Jumat, 17 April 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Memaksimalkan Potensi Kemenyan, Kapur Barus dan Cengkeh Menjadi Parfum

Tanaman yang sering dianggap mistis seperti kemenyan dan kapur barus (kamper), diburu industri kosmetik dunia, terutama dari Prancis dan Eropa.

Senin, 2 Maret 2026
A A
Ilustrasi parfum dari kemenyan. Foto Dok. BRIN.

Ilustrasi parfum dari kemenyan. Foto Dok. BRIN.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Indonesia selama ini dikenal sebagai eksportir bahan mentah minyak atsiri 5 hingga 8 ton per tahun dengan nilai mencapai triliunan rupiah untuk diolah pihak luar negeri. Padahal kemenyan negeri ini memiliki potensi ekonomi yang luar biasa apabila diolah dengan teknologi yang tepat. Pusat Riset Botani Terapan (PRBT) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah mengubah persepsi tersebut dengan menciptakan produk turunan bernilai tinggi, mulai dari parfum yang bernilai mewah di kancah dunia hingga serum kecantikan berbasis tanaman asli Nusantara.

“Styrax Parfumes atau parfum kemenyan ini kalau dibeli di Paris harganya minimal sekitar 5 juta rupiah. Padahal dengan modal sekitar 200 ribu rupiah (bahan baku), kita bisa menghasilkan produk bernilai jutaan rupiah,” jelas Peneliti PRBT BRIN, Aswandi dalam Temu Bisnis Biosains Terapan 2026, di Gedung B.J. Habibie, Jakarta, Kamis, 26 Februari 2026.

Aswandi menjelaskan bagaimana tanaman yang sering dianggap mistis seperti kemenyan dan kapur barus (kamper), diburu industri kosmetik dunia, terutama dari Prancis dan Eropa.

“Jadi sebetulnya kami punya banyak mitra. Bahkan sudah berjalan. Ada juga yang akan datang ke Indonesia, yaitu dari perusahaan-perusahaan Prancis, dan juga Eropa yang akan mencoba untuk bagaimana menggunakan produk-produk ini,” ungkap dia.

Ia pun memberikan perbandingan. Parfum berbasis kemenyan di Paris bisa dijual minimal Rp5 juta, sementara bahan bakunya bisa diperoleh dengan harga yang jauh lebih terjangkau.

Baca juga: Matcha Bukan Solusi Instan agar Kulit Glowing

Berdasarkan data riset, parfum kemenyan hasil inovasi BRIN (Paten No. S00202314472) mengandung senyawa kompleks. Antara lain Bornyl acetate yang memberikan aroma pedas dan kayu, serta Linalool yang memberikan sentuhan aroma bunga dan jeruk yang manis.

“Kami menciptakan signature perfume konsentrasi tinggi yang tidak hanya bertahan lama, tetapi juga memiliki khasiat aromaterapi,” imbuh dia.

Selain kemenyan, riset difokuskan pada pohon Kapur (Kafura). Aswandi mengungkapkan fakta mengejutkan bahwa pada masa lalu, harga satu gram kapur barus alami setara dengan satu gram emas. Hingga saat ini, nilai ekonominya tetap tinggi, yakni satu kilogram kristal kapur alami bisa mencapai harga Rp100 juta.

“Tapi bukan kapur barus yang kita gunakan di rumah itu. Melainkan dari tanaman yang selama ini identik dengan peradaban Islam di Indonesia. Sebetulnya, bahan-bahan ini sangat Indonesia banget, gitu. Tidak ada di tempat lain,” tutur dia.

Inovasi bertajuk “Kafura Perfumes” memanfaatkan resin dari pohon Dryobalanops aromatica. Aroma kapur barus yang segar dan dingin (mentol) dikombinasikan dengan rempah nusantara lainnya untuk menciptakan produk yang sangat diminati pasar Timur Tengah dan Eropa.

Baca juga: Riset BRIN, Paparan Radiasi Alam Mamuju Capai 9 Kali Rata-Rata Dunia

“Permintaan industri dari Paris mencapai 200 ribu ton per tahun. Namun, kita sering terkendala ketersediaan karena kerusakan hutan. Kami juga fokus pada konservasi populasi pohon kapur di Sumatra Utara,” papar dia.

BRIN tengah berupaya melakukan konservasi populasi pohon kapur terbesar yang baru ditemukan di Sumatra Utara. Biar bahan baku ini bisa dikelola secara berkelanjutan, tanpa merusak hutan.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: BRINKapur BarusKemenyanminyak atsiri

Editor

Next Post
Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB UNiversity, Prof. Etty Riani. Foto CRPG Indonesia/youtube.

Etty Riani, Yang Berpotensi Masuk Dalam Darah adalah Nanoplastik, Bukan Mikroplastik

Discussion about this post

TERKINI

  • Idea serahkan sengketa informasi terkait dokumen perizinan pendirian objek wisata di kawasan karst Gunungsewu di Gunungkidul, 14 April 2026. Foto KSKG.Dokumen Izin Wisata di Karst Gunungsewu Tertutup, Idea Serahkan Sengketa Informasi
    In News
    Selasa, 14 April 2026
  • Dokter menjelaskan kondisi paru-paru peserta ACF melalui hasil foto rontgen yang muncul hanya sesaat setelah melakukan rontgen. Foto Pusat Kedokteran Tropis UGM.Jemput Bola Eliminasi TBC Targetkan 3.000 Warga di Gunungkidul
    In News
    Senin, 13 April 2026
  • Cahaya jejak roket Jielong-3, 11 April 2026. Foto Dok. BRIN.Jejak Roket Cina Jielong-3 di Langit Indonesia
    In News
    Senin, 13 April 2026
  • Nelayan Maluku Utara membersihkan jaring dari lumpur sedimentasi. Foto Walhi Maluku Utara.Ancaman dan Peluang Nelayan di Tengah Cuaca Ekstrem
    In Lingkungan
    Minggu, 12 April 2026
  • Ilustrasi hasil rontgen paru pasien TB. Foto freepik.com.Eliminasi TBC, Temukan Kasus secara Aktif dan Waspada Batuk Lebih dari Dua Minggu
    In Rehat
    Sabtu, 11 April 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media