Senin, 12 Oktober 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Alarm Dua Kematian Bulan Juni, Heatstroke dan Heat Stress Belum Jadi Perhatian 

Dua peristiwa tersebut menjadi pengingat, paparan panas bukan lagi sekadar persoalan rasa tidak nyaman, tetapi ancaman kesehata nyata.

Kamis, 9 Juli 2026
A A
Ilustrasi orang mengalami heatstroke. Foto Cloud Purple/Pixabay.com.

Ilustrasi orang mengalami heatstroke. Foto Cloud Purple/Pixabay.com.

Share on FacebookShare on Twitter

Peningkatan suhu udara tidak hanya menimbulkan rasa tidak nyaman, tetapi juga menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat. Ketua Komisi Ilmu Kedokteran Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), Prof. Herawati Sudoyo menegaskan, paparan panas ekstrem harus dipandang sebagai isu kesehatan masyarakat, bukan sekadar persoalan cuaca.

Menurut dia, saat suhu lingkungan meningkat, tubuh akan bekerja lebih keras untuk mempertahankan suhu normal melalui pelebaran pembuluh darah dan penguapan keringat.

Namun, ketika mekanisme tersebut tidak lagi mampu mendinginkan tubuh, seseorang dapat mengalami heat stress hingga heatstroke yang mengancam jiwa.

“Panas ekstrem bukan lagi sekadar persoalan cuaca, melainkan isu kesehatan masyarakat. Dampaknya dapat dicegah apabila kita mengenali risikonya, melindungi kelompok rentan, dan membangun kesiapsiagaan sejak dini,” terang Herawati.

Ia menjelaskan, heat stress ditandai dengan keringat berlebih, kelelahan, kram otot, pusing, dan dehidrasi. Apabila paparan panas terus berlanjut hingga suhu inti tubuh melebihi 40°C, kondisi dapat berkembang menjadi heatstroke yang menyebabkan kerusakan organ vital seperti otak, jantung, dan ginjal akibat respons peradangan sistemik.

Selain berdampak pada kesehatan fisik, paparan panas juga dapat memengaruhi kesehatan mental. Suhu tinggi dapat menurunkan konsentrasi, mengganggu kualitas tidur, memicu kebingungan hingga penurunan kesadaran, dan pada kasus berat berpotensi menyebabkan kerusakan otak permanen.

“Panas ekstrem telah menjadi salah satu penyebab utama kematian yang berkaitan dengan cuaca (weather-related deaths), sehingga memerlukan perhatian serius dari sektor kesehatan dan berbagai pemangku kepentingan,” imbuh dia.

Dua kematian yang terjadi dalam kurun waktu kurang dari dua pekan tersebut menjadi pengingat, Indonesia perlu mulai memandang paparan panas sebagai isu kesehatan publik yang memerlukan edukasi, sistem peringatan dini, serta kesiapsiagaan lintas sektor.

“Kita tidak dapat menghentikan cuaca yang semakin panas, tetapi kita dapat mengurangi dampaknya. Literasi kesehatan adalah perlindungan pertama yang dapat menyelamatkan nyawa bagi setiap keluarga,” pesan dia.

Selain faktor kesehatan individu, risiko paparan panas juga dipengaruhi oleh lingkungan tempat tinggal. Kota-kota yang dipenuhi bangunan, minim ruang terbuka hijau, serta didominasi beton dan aspal cenderung menyerap dan menyimpan panas lebih lama. Kondisi ini memicu fenomena urban heat island (pulau panas perkotaan), yang membuat suhu kawasan perkotaan lebih tinggi dibandingkan dengan wilayah sekitarnya dan meningkatkan risiko heat stress bagi masyarakat.

Executive Director Rujak Center for Urban Studies, Elisa Sutanudjaja mengatakan adaptasi terhadap suhu panas tidak dapat hanya dibebankan kepada individu. Cara rumah, lingkungan, dan kota dirancang turut menentukan tingkat paparan panas yang dialami warga.

“Salah satu fenomena yang mendorong peningkatan suhu adalah urban heat island yang memang spesifik terjadi di kawasan perkotaan. Fenomena ini muncul akibat ekspansi kota yang ditandai dengan penggunaan material bangunan yang menyerap dan memantulkan panas, sehingga suhu meningkat. Saat yang bersamaan, kondisi tersebut juga memperlambat aliran angin,” papar Elisa.

Ia menambahkan, upaya adaptasi perlu diwujudkan melalui desain bangunan yang lebih responsif terhadap iklim, seperti penerapan passive cooling, penggunaan material yang tidak menyerap panas berlebihan, serta memperbanyak vegetasi dan ruang terbuka hijau di kawasan perkotaan. Langkah-langkah tersebut tidak hanya membantu menurunkan suhu lingkungan, tetapi juga mengurangi risiko kesehatan akibat paparan panas ekstrem.

Para narasumber sepakat bahwa menghadapi risiko paparan panas tidak cukup dilakukan melalui perubahan perilaku individu. Indonesia juga memerlukan sistem peringatan dini yang efektif, edukasi kesehatan masyarakat, serta perencanaan kota yang lebih adaptif agar dampak kesehatan akibat suhu yang terus meningkat dapat diminimalkan. [WLC02]

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: AIPIBMKGHeat StressHeatstrokeKesehatan MasyarakatRujak Center for Urban StudiesYayasan Suara Sains Terbuka Indonesia

Editor

Next Post
Ilustrasi bocah minum air karena kepanasan. Foto Pezibear/Pixabay.com.

Kesadaran Masyarakat atas Heatstroke dan Heat Stress Rendah, Ini Alasannya

Discussion about this post

TERKINI

  • Aksi Hari Tani Nasional 2025 mengusung desakan reforma agraria, 24 September 2025. Foto KPA.Koalisi Masyarakat Sipil untuk Keadilan Agraria Kritik Penunjukan Kepala BRAN
    In News
    Jumat, 2 Oktober 2026
  • Pusat gempa dangkal 5,4 magnitudo di Pantai Timur Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan pada Kamis malam, 1 Oktober 2026. Foto tangkap layar BMKG.Gempa Dangkal di Laut Flores Kepulauan Selayar Dirasakan IV MMI
    In News
    Kamis, 1 Oktober 2026
  • Peoples’ Conservation Summit (PCS) 2026: Road to COP-17 CBD, Armenia, digelar sejak 1 hingga 3 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, UGM, Yogyakarta.PCS 2026 Hasilkan Deklarasi Konservasi Rakyat Indonesia
    In News
    Sabtu, 5 September 2026
  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media