Jumat, 29 Agustus 2025
wanaloka.com
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Walhi dan F-PKS: Lingkungan Terancam Rusak, Pemindahan IKN Harus Dihentikan

Walhi dan Fraksi PKS DPR RI mendesak pemerintah menghentikan pemindahan ibu kota negara ke Kalimantan Timur karena berpotensi merusak lingkungan hidup, ekosisten, dan menimbulkan konflik sosial.

Jumat, 21 Januari 2022
A A
Dampak penambangan di Kalimantan Timur. Foto kaltimprov.go.id.

Dampak penambangan di Kalimantan Timur. Foto kaltimprov.go.id.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Rencana pemindahan ibu kota negara (IKN) ke Kalimantan Timur menyimpan persoalan besar terhadap aspek ekosistem dan lingkungan. Lantaran pembangunan kota akan merusak fungsi hutan, merusak lingkungan dan keanekaragaman hayati. Hal itu pula jadi salah satu alasan yang melatarbelakangi Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (F-PKS) menolak pengesahan Rancangan Undang-Undang Ibu Kota Negara (RUU IKN) menjadi Undang-Undang.

“Kondisi saat ini menunjukkan 59,5 persen luas wilayah IKN merupakan wilayah kawasan hutan dan sebagai wilayah habitat satwa endemik yang harusnya dilindungi,” terang anggota DPR Fraksi PKS, Johan Rosihan dalam Rapat Paripurna DPR pengambilan keputusan terhadap RUU IKN di Gedung DPR, Senayan, Jakarta sebagaimana dilansir dari dpr.go.id, Selasa, 18 Januari 2022.

Alasan lainnya, lanjut Johan, sampai saat ini belum ada kajian detail tentang mitigasi bencana di lokasi IKN. Apalagi kawasan tersebut menjadi area pertambangan. Dia mengimbau pemerintah harus sadar, bahwa pembabatan hutan di hulu dan sedimentasi sungai akibat aktivitas penambangan menyebabkan sebagian daratan mengalami degradasi.

“Dan berpotensi mengakibatkan banjir besar. Faktanya banjir pun sudah terjadi saat ini di lokasi tersebut,” papar Johan.

Begitu pula dengan potensi bencana kabut asap di lokasi IKN dimana terdapat 1.106 titik panas api yang pernah membuat kebakaran hutan dan lahan secara hebat seluas 6.715 hektare pada 2019.

Baca Juga: Sejarawan UGM: Nama IKN Sebaiknya Tak Hilangkan Nilai Historis Budaya Asal

Lokasi IKN terletak di antara hutan konservasi Taman Hutan Rakyat Bukit Suharto dengan Hutan Lindung Sungai Wain dan Hutan Lindung Manggar. Kawasan hutan di sana seluas 108.364 hektare dan memiliki sekitar 527 jenis tumbuhan, 180 jenis burung, lebih dari 100 mamalia, dan terdapat spesies dengan status konservasi tinggi, dilindungi, endemik, dan spesies penting.

Anggota Komisi IV DPR ini mempertanyakan keabsahan dan kualitas kajian lingkungan dari kawasan IKN. Lantaran pemilihan kawasan tersebut menjadi lokasi IKN, menurut Johan akan mengancam keberlangsungan ketersediaan sumber air. Akibatnya, krisis sumber air kian parah dan mengancam kawasan lindung dan konservasi Teluk Balikpapan.

Baca Juga: Mely, Bayi Orangutan Pertama 2022 yang Lahir di Suaka Margasatwa Lamandau

Bahkan pembangunan dan aktivitas yang merusak ekosistem hutan, merusak sumber air, dan kawasan mangrove merupakan pelanggaran terhadap UU Nomor 32 Tahun 2009 tentang Pengelolaan dan Perlindungan Lingkungan Hidup.

“Ketika pemindahan IKN dilakukan tanpa perencanaan dan  perhitungan cermat akan menjadi bencana bagi kelestarian lingkungan dan kekayaan hayati alam Indonesia. Kita harus mencegah kerusakan ekosistem hutan dengan menolak pemindahan ibu kota negara,” kata Johan menegaskan.

Rentan konflik sosial dan lingkungan

Ilustrasi calon ibu kota negara. Foto ugm.ac.id.
Ilustrasi calon ibu kota negara. Foto ugm.ac.id.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: DPR RIEkosistem lingkunganFraksi PKSibu kota negaraIKNJohan RosihanKalimantan Timurkerusakan lingkungankonflik sosialWalhiWalhi Kalimantan TimurYohana Tiko

Editor

Next Post
Hutan bakau di Baluran, Banyuwangi, Jawa Timur. Foto wanaloka.com.

Rehabilitasi Mangrove untuk Pengendalian Perubahan Iklim dan Konservasi Penyu

Discussion about this post

TERKINI

  • Ginseng Jawa (Talinum paniculatum). Foto Alam Sari Petra.Ginseng Jawa Lebih Aman Dikonsumsi Ketimbang Ginseng Korea
    In Rehat
    Selasa, 26 Agustus 2025
  • Gelaran Indonesia Climate Justice Summit (ICJS) 2025 hari pertama di Jakarta, 26 Agustus 2025. Foto Dok. ARUKI.ICJS 2025, Masyarakat Rentan Menuntut Keadilan Iklim
    In Lingkungan
    Selasa, 26 Agustus 2025
  • Kepala BMKG melakukan kunjungan ke UPT Stasiun Meteorologi (Stamet) Kelas I Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru, Riau, 24 Agustus 2025. Foto BMKG.Akhir Agustus 2025, Potensi Karhutla di Riau Meningkat
    In News
    Selasa, 26 Agustus 2025
  • Lalat buah. Foto CABI Digital Library/digitani.ipb.ac.id.Pengendalian Lalat Buah dengan Teknologi Nuklir, Amankah?
    In IPTEK
    Senin, 25 Agustus 2025
  • Presiden Prabowo Subianto memimpin pertemuan tertutup soal penertiban tambang ilegal di Hambalang, Bogor, 19 Agustus 2025. Foto Laily Rachev/BPMI Setpres.Alasan Prabowo Tertibkan Tambang Ilegal agar Negara Tetap Memperoleh Pendapatan
    In Lingkungan
    Senin, 25 Agustus 2025
wanaloka.com

©2025 Wanaloka Media

  • Tentang
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2025 Wanaloka Media