Sabtu, 30 Agustus 2025
wanaloka.com
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Asia dan Afrika Dijajah Eropa dengan Kolonialisme, Ini Perbedaannya

Dua benua besar, Asia dan Afria sama-sama pernah dijajah negara-negara di Benua Eropa. Dan mereka bangkit berjuang melawan penjajahan dengan National Building dan Pan Afrika.

Rabu, 19 Januari 2022
A A
Ilustrasi peta dunia. Foto uii.ac.id.

Ilustrasi peta dunia. Foto uii.ac.id.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Benua Asia dan Afrika merupakan dua benua yang pernah menjadi daerah jajahan negara-negara Eropa. Namun kedua kawasan ini mengalami kolonialisme dengan cara dan motif yang berbeda.

“Motif kolonialisme yang diusung bangsa Eropa di Asia berbeda dengan di Afrika,” kata Dosen Program Studi Hubungan Internasional Universitas Islam Indonesia (UII), Mohamad Rezky Utama dalam talk show bertajuk Ngalir Live Talk bertema The Rise and Fall of Asia and Africa sebagaimana dilansir dari laman uii.ac.id, Kamis, 13 Januari 2022.

Baca Juga: Kisah Mark Zuckerberg hingga Raja Belanda Blusukkan ke Kampoeng Cyber

Di mencontohkan penjajahan oleh Spanyol dan Portugis. Awalnya, kedua negara ini mengusung misi gold, glory, dan gospel, yakni keinginan menangguk keuntungan yang banyak (gold), membuat koloni-koloni daerah jajahan (glory), serta menyebarkan agama atau keyakinan (gospel). Kemudian misi itu diubah untuk menjadikan negara jajahannya mengadopsi budaya Spanyol dan Portugis.

“Semisal Filipina yang mengalami kristenisasi secara massal dan diwajibkan menggunakan bahasa Spanyol,” kata Utama.

Gaya yang berbeda diusung oleh Belanda dan Inggris yang lebih mengedepankan motif keuntungan ekonomi melalui perdagangan. Mereka melakukan ekspansi dan eksploitasi melalui perusahaan dagang, seperti Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC) milik Belanda dan East India Company milik Inggris.

“Kalau penjajahan di benua Afrika dilatarbelakangi motif mentalitas superior bangsa-bangsa Eropa,” papar Wahyu Arif Raharjo yang juga Dosen HI UII.

Baca Juga: Baboe Mengalami Diskriminasi Sekaligus Diperlakukan Sama oleh Keluarga Kolonial

Salah satu bentuk praktik bentuk penjajahan itu adalah jual beli budak. Wahyu menjelaskan, dalih lain yang digunakan oleh negara-negara Eropa dalam menjajah Afrika adalah rasisme saintifik yang mencoba untuk mengklasifikasikan kecerdasan setiap bangsa berdasarkan ras seseorang.

Dampaknya, ada dogma yang seolah bangsa Eropa yang berkulit putih jauh lebih cerdas dibandingkan bangsa Afrika yang kulit hitam.

“Ini jadi sebuah motivasi seolah Eropa harus menyelamatkan orang Afrika (dari kebodohan) melalui penjajahan,” imbuh Wahyu.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: AfrikaAsiaEropakolonialismeNation BuildingNation StatePan AfrikaUII

Editor

Next Post
Induk orangutan kalimantan, Max dan bayinya, Mely di Suaaka Margasatwa Lamanau, Kalimantan Tengah. Foto Sugih Trianto/menlhk.go.id.

Mely, Bayi Orangutan Pertama 2022 yang Lahir di Suaka Margasatwa Lamandau

Discussion about this post

TERKINI

  • Ginseng Jawa (Talinum paniculatum). Foto Alam Sari Petra.Ginseng Jawa Lebih Aman Dikonsumsi Ketimbang Ginseng Korea
    In Rehat
    Selasa, 26 Agustus 2025
  • Gelaran Indonesia Climate Justice Summit (ICJS) 2025 hari pertama di Jakarta, 26 Agustus 2025. Foto Dok. ARUKI.ICJS 2025, Masyarakat Rentan Menuntut Keadilan Iklim
    In Lingkungan
    Selasa, 26 Agustus 2025
  • Kepala BMKG melakukan kunjungan ke UPT Stasiun Meteorologi (Stamet) Kelas I Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru, Riau, 24 Agustus 2025. Foto BMKG.Akhir Agustus 2025, Potensi Karhutla di Riau Meningkat
    In News
    Selasa, 26 Agustus 2025
  • Lalat buah. Foto CABI Digital Library/digitani.ipb.ac.id.Pengendalian Lalat Buah dengan Teknologi Nuklir, Amankah?
    In IPTEK
    Senin, 25 Agustus 2025
  • Presiden Prabowo Subianto memimpin pertemuan tertutup soal penertiban tambang ilegal di Hambalang, Bogor, 19 Agustus 2025. Foto Laily Rachev/BPMI Setpres.Alasan Prabowo Tertibkan Tambang Ilegal agar Negara Tetap Memperoleh Pendapatan
    In Lingkungan
    Senin, 25 Agustus 2025
wanaloka.com

©2025 Wanaloka Media

  • Tentang
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2025 Wanaloka Media