Sabtu, 30 Agustus 2025
wanaloka.com
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Fasilitas Pengelolaan PCBs Non Thermal Pertama, Ini Bahayanya Terkontaminasi Senyawa PCBs

Peristiwa Kanemi Yusho di Jepang pada 1968 menjadi pembelajaran penting menjaga lingkungan dan mata rantai makanan manusia dari terkontaminasi senyawa PCBs yang terdapat pada trafo dan kapasitor listrik.

Jumat, 19 Mei 2023
A A
Bahaya senyawa PCBs salah satunya pigmentasi pada manusia hingga kematian. Foto ilustrasi victoria_regen/pixabay.com.

Bahaya senyawa PCBs salah satunya pigmentasi pada manusia hingga kematian. Foto ilustrasi victoria_regen/pixabay.com.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Indonesia kini memiliki fasilitas pengelolaan senyawa Polychlorinated Biphenyls atau Bifenil Poliklorinasi (PCBs) non thermal. Ini merupakan fasilitas pertama dan satu-satunya di Tanah Air dalam pengelolaan limbah tercemar senyawa PCBs dengan metode tanpa pembakaran.

PCBs adalah senyawa yang sangat berbahaya dan beracun yang saat ini masih terdapat pada trafo dan kapasitor listrik, terutama pada minyak dielektrik (oli) yang terkandung di dalam kedua peralatan tersebut. PCBs telah terbukti menyebabkan berbagai jenis kanker [karsinogenik], kerusakan syaraf, gangguan sistem pencernaan, memicu kemandulan dan ketidakseimbangan hormon.

Dalam dosis yang tinggi, PCBs dapat menyebakan kematian dan keracunan massal seperti terjadi di Jepang pada tahun 1968 yang dikenal dengan peristiwa Kanemi Yusho, minyak beras yang diketahui terkontaminasi senyawa PCBs.

Baca Juga: Kasus Pencemaran Lingkungan, GM dan Direktur PT SIPP Terancam 10 Tahun Bui

Tercatat 15.000 penduduk di wilayah utara Kyushu Jepang, menderita pigmentasi pada kulit, peningkatan angka kematian janin, serta tercatat sebanyak 400.000 kasus kematian ternak unggas.

Sebelas tahun kemudian peristiwa terkontaminasi senyawa PCBs melanda Taiwan tengah pada 1979 dan 1980. Dilaporkan sebanyak 1.843 kasus dengan gejala penyakit yang sama dengan peristiwa Kanemi Yusho.

Kasus terkontaminasi senyawa PCBs di Taiwan ini menyerang pada kelompok usia 11 hingga 20 tahun, serta bayi yang baru dilahirkan dengan gejala hiperpigmentasi dari ibu yang terkontaminasi PCBs.

Baca Juga: Walhi: Make Mercury History Hanya Jadi Jargon Apabila Tak Sentuh Akar Masalah

Selain membahayakan bagi manusia, lingkungan yang tercemar PCBs sulit dihancurkan secara alami. Hasil penelitian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Kementerian LHK) mengungkap, adanya pencemaran PCBs di Sungai Citarum, Ciliwung dan Cisadane, yang berdampak pada puluhan jenis ikan konsumsi di sungai dan pesisir laut Indonesia, bahkan telah terdeteksi pada air susu ibu di beberapa kota di Jawa dan Sumatera.

Saat ini diperkirakan 10 persen dari minimal 1,2 juta unit trafo aktif yang dimiliki oleh industri di Tanah Air, terutama dari sektor yang membutuhkan dan mengelola energi listrik besar seperti industri pembangkitan, minyak dan gas, kimia, pulp dan kertas, besi baja, pertambangan serta manufaktur, diduga terkontaminasi PCBs dengan total potensi limbah sebesar lebih dari 800.000 ton yang sebagian besar bersumber dari kontaminasi silang PCBs, yaitu ketika trafo bersih terjangkit PCBs dari trafo lain yang terkontaminasi.

Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan Bahan Berbahaya dan Beracun (PSLB3) Rosa Vivien Ratnawati mengemukakan, Indonesia kini memiliki fasilitas pengelolaan PCBs non thermal pertama.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: Kanemi Yushokapasitor listrikKementerian LHKlimbah B3Pencemaran lingkungansenyawa PCBsterkontaminasi PCBstrafoUNIDO

Editor

Next Post
Harimau sumatera yang jadi korban jerat. Foto ppid.menlhk.go.id.

Ini Bahaya Jerat Babi di Pasaman

Discussion about this post

TERKINI

  • Ginseng Jawa (Talinum paniculatum). Foto Alam Sari Petra.Ginseng Jawa Lebih Aman Dikonsumsi Ketimbang Ginseng Korea
    In Rehat
    Selasa, 26 Agustus 2025
  • Gelaran Indonesia Climate Justice Summit (ICJS) 2025 hari pertama di Jakarta, 26 Agustus 2025. Foto Dok. ARUKI.ICJS 2025, Masyarakat Rentan Menuntut Keadilan Iklim
    In Lingkungan
    Selasa, 26 Agustus 2025
  • Kepala BMKG melakukan kunjungan ke UPT Stasiun Meteorologi (Stamet) Kelas I Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru, Riau, 24 Agustus 2025. Foto BMKG.Akhir Agustus 2025, Potensi Karhutla di Riau Meningkat
    In News
    Selasa, 26 Agustus 2025
  • Lalat buah. Foto CABI Digital Library/digitani.ipb.ac.id.Pengendalian Lalat Buah dengan Teknologi Nuklir, Amankah?
    In IPTEK
    Senin, 25 Agustus 2025
  • Presiden Prabowo Subianto memimpin pertemuan tertutup soal penertiban tambang ilegal di Hambalang, Bogor, 19 Agustus 2025. Foto Laily Rachev/BPMI Setpres.Alasan Prabowo Tertibkan Tambang Ilegal agar Negara Tetap Memperoleh Pendapatan
    In Lingkungan
    Senin, 25 Agustus 2025
wanaloka.com

©2025 Wanaloka Media

  • Tentang
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2025 Wanaloka Media