Minggu, 18 Januari 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Bumi Rusak, Dampak Manusia Abaikan Ibadah dengan Urusan Lingkungan

Minggu, 27 Oktober 2024
A A
Talkshow peringatan Hari Santri Nasional 2024 di Bantul, 27 Oktober 2024. Foto Istimewa.
Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Kenapa Bumi semakin rusak? Demikian pertanyaan besar yang menjadi sorotan dalam talkshow lingkungan bertema “Peran Ormas Keagamaan dalam Memperjuangkan Kelestarian Lingkungan” di Kampung Mataraman, Bantul, DI Yogyakarta, Ahad, 27 Oktober 2024.

“Karena kehidupan manusia semakin jauh dari agama. Kita sering menganggap bahwa ibadah kita tidak ada urusannya dengan urusan lingkungan,” kata Staf Pengajar Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Kudus, Zaimatus Sa’diyah yang mendalami ilmu “Religion and Ecologi” dalam acara yang digelar PW Fatayat NU, PW IPNU dan PW IPPNU DIY untuk memperingati Hari Santri Nasional 2024 itu.

Ia mengutip kitab dari Syaikh Ali Jum’ah yang memberikan statemen tentang relasi lingkungan dan manusia. Pertama, relasi dasar al-musawah (kesetaraan), yaitu manusia dengan alam sama-sama makhluk Tuhan yang dituntut untuk tunduk dan menyembah-Nya.

Baca Juga: Zulfiadi Zulhan, Produksi Logam Tanpa Jejak Karbon Lewat Reaktor Plasma Hidrogen

“Meskipun manusia terkadang sering membangkang dengan aturan tersebut karena kezalimannya,” ucap Zaimatus dalam siaran tertulis yang diterima Wanaloka.com, 27 Oktober 2024.

Kedua, relasi medium, yaitu menganggap bumi ini adalah media bagi manusia untuk bertafakur atas kegungan dan ke-Maha Besar-an Allah SWT.

Ketiga, relasi tertinggi yaitu manusia menganggap bahwa mencintai Bumi berarti mencintai Allah SWT.

Baca Juga: Pelibatan Petani Lokal dan Petani Muda Jadi Kunci Keberhasilan Food Estate?

Artinya, dalam konsepsi antara manusia dan alam (lingkungan) adalah bersifat simbiosis-mutualisme. Keduanya saling membutuhkan satu sama lain.

“Jadi tidak dibenarkan manusia mengeksploitasi seenaknya demi meraup keuntungan yang sebesar-besarnya dengan dalih memakmurkan alam atau lingkungan,” ucap Zaimatus.

Perempuan paling terdampak

Senyampang dengan penjelasan dalam buku “Fiqih Energi Terbarukan”, bahwa dampak perubahan iklim yang dirasakan setiap orang akan berbeda. Namun 5-10 tahun lagi akan semakin terasa. Saat ini banyak antibiotik tidak manjur lagi karena mikroba sudah beradaptasi dampak perubahan iklim. Padahal mengembangkan antibiotik butuh belasan tahun, sementara bakteri dan virusnya sudah makan korban ribuan manusia.

Baca Juga: Food Estate Terbukti Gagal dan Rugikan Petani, Koalisi Sipil Tuntut Hentikan

Dan menurut riset yang dilakukan oleh para ahli lingkungan di dunia dalam Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) yang tertulis dalam 3000 halaman mengatakan bahwa perubahan iklim yang terjadi karena ulah manusia.

“Bukan alami karena bumi yang sudah tua. Pada saat itu orang akan sadar apakah masih menggunakan bahan bakar yang berasal dari fosil atau beralih menggunakan energi terbarukan,” kata salah satu anggota tim penulisnya, Ahmad Rahma Wardhana.

Staf Pengajar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) yang mendalami ilmu Global Gender Studies, Yuyun Sriwahyuni menambahkan, dalam segitiga gunung es kerusakan lingkungan, perempuan merupakan siklus yang paling dekat dampaknya.

Baca Juga: Kementerian ESDM akan Genjot Lifting Minyak untuk Swasembada Energi

“Karena kerja domestik lebih banyak dilakukan perempuan,” kata Yuyun.

Ia mencontohkan, air yang terkontaminasi limbah batu bara di Kalimantan masuk ke rumah-rumah. Perempuan lebih banyak membutuhkan air bersih. Mengingat upaya mencegah penyakit yang ditimbulkan dari mutase genetik merupakan tugas perempuan. Kemudian, perempuan juga yang paling berdekatan dengan sampah di rumah.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: Fatayat NUHari Santri Nasionalkerusakan lingkunganMuktamar NUormas keagamaanperubahan iklim

Editor

Next Post
Festival Larung Kali Gajahwong #4 di Balirejo, Kecamatan Umbulharjo, Kota Yogyakarta, 27 Oktober 2024. Foto Dok. RW 6 Balirejo.

Ikhtiar Warga Balirejo Menjaga Kelestarian Kali Gajahwong

Discussion about this post

TERKINI

  • Rapat pleno untuk mendengarkan penjelasan pengusul dari Fraksi PAN terkait RUU tentang Pengelolaan Perubahan Iklim di Gedung DPR RI, Jakarta, 15 Januari 2026. Foto Geral-Andri/DPR.Legislator Usulkan RUU Pengelolaan Perubahan Iklim Atur Perdagangan Karbon
    In News
    Minggu, 18 Januari 2026
  • Ilustrasi koruptor sumber daya alam. Foto Robert_Anthony_Art/pixabay.com.Walhi Ingatkan Pilkada Tak Langsung Rawan Korupsi Sumber Daya Alam
    In News
    Minggu, 18 Januari 2026
  • Sinkhole di lahan warga di Dusun Kandri, Desa Pucung, Kecamatan Girisubo, Kabupaten Gunungkidul. Foto desapucung.gunungkidulkab.go.id.Rekayasa Geoteknik Cegah Sinkhole yang Sering Terjadi di Kawasan Karst
    In IPTEK
    Sabtu, 17 Januari 2026
  • Ilustrasi interaksi kucing dengan manusia. Foto vaclavzavada/pixabay.com.Kucing Tak Akibatkan Infertilitas Manusia, Justru Makanan Jadi Sumber Utama
    In Rehat
    Sabtu, 17 Januari 2026
  • Tim medis melakukan nekropsi pada gajah sumatera betina yang ditemukan mati di Dusun Aras Napal, Besitang, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Foto ksdea.menlhk.go.idIndonesia Peringkat Kedua Rawan Bencana, Kehilangan Biodiversitas Tertinggi di Sumatra
    In Lingkungan
    Jumat, 16 Januari 2026
wanaloka.com

©2025 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2025 Wanaloka Media