Dwikorita berharap SLG di Kulon Progo ini menjadi momentum untuk memperkuat kapasitas daerah dalam menghadapi bencana. Ia juga menekankan pentingnya peran aktif masyarakat dalam meneruskan ilmu dan pengalaman yang diperoleh dari program ini.
“Bencana memang tidak bisa kita cegah, tetapi dampaknya bisa kita kurangi. Dengan kesiapsiagaan, kita tidak hanya menyelamatkan nyawa, tetapi juga memastikan pembangunan dan pariwisata tetap berkelanjutan,” imbuh dia.
Sementara menurut Wakil Bupati Kulon Progo, Ahmad Ambar Purwoko, SLG merupakan wujud nyata sinergi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam memperkuat kesiapsiagaan masyarakat menghadapi potensi bencana gempabumi dan tsunami.
Baca juga: Titi Mangsa Dinilai Tak Relevan, Petani Gunungkidul Belajar Pahami Prediksi Iklim
“Ilmu yang diperoleh dalam kegiatan ini jangan hanya disimpan, tapi harus diamalkan demi kepentingan bersama,” ucap Ambar.
Kepala Stasiun Geofisika Yogyakarta, Ardhianto, selaku ketua panitia melaporkan bahwa kegiatan ini diikuti 55 peserta yang terdiri atas jajaran pemerintah daerah, BPBD, aparat TNI/Polri, sekolah, SKPD terkait, perwakilan Bandara YIA, PLN, hingga masyarakat pesisir.
SLG yang telah dilaksanakan di DIY selama lebih dari 10 tahun dengan berbagai capaian, termasuk terbentuknya desa-desa Tsunami Ready.
Baca juga: Diseminasi Liputan Kolaborasi Menyelamatkan Hutan Pulau Sipora
“Melalui kegiatan di Kulon Progo ini, kami berharap lahir para champion yang akan menularkan semangat kesiapsiagaan, baik dari tingkat keluarga hingga komunitas,” harap dia.
Dengan tema “Membangun Budaya Sadar, Siaga, dan Selamat Menghadapi Gempabumi dan Tsunami di Kabupaten Kulon Progo”, kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat sinergi antara pemerintah pusat, daerah, swasta, dan masyarakat dalam mewujudkan budaya sadar bencana. [WLC02]
Sumber: BMKG







Discussion about this post