Biomassa dari Proyek Bioenergi Kayu di Jawa Korbankan Ekosistem Hutan dan Masyarakat

Indonesia ingin dijadikan negara penghasil bahan baku lewat transisi energi dan swasembada pangan sebagai bagian dari rantai kapitalisme global, lalu diklaim sebagai energi bersih.

Selasa, 18 Agustus 2026
A A
Diskusi dan pemutaran film Film dokumenter “Jejak Kolonial di Hutan Jawaˮ dalam Festival Udin 2026, 15 Agustus 2026. (Dok. Festival Udin 2026)

Diskusi dan pemutaran film Film dokumenter “Jejak Kolonial di Hutan Jawaˮ dalam Festival Udin 2026, 15 Agustus 2026. (Dok. Festival Udin 2026)

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Proyek Hutan Tanaman Energi (HTE) untuk co-firing biomassa di PLTU mereproduksi praktik penguasaan dan perampasan tanah yang hadir sejak masa kolonial Belanda. Film dokumenter “Jejak Kolonial di Hutan Jawaˮ oleh Trend Asia menyorot bagaimana PLN bersama Perhutani melestarikan praktik itu di pedesaan Jawa.

Sebut saja seperti Desa Waluran Mandiri, Sukabumi (Jawa Barat), Desa Sedayu, Grobogan (Jawa Tengah), dan Desa Papringan, Bojonegoro (Jawa Timur). Co-firing meruncingkan konflik tenurial, menyusutkan sumber penghidupan masyarakat, dan melanggengkan jejak kolonial atas nama pembangunan.

Wajah kolonial masih tercermin dalam pengembangan proyek bioenergi kayu di pedesaan Jawa. Logika perampasan lahan yang mengalir dalam agenda transisi energi pemerintahan Prabowo-Gibran berakar pada praktik penguasaan Jawatan Kehutanan Belanda (Boschwezen). Pola itu terus bertransformasi pada masa Orde Lama hingga Orde Baru, dan kini direproduksi melalui proyek transisi energi palsu: bioenergi kayu untuk co-firing atau pengoplosan pelet kayu bersama batu bara di PLTU.

Film dokumenter “Jejak Kolonial di Hutan Jawa” oleh Trend Asia mengungkap tabir tersebut di Desa Waluran Mandiri (Sukabumi, Jawa Barat), Desa Sedayu (Grobogan, Jawa Tengah), dan Desa Papringan (Bojonegoro, Jawa Timur) dalam Festival Udin 2026 di Concert Hall ISI Yogyakarta di Bantul, Sabtu, 15 Agustus 2026. Film ini mendokumentasi bagaimana praktik kolonial melestarikan perampasan tanah, menyusutkan sumber penghidupan, dan mewariskan konflik agraria dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Menurut Juru Kampanye Bioenergi Trend Asia, Bayu Maulana, skema co-firing ini digadang-gadang mendorong transisi energi untuk pemulihan iklim, ketahanan energi, dan mensejahterakan masyarakat, kenyataannya tidak. Justru memicu deforestasi sampai satu juta hektare lahan di seluruh Indonesia.

“Artinya, co-firing tetap mengorbankan ekosistem hutan dan masyarakat yang berdaulat di dalamnya. Proyek ini bertentangan dengan kedaulatan pangan yang sesungguhnya,” ujar Bayu.

Dalam dokumen ketenagalistrikan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2021 – 2030, pemerintah Indonesia mendorong skema co-firing di 52 PLTU. Sebagian besar PLTU co-firing berkonsentrasi di Pulau Jawa.

Selain itu, dalam peta jalan energi terbaru, pembakaran kayu direncanakan mengambil porsi sebesar 12,2% dalam bauran energi terbarukan per 2030. Padahal, klaim energi (Baca: TrenAsia) bersih dari skema tersebut terus dikritik secara tajam sebab dampak ekologis-sosial yang kian masif.

“Ada rentetan persoalan yang melingkupi proyek biomassa dan transisi energi secara garis besar. Kriminalisasi dan reforma agraria yang tidak pernah selesai. Negara gagal mendefinisikan apa itu energi, konsekuensinya pun sangat banyak. Penting untuk melihat secara utuh makna dari energi dan bagaimana politik energi hari ini mengitarinya. PLN yang bersikap angkuh hanya mengakomodasi pengusaha batu bara,” kata Himawan Kurniadi dari Lingkar Keadilan Ruang.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: co-firing biomassaFestival Udin 2026Film Jejak Kolonial di Hutan JawaLingkar Keadilan RuangTrend Asia

Editor

Next Post
Pekan Rakyat Lingkungan Hidup dan KNLH 2026, di Balai Adat Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR), Jumat, 21 Agustus 2026. (Tim Media PRLH 2026)

Pulihkan Indonesia untuk Keadilan Ekologis: Hentikan Sumber-sumber Kerusakan!

Discussion about this post

TERKINI

  • Peoples’ Conservation Summit (PCS) 2026: Road to COP-17 CBD, Armenia, digelar sejak 1 hingga 3 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, UGM, Yogyakarta.PCS 2026 Hasilkan Deklarasi Konservasi Rakyat Indonesia
    In News
    Sabtu, 5 September 2026
  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Jaringan masyarkat sipil mendesak pemerintah menghentikan konflik agraria dan pelanggaran HAM di Desa Rakawuta, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, dan di wilayah Komunitas Adat Muara Tae, Kutai Barat, Kalimantan Timur.Hentikan Konflik Agraria dan Pelanggaran HAM di Rakawuta dan Muara Tae
    In News
    Kamis, 3 September 2026
  • Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Foto Geopix.Karhutla Borneo, 25 Juta Hektar Wilayah Habitat Orangutan Kalimantan Terbakar
    In Lingkungan
    Kamis, 3 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media