Senin, 23 Maret 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Awan Panas Merapi Masih Fluktuatif, Tak Pengaruhi Kenaikan Suhu di DIY

Selasa, 14 Maret 2023
A A
Luncuran awan panas Gunung Merapi pada 13 Maret 2023.Foto Twitter @BPPTKG.

Luncuran awan panas Gunung Merapi pada 13 Maret 2023.Foto Twitter @BPPTKG.

Share on FacebookShare on Twitter

Baca Juga: Korban Longsor Natuna 46 Orang, Longsor di Lampung 2 Orang Tewas

Meskipun ketinggian Merapi yang mencapai 2.900 Mdpl menyebabkan awan panas terbawa angin kencang dan berubah menjadi debu vulkanik, tetapi tidak meningkatkan suhu secara signifikan.

“Proses erupsi Merapi tidak memengaruhi suhu. Namun, aerosol yang dihasilkan mungkin akan berpengaruh dalam menaikan maupun mengurangi suhu, tergantung angin,” terang Emilya.

Namun erupsi tersebut sempat meningkatkan suhu di tingkat lokal kawasan Merapi dalam waktu sekitar 1-2 jam sehingga tidak banyak memengaruhi suhu udara di DIY dan sekitarnya. Kenaikan suhu tersebut karena debu vulkanik dari erupsi Merapi menutupi radiasi ke bumi sehingga panas yang akan dilepaskan ke atmosfer terganggu.

Baca Juga: Antisipasi Awan Panas Susulan, Wisata Alam Merapi Tutup Sementara

“Jadi peningkatan suhu itu sangat lokal (kawasan Merapi) dan tidak lama,” imbuh Emilya.

Kenaikan suhu sekitar 1- 2 jam itu juga tidak meningkatkan potensi hujan di Yogyakarta. Guguran awan panas yang menuju arah barat tidak meningkatkan aerosol yang menjadi inti kondensasi awan sehingga tidak menyebabkan hujan di Yogyakarta.

Adanya peningkatan suhu yang minim akibat erupsi Merapi, salah satunya karena Indonesia adalah negara tropis dengan lapisan troposfer atau lapisan terendah atmosfer dengan ketebalan 18 km. Kondisi tersebut menyebabkan debu vulkanik di lapisan troposfer dapat langsung dilepaskan karena tidak masuk ke lapisan stratosfer atau lapisan kedua atmosfer bumi.

Baca Juga: Aktivitas Megathrust Nias Simeulue Picu Gempa Dangkal Laut Singkil

Kondisi berbeda terjadi di negara-negara kawasan Eropa yang memiliki lapisan troposfer hanya 6 km. Tipisnya lapisan troposfer menyebabkan debu vulkanik yang dihasilkan erupsi gunung di wilayah Eropa tidak hanya masuk ke lapisan troposfer, tetapi hingga lapisan stratosfer.

Emilya mencontohkan saat erupsi Gunung Eyjafjallajoekull pada 2010 silam. Debu vulkanik dari erupsi tersebut masuk hingga lapisan stratosfer yang berdampak pada iklim di kawasan Eropa.

Debu vulkanik erupsi masuk sampai lapisan stratosfer dan terjerat di sana. Dampaknya masih tersaa sampai sekarang mengingat musim dingin di Eropa lebih parah. Begitupun saat musim panas menjadi sangat panas karena masih ada debu vulkanik di stratosfer.

“Kondisi itu berbeda dengan erupsi Merapi pada 2010,” kata Emilya. [WLC02]

Sumber: UGM, Kementerian ESDM

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: aktivitas vulkanik fluktuatifawan panas guguranBPPTKGerupsi Gunung MerapiFakultas Geografi UGMhujan abukenaikan suhuKRB IIIsuplai magmaUGM

Editor

Next Post
Aksi aksi Pedal untuk Rakyat dan Planet 2023.Foto istimewa.

Solusi Palsu Krisis Iklim Membuat Beban Perempuan Kian Berat

Discussion about this post

TERKINI

  • Westa, aplikasi pengelolaan sampah berbasis AI. Foto Dok. FEB UGM.Aplikasi Westa, Identifikasi Jenis dan Berat Sampah untuk Menghitung Emisi Karbon
    In IPTEK
    Sabtu, 14 Maret 2026
  • Seorang mahout memandikan gajah di aliran sungai kawasan Konservasi Gajah Tangkahan, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Foto Soetana Hasby/Wanaloka.com.Instruksi Presiden untuk Selamatkan 21 Kantong Gajah yang Tersisa
    In News
    Sabtu, 14 Maret 2026
  • Dua perempuan menanam padi di sawah. Foto Wanaloka.com.Terdampak Perjanjian Dagang Timbal Balik Indonesia-USA, Perempuan Adat Melawan
    In Lingkungan
    Jumat, 13 Maret 2026
  • Desakan pengesahan RUU Masyarakat Adat dalam Aksi Kamisan, 5 September 2024. Foto AMAN.Hari Masyarakat Adat Nasional, Tak Ada Alasan RUU Masyarakat Adat Tak Disahkan
    In Rehat
    Jumat, 13 Maret 2026
  • Pengolahan sampah di PIAT UGM. Foto Dok. Humas UGM.Tragedi Bantargebang Akibat Pengelolaan Sampah Berorientasi pada Pembuangan
    In Lingkungan
    Kamis, 12 Maret 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media