Nanoplastik juga diduga dapat masuk ke organ lain, seperti otak dan air ketuban, tetapi ukurannya harus sangat kecil. Sebab setiap makanan dan minuman yang dikonsumsi akan melalui proses pencernaan terlebih dahulu sebelum dapat diserap ke dalam darah.
Tak cukup andalkan mikroskop biasa
Terkait deteksi mikroplastik dalam tubuh manusia, Etty menegaskan pemeriksaan tidak dapat hanya mengandalkan mikroskop biasa. Sejumlah metode analisis lanjutan diperlukan untuk memastikan keberadaan partikel plastik.
Beberapa teknologi yang dapat digunakan antara lain fourier transform infrared spectroscopy (FTIR), gas chromatography-mass spectrometry (GC-MS), mikroskop elektron, serta spektroskopi mikro-Raman.
Penggunaan mikroskop saja berisiko menimbulkan kesalahan identifikasi. Partikel yang terlihat, bisa saja merupakan plankton atau senyawa lain, bukan mikroplastik.
“Saya kebetulan di Osaka, Jepang, waktu itu mengiranya mikroplastik. Ketika ditembak dengan spektroskopi mikro-Raman, ternyata itu bukan mikroplastik. Kalau hanya mikroskop saja, enggak mungkin bisa memastikan,” ungkap dia.
Spektroskopi mikro-Raman merupakan salah satu metode yang lebih akurat untuk mendeteksi partikel plastik berukuran sangat kecil, termasuk nanoplastik.
Ia pun mengingatkan pentingnya kehati-hatian dalam menyimpulkan temuan mikroplastik dalam tubuh manusia. Analisis laboratorium yang tepat menjadi kunci agar tidak terjadi kekeliruan dalam interpretasi hasil penelitian. [WLC02]
Sumber: IPB University






Discussion about this post