Sabtu, 30 Agustus 2025
wanaloka.com
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Ekspedisi Antartika, Ungkap Kayu Usia 130 Tahun dan Batuan Tertua di Bumi

Sebelum ke Antartika mesti mengikuti pelatihan insentif sebulan, seperti cara penggunaan peralatan di salju, tata cara berpakaian, pelatihan bertahan hidup di kondisi darurat, pendirian tenda, cara memasak dan buang air.

Senin, 27 Januari 2025
A A
Ekspedisi di Antartika. Foto Dok. Alumni UGM.

Ekspedisi di Antartika. Foto Dok. Alumni UGM.

Share on FacebookShare on Twitter

Baca juga: Kata Pakar Kelautan dan Pakar Hukum Agraria Soal HGB di Laut

Ia baru dihubungi kembali pada 2015 saat telah menyelesaikan program doktor. Ia mengikuti tahap seleksi berupa wawancara dan pemeriksaan kesehatan. Kemudian bergabung bersama lima orang peneliti Jepang dan dua orang lainnya dari Mongolia dan Thailand.

Menjadi peneliti di Antartika berarti harus mempersiapkan segala kemungkinan yang dapat terjadi. Nugroho pun mesti melewatinya. Selama sebulan, ia harus mengikuti pelatihan insentif seperti cara penggunaan peralatan di salju, tata cara berpakaian, pelatihan bertahan hidup di kondisi darurat, pendirian tenda, cara memasak dan buang air.

Kondisi Antartika dapat dibilang jauh berbeda daripada kondisi belahan dunia manapun. Nugroho mengenang Antartika bukan bagian dari Bumi, sebab kondisinya yang putih bersih sejauh mata memandang.

Baca juga: AMAN dan KPA Mengecam Penggusuran Rumah Masyarakat Adat di Sikka

“Saat itu, Antartika sedang musim panas sehingga matahari bersinar 24 jam setiap harinya, sedangkan suhu udara berkisar minus 5 derajat malam hari dan minus 2 derajat di siang hari,” kenang Nugroho.

Selain itu, kekosongan suara membuat suasana menjadi hening. Ia mengingat saat itu hanya ada suara ia dan timnya serta bunyi-bunyian es yang mulai mencair akibat perubahan iklim. Sesekali bertemu dengan penguin dan anjing laut Weddell.

Keseluruhan tim JARE 58 saat itu terdiri atas 80 anggota dan 35 orang di antaranya merupakan peneliti. Penelitian dibagi dalam 10 topik, antara lain meteorologi, atmosfer, biologi terestrial, oseanografi, geofisika, geodesi, dan geologi.

Baca juga: Janji Komisi IV DPR Usai Pagar Laut Dibongkar, Bentuk Pansus hingga Pastikan Proses Hukum Pelaku Utama

Proses penelitian berlangsung selama empat bulan pada 27 November 2016 hingga 22 Maret 2017.  Namun waktu penelitian hanya dapat berjalan efektif selama 30 hari. Sebab cuaca di lokasi penelitian sangat ekstrim dan sering terjadi badai angin sehingga tidak jarang tim peneliti harus menunggu cuacanya membaik.

Menyingkap batuan tertua di Bumi

Setiap hari, tim geologi menjalankan rutinitas mengumpulkan sampel batuan metamorf di setiap lokasi penelitian. Ada delapan titik survei geologi yang mereka jelajahi, yaitu Akebono, Akarui, Tenmodai, Skallevikhalsen, Rundvageshtta, Langdove, West Ogul, Mt. Riiser Larsen.

“Kami berusaha menyingkap batuan metamorf, batuan tertua di Bumi berusia 3,8 miliar tahun yang ada di Antartika. Kami mencoba merekonstruksi ulang dan mendetailkan data-data yang sudah ada sebelumnya tentang batuan-batuan metamorf yang ada di Antartika, mulai dari komposisi, usia, lalu rekonstruksi proses pembentukan batuan-batuan tersebut,” papar dia.

Baca juga: Kementerian ATR/BPN akan Batalkan Sertipikat HGB di Luar Garis Pantai

Selama ekspedisi, Nugroho hanya menjumpai dua jenis batuan di lokasi penelitian. Batuan yang banyak ditemukan adalah batuan metamorf dan granitodis maupun perpaduan keduanya, yaitu migmatit.

