Sabtu, 28 Maret 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Belajar Konsisten Menjaga Hutan dari Masyarakat Adat

Upaya konservasi hutan yang paling efektif justru berasal dari hasil yang sudah dipraktikkan masyarakat adat sejak lama. Masyarakat adat merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan dari bentang alamnya.

Minggu, 14 September 2025
A A
Hutan adat Leuweung Gede di Kampung Kuta, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Foto Dok. Kemenhut.

Hutan adat Leuweung Gede di Kampung Kuta, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Foto Dok. Kemenhut.

Share on FacebookShare on Twitter

Kearifan lokal dan pengetahuan modern

Sementara di tengah laju deforestasi akibat dampak pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit, pembalakan liar hingga alih fungsi lahan, konservasi menjadi salah satu strategi agar hutan tetap lestari untuk menjaga ketersediaan sumber daya alam dan melindungi keanekaragaman hayati.

Baca juga: Komisi XIII DPR Soroti Dugaan Pelanggaran HAM terhadap Masyarakat Adat Tapanuli Raya

Namun sebaiknya program konservasi hutan tidak hanya menggunakan perspektif teknologi dan inovasi modern. Melainkan juga perlu menggunakan pendekatan kearifan lokal terutama masyarakat adat yang masih memegang tradisi lama dalam menjaga keseimbangan alam.

Tokoh adat dari Desa Tamblingan, Bali, Putu Ardana mengatakan upaya konservasi yang paling efektif justru berasal dari hasil yang sudah dipraktikkan masyarakat adat sejak lama. Masyarakat adat merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan dari bentang alamnya.

“Interaksi antara komunitas dan lingkungan diatur dalam sebuah sistem sosial sehingga membentuk Eco-socio-System,” jelas Putu Ardana dalam seminar “Merajut Pengetahuan Tradisional dan Modern untuk Konservasi Berkelanjutan dalam Pencapaian Target IBSAP 2025-2045”di ruang Auditorium Fakultas Kehutanan UGM, Kamis, 11 September 2025.

Baca juga: Hujan Lebat dan Angin Kencang Mengintai 12-18 September 2025

Kaweng, demikian sapaan akrabnya, memberikan contoh sebuah ritual adat sebenarnya juga bisa berfungsi sebagai sensus ekologi. Dalam sebuah ritual adat di Tamblingan terdapat sarana yang perlu dipenuhi. Salah satunya adanya tanaman hutan.

“Jika tanaman tersebut tidak ditemukan, ritual tidak bisa dilaksanakan, sehingga kami harus menanamnya. Apa yang kini dikenal sebagai konservasi, sejak dahulu kala, kami sebut sebagai ritual,” kata mantan Aktivis Gelanggang UGM ini.

Sementara Dosen Fakultas Kehutanan UGM Dwiko Budi Permadi, memaparkan peran penting perguruan tinggi sebagai motor inovasi dan teknologi, membangun kemitraan advokasi, dan regenerasi. Menurut dia, perguruan tinggi bisa berperan menjembatani pengetahuan yang dihasilkan secara bersama baik dari sisi scientific knowledge dan local knowledge.

Baca juga: Tukad Meluap Semalam di Bali, 16 Warga Tewas dan 552 Warga Mengungsi

“Bukan hanya transfer ilmu dari ilmuwan ke masyarakat, melainkan pertukaran, penggabungan, dan penciptaan pengetahuan baru yang mengintegrasikan keduanya sehingga menghasilkan solusi yang relevan dan berkelanjutan,” jelas dia.

Direktur Konservasi Kawasan, Kementerian Kehutanan, Sapto Aji Prabowo menegaskan konservasi hutan saat ini memerlukan pendekatan kolaboratif dan integratif dengan dukungan dari pemangku kepentingan. Terutama perguruan tinggi, dunia usaha, pemerintah daerah, LSM, media, mitra pembangunan, dan seluruh elemen masyarakat. [WLC02]

Sumber: Kementerian Kehutanan, UGM

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: Fakultas Kehutanan UGMHutan AdatHutan Adat Leuweung GedeKampung KutaKementerian KehutananMasyarakat Adat

Editor

Next Post
Ilustrasi udang beku. Foto freepik.

Pabrik PMT Disegel karena Ekspor Udang Beku Terkontaminasi Cesium, Ini Kata Pakar

Discussion about this post

TERKINI

  • Westa, aplikasi pengelolaan sampah berbasis AI. Foto Dok. FEB UGM.Aplikasi Westa, Identifikasi Jenis dan Berat Sampah untuk Menghitung Emisi Karbon
    In IPTEK
    Sabtu, 14 Maret 2026
  • Seorang mahout memandikan gajah di aliran sungai kawasan Konservasi Gajah Tangkahan, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Foto Soetana Hasby/Wanaloka.com.Instruksi Presiden untuk Selamatkan 21 Kantong Gajah yang Tersisa
    In News
    Sabtu, 14 Maret 2026
  • Dua perempuan menanam padi di sawah. Foto Wanaloka.com.Terdampak Perjanjian Dagang Timbal Balik Indonesia-USA, Perempuan Adat Melawan
    In Lingkungan
    Jumat, 13 Maret 2026
  • Desakan pengesahan RUU Masyarakat Adat dalam Aksi Kamisan, 5 September 2024. Foto AMAN.Hari Masyarakat Adat Nasional, Tak Ada Alasan RUU Masyarakat Adat Tak Disahkan
    In Rehat
    Jumat, 13 Maret 2026
  • Pengolahan sampah di PIAT UGM. Foto Dok. Humas UGM.Tragedi Bantargebang Akibat Pengelolaan Sampah Berorientasi pada Pembuangan
    In Lingkungan
    Kamis, 12 Maret 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media