“Selama kasus ini dapat ditangani dengan surveilans yang baik, penanganan kasus yang cepat, serta peningkatan cakupan vaksinasi, maka masih bisa dikendalikan dan tidak menimbulkan darurat kesehatan,” jelas Ratni, Minggu, 8 Maret 2026.
Salah satu faktor utama yang berkontribusi pada peningkatan kasus campak adalah penuruan cakupan vaksinasi di masyarakat. Penurunan ini dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari keterbatasan akses layanan kesehatan, jarak yang jauh, hingga berkurangnya kegiatan imunisasi di tingkat masyarakat. Selain itu, penyebaran informasi yang keliru mengenai vaksin di media sosial juga turut memengaruhi kepercayaan masyarakat terhadap imunisasi.
Baca juga: Dugaan Kriminalisasi Warga Sagea – Kiya, Jatam: Pasal 162 UU Minerba Melanggengkan Praktik SLAPP
Ia menegaskan campak tidak boleh dianggap sebagai penyakit ringan. Jika tidak ditangani dengan baik, maka penyakit ini dapat menimbulkan komplikasi serius seperti pneumonia atau radang paru-paru hingga kematian.
“Banyak masyarakat yang menyepelekan campak,” ujar dia.
Sementara imunisasi justru harus diberikan ketika anak berada dalam kondisi sehat. Penundaan vaksinasi dapat meningkatkan risiko penularan karena anak yang belum memiliki antibodi. Penundaan ini bukan hanya meningkatkan risiko, tetapi juga dapat memicu penularan yang lebih luas hingga menimbulkan kejadian luar biasa (KLB).
Campak merupakan penyakit yang sangat mudah menular karena virusnya dapat menyebar melalui udara atau droplet. Satu anak yang terkena campak berpotensi menularkan virus tersebut hingga terhadap 18 orang. Sebab virus campak dapat bertahan di udara, terutama di ruangan tertutup, hingga sekitar dua jam setelah penderita berada di lokasi tersebut.
“Penularannya sangat cepat karena virus campak menyebar melalui udara,” ungkap dia.
Sebagian besar kasus campak di Indonesia memang ditemukan di wilayah dengan cakupan imunisasi rendah. Kondisi geografis Indonesia yang terdiri dari banyak pulau kecil juga menjadi tantangan tersendiri dalam distribusi vaksin serta penyebaran informasi kesehatan kepada masyarakat.
Baca juga: Kematian Anak Gajah di Tesso Nilo, Pakar Ingatkan Bahaya Pasang Jerat Bagi Satwa Liar
Campak juga dapat menimbulkan berbagai komplikasi jangka panjang seperti radang otak, kejang, hingga pneumonia yang dapat menurunkan kualitas kesehatan generasi mendatang. Kelompok yang paling berisiko mengalami komplikasi berat adalah bayi, anak dengan gizi buruk, serta anak yang tidak mendapatkan vaksinasi.
Kemudian ada yang dinamakan gejala sisa. Kondisi ini dapat menimbulkan radang otak, kejang, pneumonia.
“Jadi ada penurunan kualitas generasi,” terang dia.
Setelah sembuh dari campak, seseorang dapat mengalami kondisi yang dikenal sebagai immune amnesia. Yakni kondisi ketika sistem kekebalan tubuh “melupakan” sebagian perlindungan terhadap penyakit yang sebelumnya pernah dilawan oleh tubuh.
“Akibatnya, seseorang menjadi lebih rentan terhadap infeksi lain,” imbuh dia.
Untuk mencegah penularan, penting mengikuti jadwal imunisasi campak yang diberikan dalam beberapa tahap, yaitu pada usia 9 bulan, 18 bulan, dan 5 tahun. Pengulangan ini diperlukan karena virus dalam vaksin memiliki kekuatan yang lebih lemah dibandingkan virus campak liar sehingga perlu diberikan beberapa kali agar kekebalan tubuh terbentuk secara optimal.
Selain imunisasi, Ratni juga mengingatkan pentingnya upaya pencegahan sederhana di masyarakat. Seperti menggunakan masker saat mengalami batuk dan pilek, mencuci tangan secara rutin, serta meningkatkan edukasi kesehatan kepada masyarakat.
Baca juga: Serbuan Tawon di Tol Cipularang, Alarm Penurunan Kualitas Lingkungan
Kekebalan populasi menurun
Lonjakan kasus campak yang terjadi belakangan disebut Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz), IPB University, Aisyah Amanda Hanif sebagai indikator menurunnya kekebalan kelompok (herd immunity). Mengingat campak merupakan penyakit yang sangat menular.
Berdasarkan studi, sekitar 90 persen orang yang tidak memiliki kekebalan terhadap virus campak berpotensi tertular apabila terpapar. Tingkat cakupan imunisasi sangat menentukan dalam mencegah penyebaran penyakit ini.
Fenomena herd immunity akan tercapai apabila lebih dari 94 persen masyarakat telah memiliki kekebalan terhadap campak, baik melalui vaksinasi maupun infeksi sebelumnya. Sementara target cakupan imunisasi campak yang ditetapkan Kementerian Kesehatan adalah minimal 95 persen.
“Jika cakupan imunisasi menurun, jumlah individu yang rentan akan meningkat. Ketika virus masuk ke komunitas dengan banyak orang yang belum memiliki kekebalan, wabah dapat terjadi dengan lebih mudah,” papar Aisyah.
Campak tidak dapat dianggap sebagai penyakit ringan atau sekadar ruam pada kulit. Virus campak menyebar melalui udara (airborne) dan umumnya masuk ke tubuh melalui saluran pernapasan.
Setelah masuk ke dalam tubuh, virus akan memperbanyak diri dan menyebar ke berbagai organ. Respons imun tubuh terhadap infeksi inilah yang kemudian menimbulkan ruam khas pada pasien campak.
Baca juga: Potensi Hujan Lebat Saat Libur Lebaran Idulfitri 2026
Dalam upaya pencegahan, vaksinasi menjadi langkah perlindungan yang paling efektif. Vaksin campak menggunakan virus hidup yang telah dilemahkan (live attenuated virus), sehingga mampu melatih sistem imun tubuh untuk mengenali virus tanpa menimbulkan penyakit.
Setelah vaksin diberikan, tubuh akan membentuk antibodi spesifik serta memori imun jangka panjang. Jika suatu saat terpapar virus campak, maka sistem imun dapat merespons dengan cepat dan menetralisir virus sebelum menyebabkan penyakit.
Secara ilmiah, vaksin campak terbukti memiliki efektivitas lebih dari 95 persen setelah dua dosis dan telah digunakan secara global selama puluhan tahun dengan profil keamanan yang baik.
Bagi anak yang belum atau terlambat mendapatkan imunisasi, vaksin tetap dapat diberikan melalui program catch-up vaccination atau imunisasi kejar. Langkah ini sangat penting karena anak yang belum divaksin merupakan kelompok yang paling rentan tertular.
Ia pun mengimbau masyarakat untuk memastikan anak mendapatkan imunisasi campak lengkap, segera melakukan imunisasi kejar jika tertunda, mengenali gejala awal campak, serta mengisolasi pasien yang dicurigai terinfeksi agar tidak menularkan kepada orang lain.
“Campak adalah penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin. Dengan cakupan imunisasi yang tinggi dan kesadaran masyarakat yang baik, penyebaran campak dapat dicegah,” pesan dia. [WLC02]
Sumber: Kementerian Kesehatan, UGM, IPB University






Discussion about this post