Sabtu, 28 Maret 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Ekspedisi Geosains, Pelajari Zona Tumbukan Dua Lempeng di Selatan Pulau Sumba

Di selatan Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur terdapat palung terdalam Samudra Hindia (sekitar 7.200 meter) dengan aktivitas tektonik yang sangat tinggi.

Minggu, 10 Agustus 2025
A A
Tim ekspedisi geosains yang berangkat ke selatan Pulau Sumba, NTT. 10 Agustus 2025. Foto BRIN.

Tim ekspedisi geosains yang berangkat ke selatan Pulau Sumba, NTT. 10 Agustus 2025. Foto BRIN.

Share on FacebookShare on Twitter

Baca juga: Empat Hotel Bintang Tiga di Puncak Disegel karena Buang Limbah ke Ciliwung

Kapal ini telah tiba di Jakarta pada 5-6 Agustus 2025 setelah berlayar dari Xiamen, Tiongkok, sejak 28 Juli 2025.

Proses akuisisi data di lokasi penelitian dijadwalkan berlangsung pada 13-25 Agustus 2025. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat diperoleh data akurat untuk model mitigasi bencana geologi dan berkontribusi pada kebijakan eksplorasi sumber daya laut yang berkelanjutan.

Harapan lainnya, terjadi transfer ilmu pengetahuan yang signifikan, juga memperkuat kapasitas SDM Indonesia di bidang kelautan. Serta, semakin erat jejaring riset internasional dan memperkuat posisi Indonesia dalam eksplorasi sumber daya laut berkelanjutan.

Baca juga: Pelepasliaran Kucing Akibatkan Overpopulasi, Zoonosis hingga Mengganggu Ekosistem

Dua peneliti ITB

Dua peneliti Institut Teknologi Bandung (ITB) ikut serta bertolak dari Pelabuhan Tanjung Priok menuju perairan selatan Pulau Sumba. Keduanya adalah Gabriella Alodia dari Kelompok Keahlian/Keilmuan (KK) Hidrografi, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) dan Alvina Kusumadewi Kuncoro dari KK Fisika Bumi dan Sistem Kompleks, Fakultas Ilmu Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA).

Gabriella berfokus pada observasi data-data pendukung seperti analisis morfologi dasar laut menggunakan multibeam echosounder, pengamatan gaya berat menggunakan marine gravimeter. Serta penentuan posisi instrumen OBS dan OBEM yang akan diletakkan di dasar Samudera Hindia pada kedalaman dua hingga enam kilometer menggunakan metode akustik.

Sementara Alvina berfokus pada pemodelan geodinamika numerik berbasis fisika dua dimensi pada area survei. Model geodinamika yang dihasilkan kemudian akan divalidasi dengan data-data observasi dari kerangka global navigation satellite system (GNSS) terdekat, profil seismik yang dihasilkan dari OBS, serta distribusi gempa setempat.

Baca juga: Dalam 40 Tahun, Satu Juta Hektare Lahan Mangrove Hilang Akibat Alih Fungsi Lahan

Pelayaran ilmiah ini akan berlangsung selama 16 hari dengan pelabuhan kedatangan kembali ke Tanjung Priok pada tanggal 26 Agustus 2025.

Penelitian gabungan ini diharapkan dapat meningkatkan kapasitas riset laut dan samudera nasional melalui kerja sama riset bersama periset mancanegara, menyediakan data dan informasi yang akurat terkait keanekaragaman hayati dan sumber daya geologi perairan Indonesia. Nantinya menjadi dasar pengambilan kebijakan untuk eksplorasi dan pemanfaatannya secara berkelanjutan. Dalam rangka menunjang prioritas nasional, serta mendidik dan melatih generasi muda sebagai periset laut dan samudera melalui hands-on experience di bawah bimbingan para peneliti dan teknisi senior.

Para peneliti Indonesia yang dibiayai melalui skema Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM) Invitasi ini turut diharapkan untuk menjaga jejaring dan terus berkolaborasi untuk memacu perkembangan ekosistem riset laut dan samudera di Indonesia. [WLC02]

Sumber: BRIN, ITB

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: bencana geologiBRINekspedisi geosainsITBPulau Sumba

Editor

Next Post
Ketua Departemen Arsitektur Lanskap IPB University, Akhmad Arifin Hadi. Dok. IPB University.

Akhmad Arifin, Solusi Permukiman di Daerah Banjir Ekstrem Harus Kembali Menjadi Hutan

Discussion about this post

TERKINI

  • Westa, aplikasi pengelolaan sampah berbasis AI. Foto Dok. FEB UGM.Aplikasi Westa, Identifikasi Jenis dan Berat Sampah untuk Menghitung Emisi Karbon
    In IPTEK
    Sabtu, 14 Maret 2026
  • Seorang mahout memandikan gajah di aliran sungai kawasan Konservasi Gajah Tangkahan, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Foto Soetana Hasby/Wanaloka.com.Instruksi Presiden untuk Selamatkan 21 Kantong Gajah yang Tersisa
    In News
    Sabtu, 14 Maret 2026
  • Dua perempuan menanam padi di sawah. Foto Wanaloka.com.Terdampak Perjanjian Dagang Timbal Balik Indonesia-USA, Perempuan Adat Melawan
    In Lingkungan
    Jumat, 13 Maret 2026
  • Desakan pengesahan RUU Masyarakat Adat dalam Aksi Kamisan, 5 September 2024. Foto AMAN.Hari Masyarakat Adat Nasional, Tak Ada Alasan RUU Masyarakat Adat Tak Disahkan
    In Rehat
    Jumat, 13 Maret 2026
  • Pengolahan sampah di PIAT UGM. Foto Dok. Humas UGM.Tragedi Bantargebang Akibat Pengelolaan Sampah Berorientasi pada Pembuangan
    In Lingkungan
    Kamis, 12 Maret 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media