Baca juga: Jelang Seabad Museum Geologi Bandung, Bangun Peta Jalan Akses Kebumian untuk Masyarakat
Warga lainnya, Suryani pun merasakan manfaat hunian dan bantuan selama masa darurat. Dukungan yang diterima dinilai membantu keluarga kembali menjalani kehidupan dengan lebih tenang dan bermartabat. Bantuan tersebut menjadi penguat di tengah situasi sulit pascabencana.
“Kami berterima kasih karena telah disediakan rumah yang layak dan bantuan selama masa sulit. Semoga kebaikan ini dibalas dengan keberkahan,” ucap Suryani penuh rasa haru.
Penjernih air tenaga surya
Tim relawan UGM yang tergabung dalam Tim Cadangan Kesehatan – Emergency Medical Team, Academic Health System (TCK-EMT AHS) membangun Sistem Penjernih Air Bertenaga Surya di Kabupaten Bener Meriah, Aceh. Mengingat salah satu tantangan utama layanan kesehatan di sana adalah keterbatasan air bersih.
Informasi awal yang didapatkan dari BNPB, ada empat dari delapan sumber PDAM di Bener Meriah rusak, sementara fasilitas perbaikannya belum sampai ke lokasi. Masyarakat hanya mengandalkan empat sumber PDAM secara bergantian.
“Air mati dari pukul 10 pagi hingga sekitar jam 7 malam. Kondisi ini sangat memengaruhi layanan kesehatan,” kata ketua tim yang juga Dosen Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM, Muhammad Nurhadi Rahman, Jumat, 2 Januari 2026.
Baca juga: Hari Pertama Tahun 2026, Indonesia Diguncang Tiga Gempa Menengah Skala 5 Magnitudo
Pembuatan sistem penjernih air itu bersifat lintas disiplin dan melibatkan dosen Teknik Sipil Sekolah Vokasi UGM, Adhy Kurniawan. Pemasangan sistem penjernih air sederhana yag telah dibuat ditempatkan di RSUD Bener Meriah yang menjadi langkah awal penguatan layanan kesehatan di wilayah terdampak.
Alat itu juga diprioritaskan untuk dipasang di Posko Pengungsian Pantan Kemuning, Puskesmas Mesidah, dan Polindes di daerah Simpur sesuai hasil asesmen awal. Selanjutnya penempatan alat itu akan dipasang di titik prioritas lainnya.
Menurut Adhy, air bersih dan listrik merupakan kebutuhan mendasar sehingga sistem panel surya ini meminimalisir ketergantungan pada listrik maupun BBM. Sistem penjernih air yang dipasang memiliki kapasitas 500 hingga 1.000 GPD atau setara 1.900 sampai 3.800 liter per hari.
“Ini mampu memenuhi kebutuhan air minum dan air bersih bagi ratusan warga, terutama di posko pengungsian,” papar dia.
Sementara di Puskesmas Bandar dan RSUD Muyang Kute, tim melakukan pengecekan menyeluruh terhadap fasilitas kamar operasi dan kamar bersalin, termasuk ketersediaan air bersih. Selain membantu pelayanan kesehatan, tim juga menjangkau Posko Pengungsian Pantan Kemuning, Kecamatan Timang Gajah yang dihuni sekitar 30 kepala keluarga dalam satu rumah kepala dusun.
Baca juga: Tahun 2026, Tetaplah Bodoh
Kondisi di posko tersebut cukup terbatas hanya meliputi satu dapur umum dan satu kamar mandi. Di lokasi ini, tim melakukan edukasi personal hygiene serta pengawasan penyakit menular dan tidak menular.
Nurhadi menuturkan dari hasil pemantauan menunjukkan ada kasus penyakit menular seperti ISPA, gastroenteritis akut (GEA), serta scabies dan penyakit kulit lainnya. Sementara penyakit tidak menular yang banyak ditemui meliputi hipertensi, hiperglikemia, dispepsia, myalgia dan artritis, karies gigi, serta stomatitis.
“Tim juga mencatat satu pasien dengan dugaan gangguan kesehatan mental, yakni suspected bipolar disorder,” terang dia.
Tim relawan UGM juga menggandeng tim relawan Universitas Teuku Umar (UTU) dan Politeknik Negeri Lhokseumawe (PNL) dengan bantuan hibah pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) untuk membantu penanganan bencana di wilayah Lhoksukon, Aceh Utara dan Bener Meriah. Tim tiga kampus itu melakukan pemeriksaan kesehatan, pemeriksaan ANC, sekaligus pemeriksaan USG ibu hamil di Posko Pengungsian Pantan Kemuning, Simpur dipimpin Kepala LPPM UTU, Herri Darsan.
“Simpur ini wilayah yang masih terisolasi, air bersih di puskesmas belum memadai. Jadi selain posko pengungsian, wilayah Simpur dan Puskesmas Mesidah akan menjadi titik prioritas pemasangan alat penjernih air,” jelas dia.
Sedangkan di RSUD Muyang Kute, tim UGM sudah menyerahkan dua sistem sumur bor, tandon air berkapasitas 5.000 liter dan 3.000 liter. Sistem penjernih air sederhana juga telah berfungsi. [WLC02]
Sumber: UGM







Discussion about this post