Minggu, 8 November 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Akibat Siklus El Nino dan La Nina di Indonesia Anomali Hujan April-Desember

Minggu, 25 Agustus 2024
A A
Ilustrasi sirkulasi arus laut bumi. Foto Dok. BRIN.

Ilustrasi sirkulasi arus laut bumi. Foto Dok. BRIN.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Siklus El Nino dan La Nina telah diamati sejak 1961 hingga 1993. Hasilnya menunjukkan, Indonesia secara konsisten mengalami anomali hujan pada April hingga Desember.

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Edvin Aldrian menyebut, La Nina memiliki sifat berlawanan dengan El Nino. La Nina cenderung menyebabkan peningkatan curah hujan, sementara El Nino biasanya mengurangi curah hujan.

“Indonesia merupakan daerah pintu masuk dari El Nino. Anomali tinggi muka laut di wilayah Indonesia menunjukkan korelasi negatif dengan indeks El Nino di Samudra Pasifik,” jelas Edvin, pada BRIN Insight Every Friday (BRIEF) secara daring pada 23 Agustus 2024.

Baca Juga: Cacar Monyet di Indonesia 88 Kasus, Pemerintah Harus Cegah Penyebaran Virus

Ia menjelaskan, Samudra Pasifik memiliki sifat dari suhu yang terus naik akibat dari El Nino dan La Nina, serta pemanasan global. Saat La Nina, suhu permukaan laut di bagian tengah dan timur Samudra Pasifik menjadi lebih dingin dari biasanya. Fenomena ini berdampak besar terhadap pola cuaca di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.

“Dampak La Nina tidak hanya terbatas pada perubahan pola hujan, tetapi juga memengaruhi sektor pertanian, perikanan, dan ekosistem laut,” tutur dia.

Melalui Great Ocean Conveyor Belt, yaitu sebuah sistem sirkulasi arus laut bumi yang terus bergerak dan memengaruhi distribusi panas di seluruh permukaan bumi, Edvin mengungkap, perpindahan panas yang terjadi di Indonesia lalu berpindah ke Samudra Pasifik tengah. Ini bisa terjadi ketika waktu El Nino atau La Nina dan pengaruhnya bisa terjadi di seluruh permukaan bumi.

Baca Juga: Jatam Rekam Jejak Bahlil dan Istana dalam Praktik Ijon Politik Nikel di Maluku Utara

Kelautan Indonesia sebagai kanal atau pintu masuk utama arus lintas Indonesia (arlindo) dapat digunakan sebagai prekursor kedatangan El Nino dengan tingkat keyakinan tinggi.

Namun menurut profesor dengan keahlian di bidang meteorologi dan klimatologi tersebut, La Nina dapat menyebabkan kekeringan hebat yang kadang disertai dengan kebakaran hutan, serta peningkatan potensi gagal panen pada sektor pertanian, terutama padi.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: anomali hujanekosistem lautEl NinoGreat Ocean Conveyor BeltLa Nina

Editor

Next Post
Banjir bandang di Kota Ternate, Maluku Utara, 25 Agustus 2024. Foto Dok. BNPB.

Banjir Bandang di Kota Ternate, 13 Orang Dilaporkan Tewas

Discussion about this post

TERKINI

  • Kaoem Telapak desak pemerintah usut tuntas dugaan pembalakan liar dan pencucian kayu Merbau di Nabire, Papua Tengah. Foto Kaoem Telapak.Kaoem Telapak Desak Pemerintah Usut Tuntas Dugaan Pembalakan di Nabire
    In News
    Rabu, 4 November 2026
  • Media alternatif, Gejayan.id menggelar walking tour bertema “Tribute to Udin” #1 ke bekas Kantor Harian Bernas, Kota Yogyakarta. Foto Istimewa.Gejayan Civic Memory Lab: Napak Tilas Jurnalistik Udin di ‘Kantor Bernas’
    In News
    Senin, 2 November 2026
  • Episenter gempa 6,4 magnitudo di Laut Banda, Maluku, pada Kamis, 29 Oktober 2026. Foto tangkap layar BMKG.Laut Banda Maluku Digoyang Gempa Menengah 6,4 Magnitudo
    In News
    Kamis, 29 Oktober 2026
  • Kondisi Desa Sei Gita, Kecamatan Mantangai, Kabupaten Kapuas, Provinsi Kalimantan Tengah, diselimuti kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada Selasa, 13 Oktober 2026. Foto Dok Borneo Is Burning.Karhutla 2026, HRWG Tuntut Pemerintah Transparan Soal Data Lahan Terbakar dan Mengusut Pihak Bertanggungjawab
    In Lingkungan
    Senin, 26 Oktober 2026
  • Pertemuan 20 organisasi masyarakat sipil kawasan Asia Pasifik dalam Asia Pacific System Change Convergence 2026 di Yogyakarta, pada 17-21 Oktober 2026. Foto Istimewa.Organisasi Masyarakat Sipil Asia Pasifik Serukan Perubahan Sistem Mengakhiri Krisis Ekologis dan Ketidakadilan Global 
    In News
    Sabtu, 24 Oktober 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media