Minggu, 29 Maret 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Vaksin HPV Pencegah Kanker Serviks Masuk dalam Imunisasi Rutin Nasional

Rabu, 4 Mei 2022
A A
Ilustrasi perempuan yang tengah sakit. Foto Saranya7/pixabay.com.

Ilustrasi perempuan yang tengah sakit. Foto Saranya7/pixabay.com.

Share on FacebookShare on Twitter

Sementara di luar negeri, kanker serviks tidak lagi menjadi masalah karena ada deteksi dini dan vaksinasi HPV yang berjalan baik.

“Pemberian vaksin HPV di Indonesia bisa menjadi angin segar dalam menurunkan angka kejadian kanker serviks di Indonesia,” tambah Kepala Departemen Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair) ini.

Baca Juga: Hati-hati, Jasa Penukaran Uang di Jalanan Bisa Berakibat Riba

Berkaitan dengan dampak negatif vaksin HPV yang dianggap dapat melegitimasikan angka seks bebas seperti yang beredar di masyarakat, Brahmana menegaskan bahwa secara ilmiah tidak ada dampak negatif terkait vaksin HPV ini.

Pemberian vaksin HPV bukan berarti 100 persen terproteksi dari kanker serviks. Namun vaksin HPV menurunkan risiko terjadinya kanker servik secara signifikan.

“Sehingga hubungan seks bebas tetap harus dihindari,” jelas Brahmana.

Brahmana mengimbau kepada masyarakat Indonesia untuk ikut serta menyukseskan target pemerintah untuk memberikan vaksin HPV di seluruh provinsi pada 2023.

Menurutnya, upaya pencegahan kanker serviks dapat dilakukan dengan dua cara. Pertama, vaksin HPV pada usia muda. Kedua, melakukan skrining kanker serviks melalui pap smear secara rutin bagi perempuan yang telah berhubungan seks hingga usia 65 tahun.

Deteksi Dini Kanker Serviks

Sementara dokter kandungan M. Ary Zucha dari Departemen Obstetri dan Ginekologi, FKKMK UGM menjelaskan sebagian besar penularan kanker serviks melalui kontak seksual. Kemudian non-seksual, misalnya melalui pakaian dalam yang berganti-ganti orang, kurang bersih, sarung tangan dokter yang tidak berganti setiap pasien, dan sebagainya.

Pencegahan kanker serviks bisa dilakukan, pertama dengan vaksinasi HPV (pencegahan primer) dan lesi prakanker (pencegahan sekunder). Vaksinasi atau imunisasi HPV dilakukan untuk mencegah infeksi virus HPV yang dapat menyebabkan kanker serviks.

Baca Juga: Yang Dilakukan dan Dihindari agar Tetap Fit Selama Mudik

Kedua, proses terjadinya kanker panjang, dari pertama kali terinfeksi HPV sampai menjadi kanker membutuhkan proses 3-17 tahun atau proses panjang yang dinamakan lesi pra kanker. Dalam proses ini sudah terjadi infeksi, tetapi bisa dicegah sebelum menjadi kanker.

Zucha memaparkan ada dua kelompok virus HPV, yaitu HPV risiko tinggi dan HPV risiko rendah. HPV risiko tinggi dikaitkan dengan perkembangan menjadi kanker serviks, misalnya tipe 16 dan 18. Sedangkan HPV risiko rendah tidak menyebabkan kanker serviks, tapi menyebabkan kutil, misalnya tipe 6 dan 11.

“Jika mengenali lesi prakanker atau sebelum terjadinya kanker serviks dan diobati, maka angka kesembuhannya 86-95 persen,” kata Zucha.

Artinya, apabila diketahui sejak awal, angka kesembuhannya tinggi sekali. Kanker masih bisa dioperasi dan pengobatannya tuntas, angka kesembuhannya juga semakin baik. Namun semakin stadium lanjut, angka kesembuhannya rendah.

Masyarakat disarankan melakukan skrinning kanker serviks dengan menjalani pap smear atau IVA di puskesmas, bidan, atau dokter terdekat. [WLC02]

Sumber: kemkes.go.id, unairac.id, ugm.ac.id

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: kanker leher rahimkanker serviksKemenkeslesi prakankerpap smearUGMUnairvaksin HPV

Editor

Next Post
Ilustrasi sarapan. Foto the5th/pixabay.com.

Ini Tips Menjaga Pola Makan Pasca Puasa Ramadhan

Discussion about this post

TERKINI

  • Westa, aplikasi pengelolaan sampah berbasis AI. Foto Dok. FEB UGM.Aplikasi Westa, Identifikasi Jenis dan Berat Sampah untuk Menghitung Emisi Karbon
    In IPTEK
    Sabtu, 14 Maret 2026
  • Seorang mahout memandikan gajah di aliran sungai kawasan Konservasi Gajah Tangkahan, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Foto Soetana Hasby/Wanaloka.com.Instruksi Presiden untuk Selamatkan 21 Kantong Gajah yang Tersisa
    In News
    Sabtu, 14 Maret 2026
  • Dua perempuan menanam padi di sawah. Foto Wanaloka.com.Terdampak Perjanjian Dagang Timbal Balik Indonesia-USA, Perempuan Adat Melawan
    In Lingkungan
    Jumat, 13 Maret 2026
  • Desakan pengesahan RUU Masyarakat Adat dalam Aksi Kamisan, 5 September 2024. Foto AMAN.Hari Masyarakat Adat Nasional, Tak Ada Alasan RUU Masyarakat Adat Tak Disahkan
    In Rehat
    Jumat, 13 Maret 2026
  • Pengolahan sampah di PIAT UGM. Foto Dok. Humas UGM.Tragedi Bantargebang Akibat Pengelolaan Sampah Berorientasi pada Pembuangan
    In Lingkungan
    Kamis, 12 Maret 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media