Senin, 28 September 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Vetiver Tanaman Pengendali Longsor Dangkal dan Permukaan

Vetiver sebagai tanaman pengendali tanah longsor hanya efektif untuk longsor dangkal dengan kedalaman 1,5 - 3 meter.

Minggu, 30 Juni 2024
A A
Sereh, salah satu tanaman vetiver system. Foto Dok. BNPB.

Sereh, salah satu tanaman vetiver system. Foto Dok. BNPB.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Saat momen Rakornas Penanggulangan Bencana pada 2020, Presiden Joko Widodo memperkenalkan vetiver sebagai tanaman untuk mencegah banjir dan longsor. Ia juga menginstruksikan untuk ditanam di berbagai daerah. Pada 6 Januari 2020, Kepala BNPB Letjen Doni Monardo masa itu meresponsnya dengan melakukan koordinasi dan langkah langkah demi merespon tugas mulia tersebut. Lantas, apa “vetiver” itu?

Peneliti Pusat Riset Ekologi dan Etnobiologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Agung B. Supangat menjelaskan, Vetiver System atau VS adalah sebuah teknologi sederhana, berbiaya murah yang memanfaatkan rumput vetiver hidup untuk Konservasi Tanah dan Air (KTA), serta perlindungan lingkungan, dengan prinsip soil bio-engineering, dan berkonsep teknologi hijau atau Green Technology.

Soil Bio-engineering adalah pemanfaatan bahan yang berasal dari tanaman, baik hidup ataupun mati untuk mengatasi berbagai masalah lingkungan. Sebut saja, tanah longsor dan erosi. Penanaman vetiver efektif untuk penanggulangan erosi pada permukaan dan longsor dangkal di tebing berupa jalan atau sungai, serta stabilitasi lereng.

Baca Juga: Aktivitas Tambang Galian C untuk Material IKN Meninggalkan Banjir di Palu-Donggala

“Manfaat vetiver pada produksi akar atau ekonomi sebagai penghasil minyak atsiri melalui ekstraksi akar wangi. Pada bidang ekologi sebagai tanaman KTA, untuk memperbaiki lingkungan dengan menggunakan tanaman lahan dan air,” papar Agung saat Pendampingan Teknis BRIDA Sumatera Barat dalam kegiatan kajian Mitigasi Bencanadengan Penerapan Vegetasi Penahan Longsor, di Istana Gubernur Sumatera Barat pada 26 Juni 2024.

Manfaat lainnya, untuk rehabilitasi lahan bekas pertambangan, pencegah erosi lereng, penahan abrasi pantai dan stabilisasi tebing melalui teknologi VS. Teknologi ini adalah sebuah teknologi yang sudah dikembangkan selama lebih dari 200 tahun di India dan Thailand. Daunnya bermanfaat untuk menyerap karbon, pakan ternak, mengusir hama, bahan atap rumah, dan bahan dasar kertas.

“Vetiver juga untuk meningkatan produksi tanaman di lahan olah, dan sebagainya,” imbuh dia.

Baca Juga: Destana Karangwuni Merawat Siaga dari Sesar Megathrust di Pesisir Selatan

Agung menggarisbawahi, yang penting dari vetiver sebagai tanaman pengendali tanah longsor hanya efektif untuk longsor dangkal dengan kedalaman 1,5 sampai 3 meter.

Sementara vegetasi atau tanaman untuk daerah rawan longsor memiliki persyaratan yang terdiri dari perakaran dalam/capai batuan, perakaran rapat dan mengikat agregat tanah dengan serabut dan dalam. Bobot biomassa ringan dan tajuk memiliki kapasitas intersepsi sedang-tinggi, serta tanamannya sebisa mungkin yang memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat.

“Berdasarkan analisis dan kajian, kami menyimpulkan untuk menambah resiliensi daerah rawan longsor Sumatera Barat perlu penerapan soil bio-engineering dengan penanaman vetiver. Cara penguatan tanahnya melalui sistem yang mudah, sederhana, dan berkelanjutan di daerah-daerah rawan longsor serta lahan miring,” papar dia.

Baca Juga: Dwikorita Karnawati, Suhu Panas di Kota Besar 30 Tahun Terakhir adalah Efek UHI

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: Banjir dan LongsorBNPBBRINlongsor dangkaltanaman vetiverVetiver System

Editor

Next Post
Kondisi salah satu rumah warga di tepi lubang bekas tambang material urug di Kecamatan Gedangsari, Kabupaten Gunungkidul, DIY, Juni 2024. Foto @noto_ suwarno¬_id/instagram.

Walhi Sebut Tambang Ilegal Kian Marak Akibat Proyek Tol Yogyakarta-Solo

Discussion about this post

TERKINI

  • Peoples’ Conservation Summit (PCS) 2026: Road to COP-17 CBD, Armenia, digelar sejak 1 hingga 3 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, UGM, Yogyakarta.PCS 2026 Hasilkan Deklarasi Konservasi Rakyat Indonesia
    In News
    Sabtu, 5 September 2026
  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Jaringan masyarkat sipil mendesak pemerintah menghentikan konflik agraria dan pelanggaran HAM di Desa Rakawuta, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, dan di wilayah Komunitas Adat Muara Tae, Kutai Barat, Kalimantan Timur.Hentikan Konflik Agraria dan Pelanggaran HAM di Rakawuta dan Muara Tae
    In News
    Kamis, 3 September 2026
  • Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Foto Geopix.Karhutla Borneo, 25 Juta Hektar Wilayah Habitat Orangutan Kalimantan Terbakar
    In Lingkungan
    Kamis, 3 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media