Jumat, 6 November 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Bumi Rusak, Dampak Manusia Abaikan Ibadah dengan Urusan Lingkungan

Minggu, 27 Oktober 2024
A A
Talkshow peringatan Hari Santri Nasional 2024 di Bantul, 27 Oktober 2024. Foto Istimewa.
Share on FacebookShare on Twitter

Dampak kerusakan lingkungan yang dirasakan perempuan pun ganda. Tidak hanya terdampak struktur, tapi juga sisi-sisi lain. Tugas menyiapkan makanan adalah tugas perempuan, ketika kerusakan lingkungan semakin parah, air dan sumber makanan tidak bisa diakses dengan mudah.

Baca Juga: Disesalkan, Delegasi Indonesia Tolak Badan Permanen dan Pendanaan Langsung untuk Masyarakat Adat dalam COP 16 CBD

“Perempuan harus berjalan berkilo-kilo. Itu pun tidak terjamin keamanannya untuk mendapatkan air dan sumber makanan,” jelas Yuyun.

Upaya hulu ke hilir

Dalam acara tersebut, Kepala Desa Panggungharjo, Wahyudi Anggoro Jati berbagi pengalaman melakukan aksi pengelolaan sampah di desanya. Bahwa cara mengelola sampah yang baik harus dilakukan dengan tiga cara, yaitu penanganan di hulu, tengah, dan hilir.

Meliputi mendesain ulang tata kelola sampah, menyusun sistem yang baik, dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya mengelola sampah yang baik.

Baca Juga: IPB University Teliti Populasi Ikan Red Devil yang Resahkan Nelayan Danau Toba

“Dan persoalan sampah tidak bisa diserahkan hanya kepada pihak swasta atau masyarakat saja atau kepada pihak pemerintah saja. Tapi harus ada kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat dalam pengelolaannya,” papar Wahyudi.

Perubahan iklim dan lingkungan ini seharusnya mendorong momentum untuk perubahan perilaku hidup masyarakat yang lebih bersih, disiplin dan tertib. Kami membutuhkan perbaikan infrastruktur, baik politik, ekonomi, sosial, dan teknologi.

Tantangan tidak mudah dan membutuhkan kerja keras dari berbagai pihak dengan fasilitasi insentif dan disinsentif.

Baca Juga: Simocakap, Cegah Kebakaran Lahan Gambut Berbasis Teknologi dan Partisipasi Masyarakat

“Sekarang krisis sampah, 5 tahun lagi krisis air, 10 tahun lagi krisis pangan. Kami harus menyiapkan sejak sekarang dengan basis komunitas pangan yang sehat,” kata Wahyudi.

Pendekatan UHC seolah-olah negara baik hati, tetapi tidak lepas dari industri kesehatan. Basis strategi pangan yang sehat dan kuat, basisnya dari sampah.

Dalam buku “Fiqih Energi Terbarukan”, Rahma menjelaskan fiqih tersebut tersebut lahir dari hasil bahtsul matsail yang membahas soal isu-isu lingkungan lengkap dengan dalilnya.

Baca Juga: Pengamat UGM Ingatkan Prabowo, Swasembada Energi Butuh Komitmen Bukan Omon-omon

“Energi terbarukan sangat memungkinkan untuk digunakan. Penyumbang terbesar emisi rumah kaca 33 persen adalah batu bara,” kata Rahma.

Dalam Muktamar NU ke-34 pada tanggal 22-24 Desember 2021 di Lampung menyambut semangat menggunakan energi terbrukan yang ditindaklanjuti dengan rekomendasi untuk mengurangi penggunaan bahan bakar batu bara.

“Pemerintah perlu bersama dengan para pengusaha untuk menyiapkan rencana dan menjalin kerjasama internasional untuk akselerasi transisi ke energi terbarukan dan mencapai proporsi EBT minimal 30 % pada tahun 2025 serta net zero emisi pada tahun 2045. Pemerintah perlu menghentikan pembangunan PLTU batubara baru mulai tahun 2022 dan pengurangan produksi batubara mulai tahun 2022 serta early retirement/phase out PLTU Batu Bara pada tahun 2040 untuk mempercepat proses transisi energi yang berkeadilan, demokratis dan terjangkau,” demikian bunyi rekomendasi tersebut. [WLC02]

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: Fatayat NUHari Santri Nasionalkerusakan lingkunganMuktamar NUormas keagamaanperubahan iklim

Editor

Next Post
Festival Larung Kali Gajahwong #4 di Balirejo, Kecamatan Umbulharjo, Kota Yogyakarta, 27 Oktober 2024. Foto Dok. RW 6 Balirejo.

Ikhtiar Warga Balirejo Menjaga Kelestarian Kali Gajahwong

Discussion about this post

TERKINI

  • Kaoem Telapak desak pemerintah usut tuntas dugaan pembalakan liar dan pencucian kayu Merbau di Nabire, Papua Tengah. Foto Kaoem Telapak.Kaoem Telapak Desak Pemerintah Usut Tuntas Dugaan Pembalakan di Nabire
    In News
    Rabu, 4 November 2026
  • Media alternatif, Gejayan.id menggelar walking tour bertema “Tribute to Udin” #1 ke bekas Kantor Harian Bernas, Kota Yogyakarta. Foto Istimewa.Gejayan Civic Memory Lab: Napak Tilas Jurnalistik Udin di ‘Kantor Bernas’
    In News
    Senin, 2 November 2026
  • Episenter gempa 6,4 magnitudo di Laut Banda, Maluku, pada Kamis, 29 Oktober 2026. Foto tangkap layar BMKG.Laut Banda Maluku Digoyang Gempa Menengah 6,4 Magnitudo
    In News
    Kamis, 29 Oktober 2026
  • Kondisi Desa Sei Gita, Kecamatan Mantangai, Kabupaten Kapuas, Provinsi Kalimantan Tengah, diselimuti kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada Selasa, 13 Oktober 2026. Foto Dok Borneo Is Burning.Karhutla 2026, HRWG Tuntut Pemerintah Transparan Soal Data Lahan Terbakar dan Mengusut Pihak Bertanggungjawab
    In Lingkungan
    Senin, 26 Oktober 2026
  • Pertemuan 20 organisasi masyarakat sipil kawasan Asia Pasifik dalam Asia Pacific System Change Convergence 2026 di Yogyakarta, pada 17-21 Oktober 2026. Foto Istimewa.Organisasi Masyarakat Sipil Asia Pasifik Serukan Perubahan Sistem Mengakhiri Krisis Ekologis dan Ketidakadilan Global 
    In News
    Sabtu, 24 Oktober 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media