“Perjalanan penyakitnya bisa cepat memburuk, sehingga kewaspadaan sejak fase awal sangat penting,” tutur Edwin.
Belajar dari penanganan Covid-19
Hingga kini belum ditemukan laporan kasus pada manusia di Indonesia. Namun faktor risiko tetap perlu diperhatikan karena Indonesia berada di wilayah ekologi yang serupa dengan negara endemis.
Keberadaan reservoir alami virus Nipah di kawasan Asia Tenggara menjadi salah satu aspek penting. Selain itu, wabah masih tercatat terjadi di sejumlah negara tetangga.
Baca juga: Program Gentengisasi, Pakar Ingatkan Rumah Tradisional di Indonesia Tak Seragam
“Potensi spillover tetap ada meski risikonya saat ini masih dinilai rendah,” kata dia.
Apabila ditemukan pasien dengan gejala yang mengarah ke virus Nipah, rumah sakit rujukan akan mengikuti protokol penanganan penyakit infeksi emerging. Langkah awal meliputi identifikasi kasus berdasarkan riwayat paparan dan perjalanan pasien. Isolasi segera dilakukan dengan penerapan kewaspadaan standar dan transmisi. Tenaga kesehatan juga diwajibkan menggunakan alat pelindung diri secara lengkap.
“Penanganan awal mencakup isolasi, pelaporan cepat, pemeriksaan laboratorium molekuler, serta terapi suportif intensif,” imbuh dia.
Indonesia telah memiliki sistem surveilans penyakit infeksi emerging serta jejaring rumah sakit rujukan di berbagai daerah. Pengalaman menghadapi pandemi Covid-19 dan flu burung turut memperkuat kesiapan sistem kesehatan nasional. Namun penguatan kapasitas ruang isolasi dan sumber daya manusia masih dibutuhkan di sejumlah wilayah. Upaya kewaspadaan tetap perlu dibarengi edukasi publik yang proporsional.
“Masyarakat tidak perlu panik, tetapi tetap waspada dengan menerapkan langkah pencegahan sederhana,” pesan Edwin. [WLC02]
Sumber: UGM






Discussion about this post