Sabtu, 11 Juli 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Alarm Dua Kematian Bulan Juni, Heatstroke dan Heat Stress Belum Jadi Perhatian 

Dua peristiwa tersebut menjadi pengingat, paparan panas bukan lagi sekadar persoalan rasa tidak nyaman, tetapi ancaman kesehata nyata.

Kamis, 9 Juli 2026
A A
Ilustrasi orang mengalami heatstroke. Foto Cloud Purple/Pixabay.com.

Ilustrasi orang mengalami heatstroke. Foto Cloud Purple/Pixabay.com.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Dalam waktu kurang dari dua pekan pada Juni 2026, dua orang meninggal dunia setelah diduga mengalami heatstroke. Korban pertama merupakan peserta ajang lari maraton, sementara korban lainnya adalah peserta Pelatihan Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes).

Dua peristiwa tersebut menjadi pengingat, paparan panas bukan lagi sekadar persoalan rasa tidak nyaman. Heat stress dan heatstroke telah menjadi ancaman kesehatan nyata, tetapi masih minim disadari masyarakat maupun belum mendapat perhatian yang memadai dalam kebijakan kesehatan publik.

Heat stress merupakan kondisi ketika tubuh mulai kesulitan membuang panas akibat kombinasi suhu lingkungan, kelembapan udara, paparan sinar matahari, maupun aktivitas fisik. Jika tidak segera ditangani, maka kondisi ini dapat berkembang menjadi heat exhaustion hingga heatstroke, yaitu keadaan darurat medis ketika suhu inti tubuh meningkat drastis dan mulai merusak organ-organ vital. Tanpa penanganan cepat, heatstroke dapat menyebabkan kegagalan organ hingga kematian.

Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan suhu rata-rata Indonesia pada Mei 2026 mencapai 27,5°C, sekitar 0,5°C lebih tinggi dibandingkan rata-rata periode klimatologi 1991–2020. Kenaikan yang tampak kecil ini tetap dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama ketika disertai kelembapan udara yang tinggi dan aktivitas fisik di luar ruangan.

Fenomena El Niño serta tren pemanasan global diperkirakan akan membuat hari-hari panas semakin sering terjadi. Kondisi tersebut menuntut kesiapsiagaan yang lebih baik, baik dari masyarakat maupun pemerintah, agar risiko kesehatan akibat paparan panas dapat diminimalkan.

Berbeda dengan Eropa yang mengalami gelombang panas (heatwave), Indonesia memiliki karakteristik iklim tropis yang membuat suhu udara relatif stabil sepanjang tahun. Namun, peningkatan suhu yang berlangsung secara bertahap dan disertai kelembapan tinggi tetap menimbulkan risiko kesehatan yang perlu diwaspadai.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan menjelaskan, keberadaan laut di sekitar Indonesia berperan sebagai penyangga alami yang mencegah lonjakan suhu secara ekstrem seperti yang terjadi di kawasan subtropis.

“Sampai saat ini, kita masih melihat peluang terjadinya gelombang panas seperti yang terjadi di Eropa atau Amerika relatif kecil karena karakteristik atmosfer Indonesia berbeda. Namun, bukan berarti kita tidak perlu mengantisipasi dampak panas terhadap kesehatan,” kata Ardhasena dalam webinar Program SehatKita yang digelar Yayasan Suara Sains Terbuka Indonesia.

Meski demikian, tren pemanasan di Indonesia terus menunjukkan peningkatan. Data BMKG mencatat suhu rata-rata meningkat sekitar 0,13–0,14°C per dekade. Setelah suhu rata-rata nasional pada Mei 2026 berada sekitar 0,5°C di atas normal klimatologis, Juni 2026 tercatat sebagai bulan terpanas sejak periode klimatologi 1991–2020. Jumlah hari panas maupun malam yang tetap hangat (tropical nights) juga terus meningkat.

Menurut BMKG, kondisi tersebut diperparah El Niño yang diperkirakan berkembang hingga kategori kuat.

“El Niño 2026 telah aktif dan berpotensi mencapai intensitas kuat. Waspada peningkatan risiko kekeringan dan dampak turunannya, suhu ekstrem, dan heatstroke, serta potensi penurunan kualitas udara akibat kondisi kering yang dapat meningkatkan risiko karhutla dan akumulasi polutan yang berdampak pada kesehatan,” imbuh dia.

Menurut Ardhasena, ancaman utama di Indonesia bukanlah gelombang panas seperti di Eropa. Melainkan paparan suhu tinggi yang berlangsung terus-menerus dan diperparah kelembapan udara yang tinggi.

“Main message-nya adalah peluang terjadinya gelombang panas seperti di Eropa memang kecil. Tetapi bukan berarti kita tidak perlu mengantisipasi kondisi panas tinggi yang berlangsung secara berkelanjutan, diiringi kelembapan yang tinggi, dan bagaimana dampaknya terhadap tubuh manusia,” papar dia.

BMKG juga tengah mengembangkan sistem peringatan dini panas ekstrem yang menggabungkan indikator suhu udara, kelembapan, kecepatan angin, serta radiasi matahari untuk memberikan informasi risiko kesehatan bagi masyarakat, terutama mereka yang beraktivitas di luar ruangan.

Jadi isu kesehatan publik

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: AIPIBMKGHeat StressHeatstrokeKesehatan MasyarakatRujak Center for Urban StudiesYayasan Suara Sains Terbuka Indonesia

Editor

Next Post
Ilustrasi bocah minum air karena kepanasan. Foto Pezibear/Pixabay.com.

Kesadaran Masyarakat atas Heatstroke dan Heat Stress Rendah, Ini Alasannya

Discussion about this post

TERKINI

  • Ilustrasi bocah minum air karena kepanasan. Foto Pezibear/Pixabay.com.Kesadaran Masyarakat atas Heatstroke dan Heat Stress Rendah, Ini Alasannya
    In IPTEK
    Jumat, 10 Juli 2026
  • Ilustrasi orang mengalami heatstroke. Foto Cloud Purple/Pixabay.com.Alarm Dua Kematian Bulan Juni, Heatstroke dan Heat Stress Belum Jadi Perhatian 
    In IPTEK
    Kamis, 9 Juli 2026
  • Ilustrasi tanaman sorgum. Foto RJA1988/Pixabay.com.Kerentanan Pangan Akibat El Nino dan Kemarau Panjang 2026: Kekeringan hingga Ancaman Hama
    In IPTEK
    Senin, 29 Juni 2026
  • Penambangan nikel. Foto djkn.kemenkeu.go.id.Walhi: Kemiskinan Indonesia Naik Akibat Ekonomi Dibangun di Atas Kerusakan Lingkungan
    In News
    Minggu, 28 Juni 2026
  • Ilustrasi forest healing. Foto Pexels/Pixabay.com.Healing Forest Tak Bisa Sembarangan, Apa Syaratnya?
    In Traveling
    Minggu, 28 Juni 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media