Kamis, 24 September 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Akibat Siklus El Nino dan La Nina di Indonesia Anomali Hujan April-Desember

Minggu, 25 Agustus 2024
A A
Ilustrasi sirkulasi arus laut bumi. Foto Dok. BRIN.

Ilustrasi sirkulasi arus laut bumi. Foto Dok. BRIN.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Siklus El Nino dan La Nina telah diamati sejak 1961 hingga 1993. Hasilnya menunjukkan, Indonesia secara konsisten mengalami anomali hujan pada April hingga Desember.

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Edvin Aldrian menyebut, La Nina memiliki sifat berlawanan dengan El Nino. La Nina cenderung menyebabkan peningkatan curah hujan, sementara El Nino biasanya mengurangi curah hujan.

“Indonesia merupakan daerah pintu masuk dari El Nino. Anomali tinggi muka laut di wilayah Indonesia menunjukkan korelasi negatif dengan indeks El Nino di Samudra Pasifik,” jelas Edvin, pada BRIN Insight Every Friday (BRIEF) secara daring pada 23 Agustus 2024.

Baca Juga: Cacar Monyet di Indonesia 88 Kasus, Pemerintah Harus Cegah Penyebaran Virus

Ia menjelaskan, Samudra Pasifik memiliki sifat dari suhu yang terus naik akibat dari El Nino dan La Nina, serta pemanasan global. Saat La Nina, suhu permukaan laut di bagian tengah dan timur Samudra Pasifik menjadi lebih dingin dari biasanya. Fenomena ini berdampak besar terhadap pola cuaca di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.

“Dampak La Nina tidak hanya terbatas pada perubahan pola hujan, tetapi juga memengaruhi sektor pertanian, perikanan, dan ekosistem laut,” tutur dia.

Melalui Great Ocean Conveyor Belt, yaitu sebuah sistem sirkulasi arus laut bumi yang terus bergerak dan memengaruhi distribusi panas di seluruh permukaan bumi, Edvin mengungkap, perpindahan panas yang terjadi di Indonesia lalu berpindah ke Samudra Pasifik tengah. Ini bisa terjadi ketika waktu El Nino atau La Nina dan pengaruhnya bisa terjadi di seluruh permukaan bumi.

Baca Juga: Jatam Rekam Jejak Bahlil dan Istana dalam Praktik Ijon Politik Nikel di Maluku Utara

Kelautan Indonesia sebagai kanal atau pintu masuk utama arus lintas Indonesia (arlindo) dapat digunakan sebagai prekursor kedatangan El Nino dengan tingkat keyakinan tinggi.

Namun menurut profesor dengan keahlian di bidang meteorologi dan klimatologi tersebut, La Nina dapat menyebabkan kekeringan hebat yang kadang disertai dengan kebakaran hutan, serta peningkatan potensi gagal panen pada sektor pertanian, terutama padi.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: anomali hujanekosistem lautEl NinoGreat Ocean Conveyor BeltLa Nina

Editor

Next Post
Banjir bandang di Kota Ternate, Maluku Utara, 25 Agustus 2024. Foto Dok. BNPB.

Banjir Bandang di Kota Ternate, 13 Orang Dilaporkan Tewas

Discussion about this post

TERKINI

  • Peoples’ Conservation Summit (PCS) 2026: Road to COP-17 CBD, Armenia, digelar sejak 1 hingga 3 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, UGM, Yogyakarta.PCS 2026 Hasilkan Deklarasi Konservasi Rakyat Indonesia
    In News
    Sabtu, 5 September 2026
  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Jaringan masyarkat sipil mendesak pemerintah menghentikan konflik agraria dan pelanggaran HAM di Desa Rakawuta, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, dan di wilayah Komunitas Adat Muara Tae, Kutai Barat, Kalimantan Timur.Hentikan Konflik Agraria dan Pelanggaran HAM di Rakawuta dan Muara Tae
    In News
    Kamis, 3 September 2026
  • Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Foto Geopix.Karhutla Borneo, 25 Juta Hektar Wilayah Habitat Orangutan Kalimantan Terbakar
    In Lingkungan
    Kamis, 3 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media