Di tengah ancaman kepunahan akibat kerusakan lingkungan, penemuan ini menjadi angin segar bagi pengembangan ilmu pengetahuan sekaligus upaya pelestarian keanekaragaman hayati. Dalam penyusunan Indeks Biodiversitas Indonesia, per;u sedikitnya delapan indikator utama. Meliputi sensus populasi spesies, estimasi populasi, kelengkapan populasi, indeks populasi, biomassa, catch per unit effort, serta indikator pendukung lainnya seperti proxies.
Indikator utama Indeks biodiversitas tersebut berperan penting untuk mengetahui kondisi dan perkembangan keanekaragaman hayati dari waktu ke waktu. Data tersebut digunakan untuk melihat status spesies, apakah terancam atau sudah punah. Selain itu, indeks ini juga dapat menunjukkan tren jumlah populasi sehingga dapat diketahui langkah penanganan yang tepat.
Baca juga: Wilayah Sumatra Banjir Lagi, Pencabutan Izin Korporasi Harus Ada Keterbukaan Informasi
Selama ini, data biodiversitas Indonesia penyusunan Indeks Biodiversitas Indonesia (IBI) sebenarnya telah tersedia di berbagai institusi seperti kementerian, lembaga riset, dan perguruan tinggi. Namun belum terkelola secara terpadu dan sulit diakses publik.
Kehadiran KOBI bertujuan menghimpun, mengelola, serta menyusun data tersebut menjadi indeks biodiversitas nasional yang dapat digunakan untuk memantau status dan tren keanekaragaman hayati di Indonesia.
Pada rentang tahun 2020 hingga 2024 terdata 16.312 data keanekaragaman hayati yang terdiri dari 1.912 famili, 4.606 genus, dan 7.904 spesies. Kolaborasi KOBI bersama dengan UGM merupakan langkah strategis dalam pengembangan data keanekaragaman hayati nasional.
“Kami mencoba menghimpun dan mengelola data tersebut agar bisa menjadi indeks biodiversitas nasional,” ucap dia.
Baca juga: Banjir Bandang menjadi Alarm Ekosistem Hutan yang Runtuh
Budi berharap pengembangan data biodiversitas di Indonesia ke depan dapat terus diperkuat melalui dukungan pemerintah, terutama dalam kegiatan eksplorasi dan pendataan di wilayah yang masih minim informasi, termasuk kawasan laut. Data biodiversitas yang lengkap dapat menjadi dasar penting dalam kebijakan konservasi dan pembangunan berkelanjutan.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan berbagai pemangku kepentingan untuk melengkapi data keanekaragaman hayati serta menjaga kelestarian ekosistem.
“Kami berharap data-data biodiversitas yang sudah ada terus dilengkapi, baik melalui data sekunder maupun data primer dari hasil eksplorasi. Negara perlu mensupport para ilmuwan dan pemerhati lingkungan agar kekayaan hayati Indonesia dapat terungkap dan tetap terjaga,” kata Budi. [WLC02]
Sumber: UGM






Discussion about this post