Jumat, 25 September 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Pelepasliaran Kucing Akibatkan Overpopulasi, Zoonosis hingga Mengganggu Ekosistem

Jika pemilik tidak bertanggung jawab, mereka bukan membebaskan hewan peliharaannya, tetapi menciptakan masalah baru yang tak berkesudahan.

Jumat, 8 Agustus 2025
A A
Ilustrasi pelepasliaran kucing. Foto IlonaBurschl/pixabay.com.

Ilustrasi pelepasliaran kucing. Foto IlonaBurschl/pixabay.com.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Pernah merasa dilema untuk melepas kucing ke alam liar? Satu sisi, merasa tidak lagi memungkinkan untuk merawat. Di sisi lain, hati nurani menyimpan rasa bersalah untuk melepasnya.

Bertepatan dengan International Cat Day atau Hari Kucing Sedunia yang diperingati setiap 8 Agustus, praktik melepaskan kucing peliharaan ke alam liar ternyata bukan solusi yang tepat. Dosen Program Studi Paramedik Veteriner, Sekolah Vokasi IPB University, Tetty Barunawati Siagian menyebut tindakan tersebut dapat menimbulkan berbagai dampak negatif jangka panjang, baik bagi hewan, manusia, maupun lingkungan.

“Sebab melepasliarkan kucing tanpa disterilkan dan diawasi dapat menyebabkan ledakan populasi,” kata Tetty, Rabu, 6 Agustus 2025.

Baca juga: Dalam 40 Tahun, Satu Juta Hektare Lahan Mangrove Hilang Akibat Alih Fungsi Lahan

Overpopulasi kucing berpotensi menimbulkan krisis kesejahteraan hewan karena keterbatasan makanan, tempat tinggal, dan perhatian. Akibatnya, kucing menjadi kelaparan, kurus, dan sakit.

Kucing peliharaan yang dilepasliarkan juga dapat memicu konflik sosial. Kucing-kucing ini sering kali masuk ke rumah warga, buang kotoran sembarangan, dan menimbulkan suara bising saat musim kawin. Kondisi ini berpotensi mengganggu kenyamanan masyarakat dan memicu tindakan kekerasan terhadap hewan.

Dampak lain yang menjadi perhatian adalah peningkatan risiko penyakit zoonosis.

Baca juga: Deforestasi Penyebab Utama Konflik Ular Piton dengan Manusia

“Kucing liar bisa menjadi sumber pencemaran karena buang air sembarangan dan berpotensi menularkan penyakit ke manusia,” jelas dia.

Ia menyoroti pencemaran lingkungan akibat polusi bau serta gangguan terhadap satwa liar. Kucing yang hidup bebas berpotensi memangsa burung, reptil, dan serangga yang penting bagi keseimbangan ekosistem.

Selain itu, peningkatan jumlah kucing liar menimbulkan beban finansial bagi pemerintah dan komunitas pencinta hewan. Salah satunya, peningkatan biaya publik dan shelter.

Baca juga: Lahan Pertanian Ditanami Eukaliptus, Masyarakat Adat Natinggir Tergusur

Pemerintah dan komunitas harus mengeluarkan banyak dana untuk penanganan populasi kucing liar tersebut. Masalah juga tetap tidak akan selesai apabila sumber masalahnya (dilepasliarkan) tidak dihentikan.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: FK IPB UniversityHari Kucing Seduniakucingpelepasliaran kucingpenyakit zoonosisSekolah Vokasi IPB University

Editor

Next Post
KLH menyegel empat hotel bintang tiga di kawasan Puncak, Bogor, Jawa Barat, 9 Agustus 2015. Foto Dok. KLH.

Empat Hotel Bintang Tiga di Puncak Disegel karena Buang Limbah ke Ciliwung

Discussion about this post

TERKINI

  • Peoples’ Conservation Summit (PCS) 2026: Road to COP-17 CBD, Armenia, digelar sejak 1 hingga 3 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, UGM, Yogyakarta.PCS 2026 Hasilkan Deklarasi Konservasi Rakyat Indonesia
    In News
    Sabtu, 5 September 2026
  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Jaringan masyarkat sipil mendesak pemerintah menghentikan konflik agraria dan pelanggaran HAM di Desa Rakawuta, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, dan di wilayah Komunitas Adat Muara Tae, Kutai Barat, Kalimantan Timur.Hentikan Konflik Agraria dan Pelanggaran HAM di Rakawuta dan Muara Tae
    In News
    Kamis, 3 September 2026
  • Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Foto Geopix.Karhutla Borneo, 25 Juta Hektar Wilayah Habitat Orangutan Kalimantan Terbakar
    In Lingkungan
    Kamis, 3 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media