Wanaloka.com – Indonesia merupakan negara kepulauan dengan banyak kota berkembang di wilayah pesisir, termasuk kawasan pesisir di Jakarta dan Banten. Namun, karakter iklim pesisir yang khas, seperti angin laut yang relatif lebih kencang, tingkat kelembapan yang tinggi, serta dinamika angin darat dan laut, belum sepenuhnya dimanfaatkan dalam proses perancangan kota.
Menurut Mahasiswa Program Magister Rancang Kota Institut Teknologi Bandung (ITB), Kelvin Narada Gunawan, jika tanpa pendekatan desain yang tepat, maka kawasan pesisir justru dapat terasa lebih panas dan lembap. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan ketergantungan pada pendingin udara serta menurunkan kenyamanan aktivitas luar ruang, terutama bagi pejalan kaki.
Melalui pendekatan Climate Sensitive Urban Design dan simulasi mikroklimat berbasis ENVI-met, Kelvin merancang konfigurasi kawasan pusat kota pesisir yang mampu menurunkan suhu udara hingga sekitar 2 derajat Celsius. Dalam konteks iklim tropis, penurunan ini tergolong signifikan karena berpengaruh terhadap kenyamanan termal, efisiensi energi, serta kualitas ruang publik secara keseluruhan.
Pilihan kota pesisir
Kelvin menuturkan kota pesisir memiliki karakter iklim yang berbeda dibandingkan kota di wilayah daratan. Kedekatan dengan laut menghadirkan angin laut yang relatif lebih kencang, dinamika angin laut dan darat yang khas, serta tingkat kelembapan yang lebih tinggi. Karakteristik ini menghadirkan peluang untuk menciptakan lingkungan yang lebih sejuk dan hemat energi, sekaligus menjadi tantangan apabila tidak direspons melalui perancangan yang tepat.
Baca juga: Tahun 2026: Kemarau Datang Lebih Cepat, El Nino Pertengahan Tahun, Agustus Puncak Kemarau
“Jika kota pesisir salah didesain, bukannya menjadi lebih nyaman. Orang yang berjalan kaki malah bisa merasa lebih gerah karena kelembapannya lebih tinggi dibanding kota di wilayah dalam daratan. Angin yang terlalu kencang juga dapat menimbulkan perasaan ‘masuk angin’ bagi pejalan kaki,” papar Kevin yang melakukan riset untuk tesisnya yang berjudul “Design Review Kota Iklim Pesisir dengan Pendekatan Climate Sensitive Urban Design”.
Kawasan studi yang dianalisis merupakan salah satu kawasan pusat kota pesisir yang sedang berkembang di wilayah pesisir Jakarta dan Banten. Kawasan tersebut dipandang sebagai representasi kota pesisir yang tengah bertumbuh, sehingga masih memiliki ruang untuk dievaluasi dan disempurnakan melalui pendekatan ilmiah berbasis iklim mikro.
“Teman saya membuka payung di sekitar pesisir di sana dan payungnya terbang karena tertiup angin yang terlampau kencang,” kata dia.
Desain kota berbasis iklim
Dalam penelitiannya, Kelvin mengkaji bagaimana bentuk bangunan, pepohonan, badan air, material jalan, serta ruang terbuka seperti taman dapat memengaruhi suhu udara, kecepatan angin, dan kelembapan di suatu kawasan perkotaan.
Baca juga: BMKG Pantau Tiga Bibit Siklon Tropis, Waspada Cuaca Ekstrem
Melalui simulasi mikroklimat, ditemukan bahwa konfigurasi bentuk bangunan tertentu mampu menciptakan kecepatan angin yang lebih nyaman bagi manusia, sehingga kawasan tetap terasa sejuk tanpa kehilangan potensi angin lautnya. Kehadiran pepohonan, ruang terbuka seperti taman-taman kecil, serta fitur air seperti air mancur dan water misting turut berperan dalam membantu mengatur kelembapan dan temperatur kawasan.
Temuan ini menegaskan bahwa bentuk fisik kota memiliki pengaruh langsung terhadap kondisi iklim mikro perkotaan. Akhirnya menentukan tingkat kenyamanan manusia dalam beraktivitas dan tinggal di kawasan tersebut.






Discussion about this post