Senin, 8 Juni 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Awan Panas Merapi Masih Fluktuatif, Tak Pengaruhi Kenaikan Suhu di DIY

Selasa, 14 Maret 2023
A A
Luncuran awan panas Gunung Merapi pada 13 Maret 2023.Foto Twitter @BPPTKG.

Luncuran awan panas Gunung Merapi pada 13 Maret 2023.Foto Twitter @BPPTKG.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Aktivitas vulkanik Gunung Merapi usai erupsi pada 11 Maret 2023 masih fluktuatif. Berdasarkan pembaruan informasi dari akun Twitter @BPPTKG, tercatat hingga 13 Maret 2023 pukul 11.26 WIB terjadi awan panas guguran dengan jarak luncur 1500 m mengarah ke Barat Daya, yaitu menyusur di Kali Bebeng.

Sehari sebelumnya, 12 Maret 2023 pukul 15.30 WIB, juga terjadi 54 kejadian awan panas. Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Agus Budi Santoso meminta kepada masyarakat untuk tetap tidak melakukan aktivitas apapun di wilayah Kawasan Rawan Bencana (KRB).

Suplai magma, baik dari dalam maupun dangkal masih berlangsung. Kondisi tersebut dapat memicu terjadi awan panas di potensi daerah bahaya.

Baca Juga: Gunung Merapi Kembali Erupsi, Potensi Bahaya Capai 7 Kilometer

“Awan panas dan guguran dapat terjadi sewaktu-waktu,” kata Agus saat konferensi pers secara virtual pada Minggu, 12 Maret 2023.

Terjadinya hujan dan endapan awan panas yang baru maupun yang lama masih ada ditambah dengan hujan abu yang terjadi mengakibatkan potensi terjadi lahar di hulu-hulu sungai di sekitar Merapi.

“Hujan juga menimbulkan ketidaktabilan kubah lava. Jadi kami mengimbau kepada masyarakat untuk menghindari beraktifitas di daerah potensi bahaya itu, terutama di alur-alur sungai dalam wilayah KRB ketika turun hujan di puncak Merapi,” jelas Agus.

Baca Juga: Longsor Natuna 30 Jenazah Teridentifikasi, 24 Orang Masih Hilang

Potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awan panas di sektor selatan-barat daya meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal 5 km, Sungai Bedog, Bebeng, Krasak sejauh maksimal 7 km. Di sektor tenggara meliputi Sungai Woro sejauh maksimal 3 km dan Sungai Gendol 5 km. Sedangkan lontaran material vulkanik saat letusan eksplosif dapat menjangkau radius 3 km dari puncak.

Ia juga mengimbau aparat desa di KRB III untuk melakukan penguatan kapasitas guna menghadapi bencana, baik masa kini maupun mendatang. Seperti melalui persiapan sarana-prasarana, pelatihan simulasi-simulasi. Meski masih mengeluarkan erupsi, status Merapi masih tetap “SIAGA”.

Erupsi Merapi Tak Pengaruhi Kenaikan Cuaca

Baca Juga: Lampung Selatan Dilanda Banjir dan Longsor, Waspadai Hujan Esok Hari

Suhu udara di wilayah DIY yang cukup panas dalam beberapa hari terakhir tidak ada kaitannya dengan erupsi Gunung Merapi pada 11 Maret 2023. Sebab erupsi Gunung Merapi tersebut tidak memengaruhi cuaca di DIY.

“Kenaikan suhu di wilayah DIY karena fenomena urban heat island yang umum terjadi di wilayah perkotaan,” kata Pakar Iklim dan Bencana UGM, Dr. Emilya Nurjani saat memaparkan tentang Bencana Hidrometerologi dan Perubahan Iklim dalam Sekolah Wartawan, Senin, 13 Maret 2023.

Dosen Departemen Geografi Lingkungan Fakultas Geografi UGM ini menyebutkan guguran awan panas dari erupsi Merapi muncul hingga radius 7 km. Awan panas guguran yang mengarah ke arah barat menyebabkan hujan abu di daerah Magelang, Wonosobo, Temanggung, juga Boyolali. Bahkan hujan abu tipis juga dilaporkan terjadi di Banjarnegara yang berjarak 96 km. Sementara Yogyakarta tidak terdampak abu erupsi Merapi.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: aktivitas vulkanik fluktuatifawan panas guguranBPPTKGerupsi Gunung MerapiFakultas Geografi UGMhujan abukenaikan suhuKRB IIIsuplai magmaUGM

Editor

Next Post
Aksi aksi Pedal untuk Rakyat dan Planet 2023.Foto istimewa.

Solusi Palsu Krisis Iklim Membuat Beban Perempuan Kian Berat

Discussion about this post

TERKINI

  • Bencana ekologis di Sumatra. Foto Walhi.Krisis Lingkungan yang Dibuat Rezim Saat Ini Dibayar Mahal Generasi Mendatang
    In Lingkungan
    Minggu, 7 Juni 2026
  • Pakar Pencemaran dan Toksikologi IPB University, Prof. Etty Riani. Foto Dok. Harita.Etty Riani, Sampah Muara Angke Ancam Ekosistem Mangrove
    In Sosok
    Sabtu, 6 Juni 2026
  • Tanggul laut raksasa di pantai utara Jakarta. Foto SDA PU.Menteri Jumhur: Giant Sea Wall Bukan Solusi Tunggal Rob Pantura, Penanaman Air Solusi Tanah Amblas
    In Lingkungan
    Sabtu, 6 Juni 2026
  • Beberapa pulau-pulau kecil di Raja Ampat, Papua Barat Daya tampak gundul akibat penambangan nikel. Foto Dok. AMAN.Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Pembangunan Ekstraktif di Papua Sumbang 70 Persen Deforestasi Nasional
    In Lingkungan
    Jumat, 5 Juni 2026
  • Rakor kesiapsiagaan menghadapi kemaru 2026 di Jawa Barat. Foto Dok. BMKG.Antisipasi Kekeringan 2026, TNI AD Pilih Lakukan Pengeboran Sumur
    In News
    Jumat, 5 Juni 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media