“Jadi coronavirus dari anjing masih jauh untuk menjadi zoonosis, karena harus bermutasi atau beradaptasi ke manusia,” papar dia.
Kedua, harus ada kecocokan reseptor, tropisma sel, dan enzim protease hospes agar virus bisa menempel, masuk dan bereplikasi. Kemudian dapat diekskresikan dalam jumlah yang cukup untuk menginfeksi manusia.
“Perbedaan struktur molekul virus dan reseptor ini mengakibatkan virus dari anjing tidak mudah menginfeksi sel manusia,” kata Untari, Kamis, 19 Februari 2026.
Baca juga: Tak Ada Fase Aman Melihat Gerhana Matahari Cincin Tanpa Penapis
Lima dosen Departemen Mikrobiologi FKH UGM, termasuk Untari tengah meneliti berbagai virus dan bakteri. Penelitian yang telah dilakukan antara lain pembuatan antibodi poliklonal untuk deteksi virus Newcastle Disease (ND) dan Avian Influenza (AI), Bovine Herpes virus pada sapi, penyakit Lumpy Skin Disease (LSD) pada sapi, dan Avian Infectious Bronchitis (coronavirus pada ayam).
Untari menegaskan kebanyakan penelitiannya difokuskan pada virus hewan yang bukan zoonosis. Sebab penelitian virus zoonosis membutuhkan laboratorium khusus bersyarat ketat agar agen penyakit tidak mencemari lingkungan.
Untari pun mengimbau masyarakat agar tidak langsung percaya dan menelan mentah-mentah informasi tentang zoonosis yang seolah dapat menyebabkan pandemi seperti Covid-19. Mutasi virus dari hewan agar bisa beradaptasi ke manusia membutuhkan waktu bertahun-tahun dan seringkali memerlukan inang perantara.
“Masyarakat tidak perlu takut memelihara hewan peliharaan. Asalkan dipelihara dengan management benar, seperti menjaga kebersihan kandang, memberikan pakan yang baik, dan vaksinasi,” pesan dia. [WLC02]
Sumber: UGM






Discussion about this post