Sabtu, 26 September 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Zulfiadi Zulhan, Produksi Logam Tanpa Jejak Karbon Lewat Reaktor Plasma Hidrogen

Salah satu kontributor kenaikan suhu Bumi adalah industri pengolahan logam menggunakan blast furnace yang menghasilkan emisi CO cukup banyak.

Sabtu, 26 Oktober 2024
A A
Pakar Teknik Metalurgi FTTM ITB, Prof. Zulfiadi Zulhan. Foto metallurgy.itb.ac.id.

Pakar Teknik Metalurgi FTTM ITB, Prof. Zulfiadi Zulhan. Foto metallurgy.itb.ac.id.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Guru Besar dari Kelompok Keahlian Teknik Metalurgi, Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan, Institut Teknologi Bandung (FTTM ITB), Prof. Zulfiadi Zulhan menyampaikan bahwa logam yang ada di muka bumi berasal dari meteor. Logam tersebut kemudian bereaksi dengan air dan oksigen sehingga berkarat dan menjadi bijih.

Keberadaan bijih akan dipetakan kegiatan eksplorasi teknik geologi dan teknik geofisika. Selanjutnya, proses penambangan bijih dilakukan oleh teknik pertambangan. Hingga akhirnya sampai di pabrik pengolahan yang menjadi tanggung jawab teknik metalurgi.

Bijih yang sudah masuk ke pabrik pengolahan akan melalui berbagai proses hingga akhirnya menjadi logam. Proses yang dilalui adalah kominusi, konsentrasi, ekstraksi, dan pemurnian. Tidak hanya mengolah logam, teknik metalurgi juga berperan dalam mendaur ulang logam yang sudah tidak terpakai menjadi logam baru lagi.

Baca Juga: Pelibatan Petani Lokal dan Petani Muda Jadi Kunci Keberhasilan Food Estate?

Sementara kenaikan temperatur muka bumi sudah mencapai angka 1,58 derajat Celcius. Salah satu kontributornya adalah industri pengolahan logam menggunakan blast furnace yang menghasilkan emisi CO cukup banyak.

“Masalah ini harus segera diatasi sebelum menyebabkan risiko kekeringan, gelombang panas, juga curah hujan yang tidak teratur,” kata Zulfiadi dalam Orasi Ilmiah Guru Besar yang digelar di Aula Barat, ITB Kampus Ganesha, Sabtu, 12 Oktober 2024.

Dalam pidato orasi imiahnya yang berjudul “Reaktor Plasma Hidrogen untuk Produksi Logam yang Ramah Lingkungan dan Berkelanjutan”, Zulfiadi menjelaskan upaya memproduksi logam yang tidak meninggalkan jejak karbon adalah melalui reaktor plasma hidrogen yang memanfaatkan hidrogen sebagai reduktornya.

Baca Juga: Food Estate Terbukti Gagal dan Rugikan Petani, Koalisi Sipil Tuntut Hentikan

“Hingga saat ini telah dilakukan berbagai percobaan dalam skala laboratorium untuk memproduksi logam menggunakan reaktor plasma hydrogen,” jelas dia.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: Artificial IntelligenceFTTM ITBjejak karbonProf. Zulfiadi Zulhanreaktor plasma hidrogenstainless steel

Editor

Next Post
Talkshow peringatan Hari Santri Nasional 2024 di Bantul, 27 Oktober 2024. Foto Istimewa.

Bumi Rusak, Dampak Manusia Abaikan Ibadah dengan Urusan Lingkungan

Discussion about this post

TERKINI

  • Peoples’ Conservation Summit (PCS) 2026: Road to COP-17 CBD, Armenia, digelar sejak 1 hingga 3 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, UGM, Yogyakarta.PCS 2026 Hasilkan Deklarasi Konservasi Rakyat Indonesia
    In News
    Sabtu, 5 September 2026
  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Jaringan masyarkat sipil mendesak pemerintah menghentikan konflik agraria dan pelanggaran HAM di Desa Rakawuta, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, dan di wilayah Komunitas Adat Muara Tae, Kutai Barat, Kalimantan Timur.Hentikan Konflik Agraria dan Pelanggaran HAM di Rakawuta dan Muara Tae
    In News
    Kamis, 3 September 2026
  • Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Foto Geopix.Karhutla Borneo, 25 Juta Hektar Wilayah Habitat Orangutan Kalimantan Terbakar
    In Lingkungan
    Kamis, 3 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media