Sabtu, 28 Maret 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Banjir Langganan di Ambawang Kalbar, Ini Penyebab dan Solusi Versi Kementerian PU dan Komisi V DPR

Sungai Ambawang merupakan anak Sungai Kapuas dengan panjang 70,15 kilometer. Terakhir, luas area genangan banjir mencapai 168,83 ha.

Sabtu, 7 Desember 2024
A A
Banjir di Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. Foto Dok. Kementerian PU.

Banjir di Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. Foto Dok. Kementerian PU.

Share on FacebookShare on Twitter

“Informasi yang kami terima menunjukkan penyempitan Sungai Ambawang menjadi penyebab utama. Kami susuri langsung sungainya dan memang alirannya hampir tertutup gulma. Ini masalah yang harus segera diatasi,” ujar Lasarus.

Baca Juga: Mengapa Satwa Liar Diserahkan pada BBKSDA, Direhabilitasi, Lalu Dilepasliarkan?

Dalam kunjungan kerja reses ini, Lasarus memaparkan dua opsi solusi yang sedang dipertimbangkan. Pertama, soal gulma yang menutupi aliran sungai akan segera dibersihkan menggunakan alat berat yang sudah dikerahkan ke lokasi. Jika setelah normalisasi air surut, maka fokus penanganan akan tertuju pada pemeliharaan sungai.

Kedua, jika banjir tetap menggenangi jalan meskipun aliran sungai telah diperbaiki, maka langkah selanjutnya adalah meninggikan jalan untuk memastikan akses masyarakat tidak terganggu.

“Kesimpulan ini harus cepat diambil. Rumah penduduk sudah terlalu lama terendam, dan jalan yang terputus akan memicu masalah lebih besar bagi Pontianak sebagai pusat aktivitas ekonomi,” tegas Politisi PDI-Perjuangan itu.

Baca Juga: Mobilitas Tinggi di Jawa-Sumatera, Cek Info Cuaca Ekstrem Sebelum Liburan Nataru

Akibat pengerukan sungai

Sementara Anggota Komisi V DPR RI, Sudjatmiko menyoroti dampak pendangkalan sungai yang menyebabkan banjir di beberapa wilayah di Kalimantan Barat. Sebab pendangkalan sungai akan mengurangi lebar dan kedalaman aliran sungai, sehingga memperparah banjir.

“Dalam Daerah Aliran Sungai (DAS), perlu ada langkah permanen seperti pemasangan patok untuk mencegah pembangunan di sekitar DAS. Selain itu, elevasi tanah yang rendah juga menjadi faktor risiko,” ujar Sudjatmiko saat kunker ini.

Ia menambahkan, upaya permanen harus dilakukan untuk meminimalkan dampak banjir, termasuk menjaga fungsi DAS dan memperhatikan perubahan peruntukan lahan di wilayah hulu yang berpengaruh ke hilir.

Baca Juga: Puluhan Kecamatan di Kabupaten Sukabumi Terdampak Banjir dan Longsor

“Penanganan sementara seperti yang dilakukan Basarnas perlu dilengkapi dengan solusi permanen agar banjir tidak terus berulang,” imbuh dia.

Legislator Fraksi PKB itu juga menyoroti pendangkalan di Pelabuhan Dwikora Pontianak yang mempersulit aktivitas pelayaran.

“Kedalaman awalnya 6 meter, sekarang hanya 3 hingga 3,5 meter. Ini membuat kapal sulit bersandar saat air surut dan disarankan untuk dilakukan pengerukan permanen atau Pembangunan Kanal untuk mengatasi masalah tersebut,” papar dia.

Baca Juga: Pelepasliaran Kasuari Selatan di Hutan Keramat Masyarakat Adat Papua

Terkait pengembangan Pelabuhan Kijing sebagai pengganti Dwikora, Sudjatmiko menegaskan pentingnya keterlibatan pemerintah daerah untuk memastikan keberhasilan proyek infrastruktur seperti jalan tol penunjang.

“Pelabuhan Kijing yang benar-benar berada di laut diharapkan mampu mengatasi kendala yang selama ini dialami di Pelabuhan Pontianak,” imbuh dia. [WLC02]

Sumber: Kementerian PU, DPR RI

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: banjirKalimantan BaratKementerian PUKomisi V DPRSungai Ambawang

Editor

Next Post
Masyarakat adat di TN Wasur di Merauke menyampaikan harapan di hadapan pemerinrah dan Komisi IV DPR, 7 Desember 2024. Foto Dok. PPID KLHK.

Harapan Masyarakat Adat yang Hidup di Taman Nasional Wasur di Merauke

Discussion about this post

TERKINI

  • Westa, aplikasi pengelolaan sampah berbasis AI. Foto Dok. FEB UGM.Aplikasi Westa, Identifikasi Jenis dan Berat Sampah untuk Menghitung Emisi Karbon
    In IPTEK
    Sabtu, 14 Maret 2026
  • Seorang mahout memandikan gajah di aliran sungai kawasan Konservasi Gajah Tangkahan, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Foto Soetana Hasby/Wanaloka.com.Instruksi Presiden untuk Selamatkan 21 Kantong Gajah yang Tersisa
    In News
    Sabtu, 14 Maret 2026
  • Dua perempuan menanam padi di sawah. Foto Wanaloka.com.Terdampak Perjanjian Dagang Timbal Balik Indonesia-USA, Perempuan Adat Melawan
    In Lingkungan
    Jumat, 13 Maret 2026
  • Desakan pengesahan RUU Masyarakat Adat dalam Aksi Kamisan, 5 September 2024. Foto AMAN.Hari Masyarakat Adat Nasional, Tak Ada Alasan RUU Masyarakat Adat Tak Disahkan
    In Rehat
    Jumat, 13 Maret 2026
  • Pengolahan sampah di PIAT UGM. Foto Dok. Humas UGM.Tragedi Bantargebang Akibat Pengelolaan Sampah Berorientasi pada Pembuangan
    In Lingkungan
    Kamis, 12 Maret 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media