Selasa, 16 Juni 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Sekitar 28 Juta Orang Indonesia Alami Gangguan Kejiwaan, Ada Kelompok Berisiko Tinggi

Masyarakat diharapkan dapat mengurangi stigma, sementara pemerintah perlu memastikan layanan kesehatan mental mudah diakses dan edukasi kesehatan mental diperluas.

Minggu, 25 Januari 2026
A A
Ilustrasi gangguan kejiwaan. Foto Counselling/pixabay.com.

Ilustrasi gangguan kejiwaan. Foto Counselling/pixabay.com.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Dalam rapat kerja bersama Komisi IX DPR pada 19 Januari 2026, Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin menyebutkan sekitar 28 juta orang dari 287 juta penduduk Indonesia mengalami masalah kejiwaan. Baik depresi, disorder atau anxiety disorder, skizofrenia, ADHD. Sementara data WHO menyebutkan satu dari 8-10 orang penduduk di dunia mempunyai masalah kejiwaan.

Dosen Fakultas Kedokteran IPB University, Riati Sri Hartini menilai pernyataan Menkes tersebut masuk akal. Mengingat sejumlah data menunjukkan jumlah masyarakat yang mengalami masalah kejiwaan memang sangat besar. Namun angka tersebut perlu dipahami secara hati-hati.

“Angka itu sangat bergantung pada apa yang dimaksud dengan masalah kejiwaan dan data tahun berapa yang diambil,” ujar psikiater itu, Sabtu, 24 Januari 2026.

Yang terpenting bukan hanya besarnya angka, melainkan kejelasan maknanya. Ia mempertanyakan apakah yang dimaksud masalah kejiwaan hanya mencakup gangguan jiwa berat atau juga termasuk stres, kecemasan, dan gangguan emosional lainnya.

“Apa pun definisinya, angka tersebut menunjukkan kesehatan mental merupakan persoalan serius yang dialami jutaan orang di Indonesia dan perlu penanganan yang lebih sungguh-sungguh,” tegas dia.

Baca juga: Kemunculan Sinkhole Menjadi Alarm Kegagalan Pengelolaan Tanah dan Air

Mengenal ADHD sejak dini

Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) merupakan gangguan perkembangan saraf yang dapat memengaruhi fungsi akademik, sosial, hingga kinerja seseorang di dunia kerja.

Pemahaman yang tepat mengenai gejala, waktu konsultasi, serta penanganan ADHD menjadi kunci untuk mencegah dampak jangka panjang yang lebih serius.

Penderita ADHD umumnya mengalami kesulitan memusatkan perhatian dan sangat mudah terdistraksi oleh rangsangan kecil di sekitarnya. Mereka sering tidak menyelesaikan tugas sampai tuntas dan tampak seperti tidak mendengarkan ketika diajak berbicara.

Selain gangguan perhatian, penderita ADHD juga cenderung gelisah, sulit diam, serta banyak bergerak meskipun berada dalam situasi yang menuntut ketenangan. Perilaku impulsif, seperti memotong pembicaraan atau tidak sabar menunggu giliran, juga kerap muncul.

Konsultasi ke dokter sebaiknya segera dilakukan apabila gejala ADHD muncul sejak sebelum usia 12 tahun dan berlangsung terus-menerus selama enam bulan atau lebih. Tanda penting lainnya adalah ketika gejala tersebut muncul di lebih dari satu lingkungan, seperti di rumah, sekolah, atau tempat kerja.

Baca juga: Longsor Terjang Bandung Barat, Delapan Tewas dan 82 Orang dalam Pencarian

“Konsultasi menjadi sangat utama ketika gejala sudah mengganggu fungsi sosial, prestasi akademik, kinerja pekerjaan, hingga menimbulkan stres berat,” jelas dia.

ADHD dapat berdampak signifikan terhadap prestasi akademik maupun kinerja profesional. Penderita sering kesulitan mempertahankan fokus saat belajar atau bekerja sehingga tugas tidak selesai tepat waktu dan hasil akademik menurun.

Kondisi ini juga memengaruhi motivasi dan ketekunan dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

“Apabila tidak ditangani secara tepat, risiko kegagalan studi atau pekerjaan dapat meningkat,” ucap dia.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: ADHDFakultas Kedokteran IPB UniversityGangguan KejiwaanKelompok Berisiko

Editor

Next Post
Banjing bandang menerjang lereng Gunung Slamet yang menyebabkan empat kabupaten terdampak, Sabtu, 24 Januari 2026. Foto Dok. BNPB.

Banjir Bandang Kepung Lereng Gunung Slamet, Empat Kabupaten Terdampak

Discussion about this post

TERKINI

  • Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Meutia Samira Ismet. Foto itk.ipb.ac.id.Meutia Ismet: Tambang Nikel Teluk Buli Ancam Ekosistem Laut hingga Kesehatan
    In Sosok
    Sabtu, 13 Juni 2026
  • Desakan pengesahan RUU Masyarakat Adat dalam Aksi Kamisan, 5 September 2024. Foto AMAN.Baleg DPR Janjikan RUU Masyarakat Adat Selesai 2026, Apa Saja akan Diatur?
    In Rehat
    Sabtu, 13 Juni 2026
  • Sidang gugatan intervensi Walhi atas kasus gugatan KLH melawan PT TPL di PN Medan, 10 Juni 2026. Foto Dok. Walhi.Gugatan Intervensi Walhi, PT TPL Harus Pulihkan 29.939 Ha Kawasan Terdampak Senilai Rp2,6 Triliun
    In News
    Jumat, 12 Juni 2026
  • Dosen Geologi Fakultas Teknik UGM, Gayatri Indah Marliyani. Foto Kagama.coGayatri Marliyani: Gempa Bumi di Laut Mindanao Umum Terjadi
    In Sosok
    Jumat, 12 Juni 2026
  • Ilustrasi kemarau panjang. Foto Adege/Pixabay.com.BMKG Prediksi El Nino 2026 Bertahan hingga Awal 2027
    In News
    Kamis, 11 Juni 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media