Sabtu, 5 September 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Asia dan Afrika Dijajah Eropa dengan Kolonialisme, Ini Perbedaannya

Dua benua besar, Asia dan Afria sama-sama pernah dijajah negara-negara di Benua Eropa. Dan mereka bangkit berjuang melawan penjajahan dengan National Building dan Pan Afrika.

Rabu, 19 Januari 2022
A A
Ilustrasi peta dunia. Foto uii.ac.id.

Ilustrasi peta dunia. Foto uii.ac.id.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Benua Asia dan Afrika merupakan dua benua yang pernah menjadi daerah jajahan negara-negara Eropa. Namun kedua kawasan ini mengalami kolonialisme dengan cara dan motif yang berbeda.

“Motif kolonialisme yang diusung bangsa Eropa di Asia berbeda dengan di Afrika,” kata Dosen Program Studi Hubungan Internasional Universitas Islam Indonesia (UII), Mohamad Rezky Utama dalam talk show bertajuk Ngalir Live Talk bertema The Rise and Fall of Asia and Africa sebagaimana dilansir dari laman uii.ac.id, Kamis, 13 Januari 2022.

Baca Juga: Kisah Mark Zuckerberg hingga Raja Belanda Blusukkan ke Kampoeng Cyber

Di mencontohkan penjajahan oleh Spanyol dan Portugis. Awalnya, kedua negara ini mengusung misi gold, glory, dan gospel, yakni keinginan menangguk keuntungan yang banyak (gold), membuat koloni-koloni daerah jajahan (glory), serta menyebarkan agama atau keyakinan (gospel). Kemudian misi itu diubah untuk menjadikan negara jajahannya mengadopsi budaya Spanyol dan Portugis.

“Semisal Filipina yang mengalami kristenisasi secara massal dan diwajibkan menggunakan bahasa Spanyol,” kata Utama.

Gaya yang berbeda diusung oleh Belanda dan Inggris yang lebih mengedepankan motif keuntungan ekonomi melalui perdagangan. Mereka melakukan ekspansi dan eksploitasi melalui perusahaan dagang, seperti Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC) milik Belanda dan East India Company milik Inggris.

“Kalau penjajahan di benua Afrika dilatarbelakangi motif mentalitas superior bangsa-bangsa Eropa,” papar Wahyu Arif Raharjo yang juga Dosen HI UII.

Baca Juga: Baboe Mengalami Diskriminasi Sekaligus Diperlakukan Sama oleh Keluarga Kolonial

Salah satu bentuk praktik bentuk penjajahan itu adalah jual beli budak. Wahyu menjelaskan, dalih lain yang digunakan oleh negara-negara Eropa dalam menjajah Afrika adalah rasisme saintifik yang mencoba untuk mengklasifikasikan kecerdasan setiap bangsa berdasarkan ras seseorang.

Dampaknya, ada dogma yang seolah bangsa Eropa yang berkulit putih jauh lebih cerdas dibandingkan bangsa Afrika yang kulit hitam.

“Ini jadi sebuah motivasi seolah Eropa harus menyelamatkan orang Afrika (dari kebodohan) melalui penjajahan,” imbuh Wahyu.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: AfrikaAsiaEropakolonialismeNation BuildingNation StatePan AfrikaUII

Editor

Next Post
Induk orangutan kalimantan, Max dan bayinya, Mely di Suaaka Margasatwa Lamanau, Kalimantan Tengah. Foto Sugih Trianto/menlhk.go.id.

Mely, Bayi Orangutan Pertama 2022 yang Lahir di Suaka Margasatwa Lamandau

Discussion about this post

TERKINI

  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Jaringan masyarkat sipil mendesak pemerintah menghentikan konflik agraria dan pelanggaran HAM di Desa Rakawuta, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, dan di wilayah Komunitas Adat Muara Tae, Kutai Barat, Kalimantan Timur.Hentikan Konflik Agraria dan Pelanggaran HAM di Rakawuta dan Muara Tae
    In News
    Kamis, 3 September 2026
  • Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Foto Geopix.Karhutla Borneo, 25 Juta Hektar Wilayah Habitat Orangutan Kalimantan Terbakar
    In Lingkungan
    Kamis, 3 September 2026
  • Pantomimer Wanggi Hoed melakukan aksi pertunjukan untuk memprotes ekspor monyet ekor panjang pada Hari Primata Interasional di Titik Nol Kota Yogyakarta, 2 september 2026. Foto Dok. Forum United For Primates .Petisi untuk Pemerintah Indonesia: Hentikan Ekspor Monyet Ekor Panjang untuk Penelitian!
    In News
    Rabu, 2 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media