Senin, 29 Juni 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Dulu Penambang, Kini Berperan dalam Konservasi Kawasan Karst Gunung Sewu

Karst bukan hanya batu. Ia menyimpan air, menopang kehidupan, dan mencerminkan keseimbangan alam. Bencana banjir akhir Maret lalu harus menjadi peringatan.

Kamis, 24 April 2025
A A
Salah satu lokasi karst di KBAK Gunung Sewu, Gunungkidul, DIY yang rusak karena ditambang. Foto jogja.walhi.or.id

Salah satu lokasi karst di KBAK Gunung Sewu, Gunungkidul, DIY yang rusak karena ditambang. Foto jogja.walhi.or.id

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Wilayah karst Gunung Sewu merupakan kawasan lindung strategis nasional yang luasnya mencapai 75.000 hektare lebih. Namun, sejarah panjang aktivitas penambangan batu gamping telah meninggalkan luka ekologis yang mendalam.

“Karst merupakan kawasan yang penting, karena stok karbon dunia, bila terganggu maka berbahaya, karena nilai karbonnya lebih tinggi daripada pohon,” kata Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (LH/BPLH), Hanif Faisol Nurofiq saat melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, untuk meninjau langsung pelaksanaan pemulihan lingkungan di kawasan ekosistem karst Gunung Sewu, Sabtu, 20 April 2025.

Kunjungan ini menandai komitmen pemerintah dalam mendorong transformasi pengelolaan lahan bekas tambang menjadi ruang hidup dan ekonomi yang berpihak pada masyarakat. Salah satu titik yang dikunjungi adalah Pasar Ekologis Argo Wijil di Desa Gari, Kecamatan Wonosari yang merupakan bekas lokasi tambang aktif sejak 1976 hingga 2006 yang kini disulap menjadi pusat ekonomi desa.

Baca juga: Hari Bumi, Aksi Tanam 9.000 Pohon Matoa di Halaman Ponpes Deli Serdang

Melalui pendekatan regeneratif, Kementerian LH/ BPLH bersama pemerintah daerah dan masyarakat menghadirkan solusi pemulihan yang tak hanya berfokus pada aspek ekologis. Melainkan juga memulihkan martabat dan keberdayaan warga.

“Hari ini masyarakat Desa Gari telah mencoba mentransformasikan diri dari kegiatan yang eksploitatif terhadap batu gamping menjadi konservasi. Tidak gampang mengubah ini. Tapi saya sangat mendukung dan menghargai yang telah dilakukan masyarakat di sini dalam menjaga keseimbangan ekosistem,” tutur Hanif.

Pasar Ekologis Argo Wijil dikelola BUMDes Mardi Gemi untuk menghidupkan kembali aktivitas ekonomi warga. Pengelolaannya dengan melibatkan puluhan pedagang lokal yang sebagian besar adalah ibu rumah tangga dan mantan penambang.

Baca juga: Sebanyak 114 Rumah Rusak Berat Terdampak Pergerakan Tanah di Brebes

“Kami tidak bisa bicara soal pemulihan lingkungan kalau masyarakat yang tinggal di sekitarnya tidak diberdayakan. Kami di sini juga bukan hanya menanam pohon atau membangun embung, tetapi menanam harapan dan membangun kemandirian,” lanjut Hanif.

Selama Ramadan, Pasar Argo Wijil beroperasi setiap Minggu pagi dan sore hari sehingga menarik seribu pengunjung setiap hari. Para pedagang meraih penghasilan yang menjanjikan dengan rata-rata keuntungan mencapai 40 persen. Sementara BUMDes juga mengembangkan usaha lain, seperti layanan Internet Desa, PAMDes, dan Mitra Pangan dengan total omzet yang kini menyentuh angka Rp2 miliar per tahun.

Selain aspek ekonomi, kegiatan pemulihan juga mencakup pembangunan embung untuk memanen air hujan dan menjaga kelembapan tanah karst yang cenderung kering. Penanaman 500 pohon alpukat, 20.000 bibit nilam, dan 100 pohon flamboyan menjadi bagian dari strategi integrasi antara pertanian, konservasi, dan penguatan ekonomi desa. Beberapa mitra swasta, seperti PT Antam Tbk, PT Pertamina Gas Negara, dan PT Sido Muncul turut mendukung dengan komitmen penyerapan hasil produksi.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: Kabupaten Gunungkidulkarst Gunung Sewukawasan karst GunungidulKementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan HidupPasar Argo Wijiltambang batu gamping

Editor

Next Post
Ilustrasi penelitian tentang keanekaragaman hayati. Foto UGM.

Prodi Profesi Kurator Keanekaragaman Hayati UGM yang Pertama di Asia

Discussion about this post

TERKINI

  • Penggusuran PT BSMJ di wilayah adat Muara Tae, Kabupaten Kutai Barat untuk sawit. Foto Dok. Kaoem Telapak.Kaoem Telapak Desak Ekspansi Sawit di Wilayah Adat Muara Tae Dihentikan
    In News
    Sabtu, 27 Juni 2026
  • Bentang alam Masyarakat Adat Kasepuhan Pasir Eurih di Kecamatan Sobang, Kabupaten Lebak, Banten. Komunitas ini mempertahankan sistem zonasi tradisional sebagai dasar pengelolaan wilayah adat yang diwariskan. Foto Dok. WGII.Paradoks Penetapan Taman Nasional, Pengetahuan Hidup Masyarakat Adat Terancam Punah
    In Lingkungan
    Jumat, 26 Juni 2026
  • Laskar Talijiwo dari Pracimantoro, Wonogiri sampaikan penolakan tambang dan pabrik semen kepada Bupati Wonogiri, 25 Juni 2026. Foto Dok. Laskar Talijiwo.Temui Bupati Wonogiri, Laskar Talijiwo Sampaikan Tolak Tambang Gamping dan Pabrik Semen
    In News
    Jumat, 26 Juni 2026
  • Ilustrasi sampah organik dari sisa buah-buahan. Foto Artis Digital/pixabay.com.Temuan Ombudsman DIY, Aktivitas TPS 3R Sokowaten Tak Berizin dan Sebabkan Pencemaran
    In News
    Senin, 22 Juni 2026
  • Acara ISWBC 2026 bertema Beyond Species: Rethinking Conservation in an Era of Uncertainty, 11 Juni 2026. Foto Leoni/UGM.Pejabat Kehutanan Bicara Peran Masyarakat Adat Menjaga Biodiversitas Saat Krisis Iklim
    In News
    Sabtu, 20 Juni 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media