Jumat, 27 Maret 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Catatan Masyarakat Sipil: KTT ASEAN 2023 Jadi Episentrum Krisis

September 2023 menjadi momentum gelaran KTT ASEAN di Jakarta dan KTT G20 di India yang menyisakan banyak catatan kritis dari sejumlah organisasi masyarakat sipil.

Selasa, 12 September 2023
A A
Kepala negara dan kepala pemerintahan negara-negara ASEAN dalam Pembukaan KTT ASEAN ke-43. Foto Zabur Karuru/gallery.asean2023.id

Kepala negara dan kepala pemerintahan negara-negara ASEAN dalam Pembukaan KTT ASEAN ke-43. Foto ZaburKaruru/ gallery.asean2023.id

Share on FacebookShare on Twitter

Proyek korporasi pangan (food estate) yang terbukti gagal dan menimbulkan berbagai persoalan sosial ekologis seperti deforestasi, perampasan lahan, dan pelanggaran HAM, terus dipaksakan. Selain juga kemudahan importasi pangan dan kegagalan negara memastikan hak atas pangan terpenuhi. Juga terdapat netralitas karbon yang berpotensi menjadi sarana greenwashing bagi negara maju dan korporasi untuk tetap melakukan ekstraksi sumber-sumber agraria.

Baca Juga: Kisah Heroik Perempuan Panglima Angkatan Laut Malahayati di Panggung Teater

Netralitas karbon dalam skema perdagangan karbon berpotensi merampas kedaulatan masyarakat lokal dan masyarakat adat atas kedaulatan wilayah mereka. Akselerasi ekosistem kendaraan listrik juga memiliki catatan hitam dalam rantai pasok hulu hilir komoditas mineral seperti nikel. Ada jutaan hektar alih fungsi kawasan hutan, ratusan sungai dan pesisir tercemar hingga ratusan desa lingkar tambang yang hancur lingkungan hidupnya.

Semua kemudahan perampasan tanah atas nama pembangunan difasilitasi berbagai kebijakan dan peraturan perundang-undangan demi menciptakan iklim investasi sebaik mungkin. Sebut saja yang baru terjadi di Air Bangis, Pasaman Barat dan proyek Rempang Eco City di Batam, berbagai proyek infrastruktur dikebut dan dipaksakan dengan pengamanan aparat yang berlebihan. Anak dan perempuan menjadi korban terdepan dan tidak terhitung, baik di tataran rencana, implementasi dan dampak pembangunan yang tidak berkelanjutan.

Lalu ambisi proyek 10 Bali Baru di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT) di balik gegap gempita pembangunan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Super Prioritas Labuan Bajo. Kenyataannya semakin menyengsarakan rakyat dan mencerabut akar budaya, sosial dan ekonomi masyarakat. Selain pemaksaan proyek geothermal yang mengorbankan rakyat di Poco Leok, di Golo Mori, Manggarai Barat juga terjadi pembangunan yang menggusur tanpa partisipasi, tanpa ganti rugi, bahkan dilakukan dengan kekerasan, intimidasi dan kriminalisasi. Hingga rangkaian KTT ASEAN berakhir, belum ada tanggung jawab negara menyelesaikan berbagai persoalan ini.

Baca Juga: Suparto Wijoyo: Hukum Jadi Solusi Atasi Krisis Iklim

Ruang hidup rakyat hilang akibat pembangunan skala besar akan mendorong banyak perempuan memilih menjadi buruh migran. Isu buruh migran pun menjadi penting dalam ASEAN. Skema migrasi buruh melalui perekrutan langsung secara online kemudian disalahgunakan agen penempatan yang berujung pada tindak pidana perdagangan orang (TPPO). Cengkraman aktor privat dan kegagalan negara ASEAN untuk membangun tata kelola migrasi di Asia Tenggara telah mereproduksi kerentanan perempuan buruh migran.

“Kami menuntut negara untuk menyudahi dan menghentikan berbagai praktik perampasan lahan,” demikian seruan masyarakat sipil. [WLC02]

Sumber: Jatam

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: bahan bakar fosilepicentrum of crisisfood estateJatamkrisis agrariaKSPNKTT ASEAN ke-43masyarakat sipil

Editor

Next Post
Dosen Teknik Nuklir dan Teknik Fisika UGM, Dr. Haryono Budi Santosa. Foto ugm.ac.id.

Haryono Budi Santosa: Limbah Nuklir Fukushima Aman Dibuang ke Laut

Discussion about this post

TERKINI

  • Westa, aplikasi pengelolaan sampah berbasis AI. Foto Dok. FEB UGM.Aplikasi Westa, Identifikasi Jenis dan Berat Sampah untuk Menghitung Emisi Karbon
    In IPTEK
    Sabtu, 14 Maret 2026
  • Seorang mahout memandikan gajah di aliran sungai kawasan Konservasi Gajah Tangkahan, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Foto Soetana Hasby/Wanaloka.com.Instruksi Presiden untuk Selamatkan 21 Kantong Gajah yang Tersisa
    In News
    Sabtu, 14 Maret 2026
  • Dua perempuan menanam padi di sawah. Foto Wanaloka.com.Terdampak Perjanjian Dagang Timbal Balik Indonesia-USA, Perempuan Adat Melawan
    In Lingkungan
    Jumat, 13 Maret 2026
  • Desakan pengesahan RUU Masyarakat Adat dalam Aksi Kamisan, 5 September 2024. Foto AMAN.Hari Masyarakat Adat Nasional, Tak Ada Alasan RUU Masyarakat Adat Tak Disahkan
    In Rehat
    Jumat, 13 Maret 2026
  • Pengolahan sampah di PIAT UGM. Foto Dok. Humas UGM.Tragedi Bantargebang Akibat Pengelolaan Sampah Berorientasi pada Pembuangan
    In Lingkungan
    Kamis, 12 Maret 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media