Jumat, 23 Januari 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Peran Teknologi Data Spasial dan Geospasial dalam Mitigasi Bencana

UGM mengembangkan Geoportal Informasi Dasar Kebencanaan untuk atasi ketimpangan distribusi bantuan dan ITB mengembangkan teknologi GNSS dan RTS untuk monitoring bencana.

Minggu, 4 Januari 2026
A A
Peta distribusi bantuan bencana berbasis data spasial. Foto Dok. UGM.

Peta distribusi bantuan bencana berbasis data spasial. Foto Dok. UGM.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Tim peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM) membuat Geoportal Informasi Dasar Kebencanaan berbasis data spasial untuk membantu proses penanganan bencana Sumatra. Peta informasi bencana ini dikembangkan untuk menjawab kebutuhan mendesak atas data spasial berupa needs map, peta area terdampak, dan rapid damage assessment map pada fase tanggap darurat.

Dekan Fakultas Geografi UGM, Prof. Muhammad Kamal menjelaskan inisiatif ini lahir dari persoalan klasik dalam manajemen bencana, yaitu ketimpangan distribusi bantuan. Dalam banyak kejadian bencana, bantuan sering tidak merata karena tidak didukung data spasial yang akurat.

“Kami ingin mengubah pola tersebut dari berbasis asumsi menjadi berbasis data,” ujar Kamal, Sabtu, 3 Januari 2026.

Tim Geoportal Informasi Dasar Kebencanaan merupakan gabungan relawan dari Fakultas Geografi, Program Studi Teknik Geodesi Fakultas Teknik, serta Program Studi Sistem Informasi Geografis Sekolah Vokasi. Ada enam luaran peta yang dihasilkan, yakni peta status fasilitas kesehatan dan shelter, peta permukiman terdampak, peta kebutuhan (needs map), peta area terdampak banjir, peta perbandingan before-after kejadian banjir, dan peta aksesibilitas jaringan jalan.

Baca juga: Warga Aceh Utara Dilatih Bangun Huntara dengan Desain Sederhana

Wakil Dekan Fakultas Geografi UGM, Sigit Heru Murti menambahkan Fakultas Geografi berperan sebagai inisiator sekaligus koordinator teknis dalam pengembangan platform WebGIS partisipatif berbasis crowdsourcing.

Metode crowdsourcing dinilai paling efektif pada tahap quick response, karena korban dapat melaporkan langsung apa yang mereka butuhkan dan di mana lokasinya. Bantuan bisa disalurkan secara tepat sasaran dan dipantau secara spasial serta real time.

Pengembangan WebGIS ini digunakan agar masyarakat terdampak bisa melaporkan secara langsung kebutuhan mereka, lengkap dengan lokasi dan kontak person.

“Dosen dan mahasiswa di kampus bertindak sebagai dapur data untuk memverifikasi laporan tersebut,” kata Sigit.

Baca juga: Kulit Manggis Mengandung Antioksidan Alami dan Antidiabetes

Pengembangan sistem ini bukan hal baru. Model pemetaan partisipatif telah diterapkan sejak gempa Bantul 2006, kemudian berlanjut pada gempa Lombok serta gempa dan tsunami Palu.

Sementara anggota tim peneliti lainnya dari Fakultas Geografi UGM, Nur Mohammad Farda menjelaskan tim relawan juga memperoleh dukungan citra satelit resolusi tinggi dari Disasters Charter PBB melalui kerja sama dengan BRIN untuk memetakan tingkat kerusakan secara cepat.

Tim melakukan interpretasi citra satelit dari portal Disasters Charter untuk mengidentifikasi permukiman terdampak banjir dan memetakan tingkat kerusakan secara cepat pada fase emergency.

Hasil pemetaan kebutuhan kemudian diadopsi BNPB melalui Dashboard WebGIS InaRISK. Needs map pertama kali dirilis pada 6 Desember 2025. Dalam kurun 12 jam telah menerima 54 laporan dari lokasi bencana.

Baca juga: Bahaya Korsleting, Pemicu Utama Kebakaran Rumah dan Karbon Monoksida

Dalam pelaksanaannya, tim menghadapi tantangan teknis berupa validasi data dan keterbaruan informasi. Sebab data yang berasal dari publik sangat rentan hoaks dan duplikasi, sehingga semua laporan harus diverifikasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan di peta utama.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: Geoportal Informasi Dasar KebencanaanGlobal Navigation Satellite SystemITBMonitoring BencanaRobotic Total StationUniversitas Gadjah Mada

Editor

Next Post
Salah satu lokasi karst di KBAK Gunung Sewu, Gunungkidul, DIY yang rusak karena ditambang. Foto jogja.walhi.or.id

Industri Pariwisata Potensial Merusak 34 Hektare Lebih Ekosistem Karst Gunungsewu

Discussion about this post

TERKINI

  • Advokasi RUU Masyarakat Adat oleh Koalisi Kawal RUU Masyarakat Adat. Foto Istimewa.RUU Masyarakat Adat Tak Kunjung Disahkan, Jutaan Hektar Wilayah Adat Dirampas
    In Lingkungan
    Selasa, 20 Januari 2026
  • Pembersihan fasilitas layanan kesehatan di Aceh pascabencana. Foto Dok. Kementerian PU.Komisi II DPR Minta Rekonstruksi Fasilitas Publik Pascabencana Sumatera Tuntas Dua Tahun
    In News
    Selasa, 20 Januari 2026
  • Bencana ekologis di Sumatra. Foto Walhi.Jalan Menyelamatkan Alam Sumatra Lewat Penegakan Hukum Adil dan Menyeluruh
    In Lingkungan
    Senin, 19 Januari 2026
  • Diskusi “Merawat Karst Gunung Sewu: Konflik Agraria, Air, dan Kuasa” di PSPK UGM, 14 Januari 2026. Foto Pito Agustin/Wanaloka.com.Pembangunan Pariwisata di Gunungkidul Ancam Ruang Hidup Kawasan Karst Gunung Sewu
    In News
    Senin, 19 Januari 2026
  • Ilustrasi gajah tua dengan sepasang gading yang utuh. Foto HFGVDCSS/pixabay.com.Gajah Kenya Mati Tinggalkan Gading Utuh, Bukti Hidup dalam Habitat Aman
    In Lingkungan
    Senin, 19 Januari 2026
wanaloka.com

©2025 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2025 Wanaloka Media