“Konferensi ini adalah rumah intelektual dan pusat referensi bagi seluruh peneliti, pemerhati, pengamat, dan ahli burung dalam menjaga keanekaragaman hayati Indonesia, khususnya burung dan dapat menjadi inspirasi dan motivasi bagi para peserta,” tutur Nares.
Konferensi ini membahas beragam topik penting meliputi ekologi, manajemen dan konservasi burung di hutan, etno-ornitologi (budaya, penangkaran, perdagangan, ekowisata), taksonomi, genetika dan perilaku burung, pengetahuan dan teknologi terkini dalam penelitian burung.
Selain itu, dibahas pula topik lainnya seperti keberlanjutan burung migran (raptor, burung pantai, dan lainnya), serta keberadaan burung di wilayah perkotaan dan area yang didominasi manusia.
Baca juga: SOP Diperketat, Pendakian Gunung Rinjani Hanya untuk Pendaki Berpengalaman
KPPBI ke-7 diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi praktis untuk memperkuat upaya konservasi burung di Indonesia dengan tetap memperhatikan aspek sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat serta kelestarian lingkungan.
Gelaran ini merupakan kolaborasi dari berbagai universitas dan Perhimpunan Ornitholog Indonesia. Dukungan hadir dari berbagai pihak, yakni Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Burung Laut Indonesia, Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Universitas Udayana Bali, Universitas Negeri Semarang, Yayasan Eksai, Rekam Nusantara, Rangkong Indonesia, Burung Indonesia, dan RSPB. [WLC02]
Sumber: IPB University







Discussion about this post