Motivasi tersebut kemudian menuntun negara-negara Afrika untuk melaksanakan Berlin Conference yang membagi wilayah penjajahan di Afrika dengan mengusung misi mencerdaskan bangsa Afrika dan mengolah sumber daya yang dimiliki.
Cara Asia dan Afrika melawan kolonialisme
Perbedaan penjajahan di Asia dan Afrika juga terletak pada proses kebangkitan penduduk lokal dalam melawan penjajah. Di Asia, perlawanan terhadap penjajah semula terhalang oleh konsep Nation State yang mampu membuat sekat antar penduduk lokal terkait perbedaan bangsa dan budaya. Namun konsep tersebut mampu dilawan dengan menghadirkan konsep Nation Building.
Baca Juga: Pelarangan Ekspor Batu Bara Bukan Solusi, Harus Percepat Transisi Energi Terbarukan
Konsep ini mampu menyatukan beragam suku dan bangsa dalam usaha melawan penjajahan seperti yang terjadi di India, Filipina, dan Indonesia dengan menyatukan suku bangsa di ketiga negara tersebut.
“Lahirnya Kebangkitan Nasional 1908 dan Sumpah Pemuda 1928 tidak terlepas dari konsep Nation Building ini,” kata Utama.

Hanya saja, sistem yang sama tidak mampu diadopsi di Afrika karena kawasan ini menggunakan sistem pemerintahan suatu wilayah tanpa perbatasan yang jelas.
“Konteks lain yang perlu dipahami adalah kehancuran mentalitas Afrika diperparah dengan hadirnya penjajah yang memecah belah suku-suku di Afrika,” kata Wahyu.
Baca Juga: Indonesia-Jepang Kerja Sama Transisi Energi, Investasi akan Dipermudah
Pencerahan datang dari orang-orang Afrika yang telah memahami konsep negara bangsa karena ikut militer asing maupun kuliah di negara lain. Aktivitas mereka kemudian melahirkan gerakan Pan Afrika yang bertujuan untuk memerdekakan dan menyatukan Afrika. [WLC02]







Discussion about this post