Batuan dengan struktur sarang lebah atau yang dikenal dengan honeycomb structure banyak ditemukan pada batuan. Struktur ini terbentuk akibat gerusan angin dengan iklim kering di permukaan batuan. Jenis batuan yang ditemukan ini mirip dengan batuan di Sri Lanka. Sebab, dahulu, Antartika dan Sri Lanka merupakan satu daratan yang sama.

Ajak Pemerintah Indonesia peduli Antartika

Keikutsertaan Gerry dan Nugroho sebagai alumni UGM menjelajah Antartika mencatatkan nama mereka dalam Sejarah. Bahwa ada tujuh orang Indonesia yang telah sampai ke Antartika. Ini menjadi prestasi tersendiri bagi UGM untuk mendunia. Keduanya menyampaikan harapan agar hal ini tidak berhenti pada mereka saja.

Baca juga: Bencana Hidrometeorologi Melanda Jawa Tengah, 20 Tewas Akibat Longsor

“Semoga kawan-kawan UGM yang lain bisa melanjutkan ke Antartika,” harap Gerry.

Ia juga berharap Pemerintah Indonesia peduli dengan Antartika yang berada di samudera yang sama dengan Indonesia. Semua pihak perlu sadar bahwa saat Antartika bermasalah, dunia, termasuk Indonesia akan secara tidak langsung terkena dampaknya. Dengan demikian, Indonesia dapat menyiapkan lembaga riset Antartika untuk secara langsung hadir dan mengkaji Antartika.

Selaras dengan Gerry, Nugroho menyebut bahwa UGM dan Indonesia mesti bergegas menyikapi isu-isu strategis, seperti geopolitik dan perubahan iklim yang erat kaitannya dengan eksistensi Antartika saat ini.

“Antartika seperti mesin waktu yang menyimpan sejarah bumi di masa lalu dan dapat menjadi informasi untuk menyikapi kemungkinan-kemungkinan masa depan. Jadi perlu bagi kita untuk menyiapkannya,” harap Nugroho. [WLC02]

Sumber: UGM

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: Departemen Teknik Geologi Fakultas Teknik UGMekspedisi di Antartikalembaga Japan Antarctic Research Expeditionmisi Russian Antarctica ExpeditionProgram Studi Geografi dan Ilmu Lingkungan Fakultas Geografi UGM

Editor

Next Post
Dampak banjir di area Trans Sulawesi, 26 Januari 2025. Foto BPBD Mamuju.

Banjir dan Tanah Longsor di Mamuju, 4 Tewas dan 6 Luka-luka

Discussion about this post

TERKINI

  • Ginseng Jawa (Talinum paniculatum). Foto Alam Sari Petra.Ginseng Jawa Lebih Aman Dikonsumsi Ketimbang Ginseng Korea
    In Rehat
    Selasa, 26 Agustus 2025
  • Gelaran Indonesia Climate Justice Summit (ICJS) 2025 hari pertama di Jakarta, 26 Agustus 2025. Foto Dok. ARUKI.ICJS 2025, Masyarakat Rentan Menuntut Keadilan Iklim
    In Lingkungan
    Selasa, 26 Agustus 2025
  • Kepala BMKG melakukan kunjungan ke UPT Stasiun Meteorologi (Stamet) Kelas I Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru, Riau, 24 Agustus 2025. Foto BMKG.Akhir Agustus 2025, Potensi Karhutla di Riau Meningkat
    In News
    Selasa, 26 Agustus 2025
  • Lalat buah. Foto CABI Digital Library/digitani.ipb.ac.id.Pengendalian Lalat Buah dengan Teknologi Nuklir, Amankah?
    In IPTEK
    Senin, 25 Agustus 2025
  • Presiden Prabowo Subianto memimpin pertemuan tertutup soal penertiban tambang ilegal di Hambalang, Bogor, 19 Agustus 2025. Foto Laily Rachev/BPMI Setpres.Alasan Prabowo Tertibkan Tambang Ilegal agar Negara Tetap Memperoleh Pendapatan
    In Lingkungan
    Senin, 25 Agustus 2025
wanaloka.com

©2025 Wanaloka Media

  • Tentang
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2025 Wanaloka Media